Showing posts with label Penelitian Tindakan Kelas. Show all posts
Showing posts with label Penelitian Tindakan Kelas. Show all posts

Monday, January 22, 2018

√ Beberapa Model Penelitian Tindakan Kelas (Ptk)

Sebelum membaca artikel terkait Beberapa Model Penelitian Tindakan Kelas ada baiknya jikalau mengetahui sejarahnya dan latar belakangnya.'

Baca:
Latar Belakang adanya Penelitian Tindakan Kelas

Sejarah Penelitian Tindakan Kelas

Dalam perkembangan PTK, ditemukan banyak model yang diusulkan oleh para jago yang sanggup dipakai oleh para peneliti untuk proses pelaksanaan PTK. Adapun pemilihan model PTK diubahsuaikan dengan langkah-langkah serta kompleksitas permasalahan yang harus dipecahkan oleh peneliti. Tentu saja pemilihan model yang akan dipakai juga harus diubahsuaikan dengan kemampuan peneliti baik dari segi biaya, waktu dan ketersediaan sarana prasarana. Model-model tersebut pada umumnya dikembangkan dari pemikiran Kurt Lewin.  Kurt Lewin merupakan penggerak awal penelitian tindakan.
Ada beberapa model penelitian tindakan yang hingga dikala ini sudah sering dipakai di dalam dunia pendidikan, di antaranya: (1) Model Kurt Lewin, (2) Model Kemmis dan Mc Taggart, (3) Model John Elliot, dan (4) Model Dave Ebbutt. Model-model penelitian tindakan inilah yang dipakai sebagai contoh dalam pelaksanaan PTK dengan mempertimbangkan variasi permasalahan yang dihadapi guru (pada umumnya sangat individual-artinya, antara guru yang satu dan yang lain mempunyai permasalahan yang berbeda). Model-model tersebut sanggup saja dimodifikasi oleh para guru untuk diubahsuaikan dengan permasalahan pembelajaran atau non pembelajaran yang dihadapinya.

Sumber http://www.tipsbelajarmatematika.com

Sunday, January 21, 2018

√ Model Ptk Kurt Lewin


PTK pertama kali diperkenalkan oleh Kurt Lewin pada tahun 1946 sehingga model ini dijadikan pola dasar dari munculnya banyak sekali model dari PTK yang lain.  Konsep inti PTK yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin adalah bahwa dalam satu siklus penelitian terdiri dari  serangkaian langkah yang berbentuk spiral dimana langkah-langkahnya adalah: (1) perencanaan (planning), (2) agresi atau tindakan (acting), (3) Observasi (observing), dan (4) refleksi (reflecting) (Susilo, H., Chotimah, H & Sari, Y.D., 2011:h.11). Hubungan dari empat langkah tersebut tergambar secara siklusitis menyerupai pada gambar berikut.

Gambar: Model PTK Kurt Lewin


Sumber http://www.tipsbelajarmatematika.com

√ Mekanisme Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas

Seperti telah diuraikan pada latar belakang adanya PTK, sejatinya PTK bersifat partisipatori dan kolaboratif (kolektif kolegial), yang dilakukan alasannya yaitu ada kepedulian bersama terhadap situasi pembelajaran di kelas yang perlu ditingkatkan. Guru bersama pihak-pihak lain (sejawat, siswa, kepala sekolah) mengungkapkan kepedulian akan peningkatan situasi tersebut, saling membuatkan wacana apa yang mereka pikirkan, dan tolong-menolong berusaha mencari cara untuk meningkatkan situasi pembelajaran. Guru bersama kolaborator (rekan sejawat, peneliti dari luar) memilih fokus seni administrasi untuk peningkatannya.
Singkatnya, guru dan kolaborator tolong-menolong melaksanakan acara awal, berupa; (1) penetapan fokus masalah, selanjutnya diteruskan dengan; (2) menyusun planning tindakan bersama-sama, (3) bertindak dan mengamati secara bersama-sama, (4) melaksanakan analisis dan refleksi tolong-menolong pula, dan (5) merancang tindakan lanjutan. Merancang tindakan lanjutan artinya guru tolong-menolong kolaborator merevisi tindakan siklus selanjutnya menurut info yang lebih lengkap dan lebih kritis dari siklus sebelumnya. Dengan demikian di luar penetapan fokus masalah, ada empat mekanisme pelaksanaan PTK yang sesuai model Kemmis dan Taggart. 

Kelima  langkah dalam mekanisme tersebut sanggup dibaca pada posting-posting berikut:

(1) Penetapan fokus masalah
 
(2) Menyusun rencanatindakan bersama-sama 

(3) bertindak dan mengamati secara bersama-sama 

(4) melakukan analisis dan refleksi tolong-menolong pula

(5) merancang tindakan lanjutan

Sumber http://www.tipsbelajarmatematika.com

Friday, January 19, 2018

√ Model Ptk Lewin Tafsiran Kemmis Dan Mc. Taggart

Model PTK Lewin Tafsiran Kemmis dan Mc. Taggart - Model Kurt Lewin dikembangkan lagi oleh Stephen Kemmis dan Robbin Mc. Taggart, dalam satu siklus tetap terdiri atas empat komponen, ialah perencanaan (planning), agresi atau tindakan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting). Berdasarkan tafsiran Kemmis dan Mc. Taggart, penelitian tidak berhenti dalam satu siklus, tetapi sehabis satu siklus tamat diimplementasikan, khususnya sehabis ada refleksi, lalu diikuti dengan perencanaan ulang/revisi terhadap implementasi selanjutnya. Berdasar perencanaan ualng tersebut dilaksanakan dalam bentuk siklus tersendiri. 
 
Demikian juga selanjutnya, satu siklus diikuti dengan siklus berikutnya, sehingga PTK sanggup dilakukan dengan beberapa siklus. Gambaran pelaksanaan setiap siklus yaitu:

  1. Sebelum melaksanakan tindakan, terlebih dahulu peneliti harus merencanakan secara secama jenis tindakan yang akan dilaksanakan menurut duduk perkara yang ditemukan atau dirasakan.
  2. Setelah planning disusun secara matang, barulah tindakan atau agresi itu dilakukan.
  3. Bersamaan dengan dilaksanakannya tindakan, peneliti mengobservasi proses pelaksanaan tindakan itu sendiri dan akhir yang ditimbulkannya.
  4. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, peneliti lalu melaksanakan refleksi atas tindakan yang telah dilaksanakan. Jika hasil refleksi menunjukkan perlunya dilakukan perbaikan atas tindakan yang dilakukan, maka planning tindakan perlu disempurnakan lagi supaya tindakan yang dilaksanakan berikutnya tidak sekedar mengulang apa yang telah diperbuat sebelumnya.
  5. Demikian seterusnya hingga duduk perkara yang diteliti sanggup dipecahkan secara optimal.

Sumber http://www.tipsbelajarmatematika.com

Thursday, January 18, 2018

√ Penetapan Fokus Atau Dilema Penelitian


Penetapan Fokus atau Masalah Penelitian. Tahapan pertama dalam cuilan penetapan fokus Penelitian Tindakan Kelas ialah tahapan mencicipi adanya duduk kasus dalam pembelajaran. Masalah merupakan kesenjangan antara impian dan kenyataan. Dengan kalimat yang lebih sederhana sanggup dijelaskan bahwa duduk kasus merupakan keadaan atau situasi yang menurut kriteria tertentu tidak memuaskan pikiran dan perasaan yang mendorong seseorang untuk mencari solusi. Kepuasan yang dimaksudkan tentu saja bekerjasama dengan besar kecilnya kesenjangan yang terjadi antara impian dan kenyataan. Masalah dalam pendidikan contohnya impian wacana kondisi pembelajaran yang berkualitas namun tidak tercapai.

Contoh:

Harapan guru ialah siswa tuntas dalam mencar ilmu matematika. Seorang siswa dikatakan tuntas mencar ilmu apabila siswa tersebut contohnya memperoleh nilai tes minimal sebesar 75. Kenyataannya, dalam sebuah tes siswa tersebut memperoleh nilai 45. Jarak yang terlalu jauh antara nilai yang diperoleh siswa dengan impian guru menyerupai ini merupakan sebuah duduk kasus yang harus dipecahkan atau dicari jalan keluarnya.



Masalah lain misalnya, semua guru menginginkan siswa aktif dalam proses pembelajaran matematika yang ditandai dengan aneka macam acara dengan indikator contohnya aktif bertanya, mendengarkan klarifikasi guru, berdiskusi dan menuntaskan soal dengan teman, dll; namun kenyataannya tidak demikian. Kenyataan ini merupakan sebuah duduk kasus yang harus segera diselesaikan.



Sebelum ada duduk kasus yang ditetapkan atau untuk sanggup menemukan adanya masalah, maka perlu ditumbuhkan perilaku dan keberanian guru untuk secara sungguh-sungguh mempertanyakan kualitas pembelajaran yang telah dilakukan (refleksi), menyerupai yang dinyatakan oleh Sagor (2000:p.4) bahwa:” The action research process begins with serious reflection directed toward identifying a topic or topics worthy of a busy teacher’s time. Hal ini berarti, guru harus jujur dengan diri sendiri terhadap praktik pembelajaran yang telah dilakukannya. Sikap jujur sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan keinginan untuk memperbaiki diri. Dalam melaksanakan refleksi yang terus menerus terhadap praktik pembelajaran, guru sanggup menciptakan peta permasalahan.



Beberapa seni administrasi sanggup dilakukan guru dalam memutuskan fokus atau duduk kasus penelitian yang akan diselesaikan melalui PTK, yaitu: (1) menggunkana jurnal refleksi atau catatan harian atas praktik pembelajaran yang telah dilakukan ; (2) wawancara dengan pihak-pihak yang bekerjasama dengan duduk kasus contohnya rekan guru, siswa, supervisior atau pengawas dan lain-lain; dan (3) analisis hasil penelitian contohnya studi kasus terkait dengan duduk kasus yang dirasakan.



Dalam upaya mencicipi adanya masalah, dibutuhkan pertanyaan pertanyaan yang perlu dijawab sendiri oleh guru secara jujur. Pertanyaan-pertanyaan tersebut berkhasiat bagi refleksi diri para guru. Pertanyaan-pertanyaan penuntun guru untuk mencicipi adanya duduk kasus terkait dengan penggunaan metode pembelajaran tertentu, misalnya:

  1. Apakah kualitas siswa yang mengikuti pelajaran dengan metode yang dilakukan selama ini cukup baik ?
  2. Apakah proses pembelajaran yang dilakukan sudah cukup efektif ?
  3. Apakah sarana pembelajaran cukup memadai ?
  4. Apakah hasil pembelajaran cukup berkualitas ?
  5. dan sebagainya.

Pertanyaan-pertanyaan lainnya yang bekerjasama dengan duduk kasus rendahnya kemampuan penerima didik misalnya:

  1. Apakah saya terlalu cepat atau terburu-buru menjelaskan konsep A kepada siswa ?
  2. Apakah saya sudah memperlihatkan pola konsep A dan bukan pola konsep A secara memadai ?
  3. Apakah selama ini, saya selalu memperlihatkan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan materi yang belum mereka pahami ?
  4. Apakah saya sudah memberi banyak latihan soal kepada siswa, mengoreksi dan mengomentari hasil kerja mereka ?
  5. Apakah mungkin bahasa yang saya pakai dalam pembelajaran terlalu sulit untuk dicerna para siswa saya ?
  6. dan sebagainya...



Setelah mencicipi adanya masalah, tahapan selanjutnya ialah mengidentifikasi masalah-masalah dalam pembelajaran yang sangat merisaukan hati guru. Pada tahap ini yang paling penting ialah menghasilkan gagasan-gagasan awal mengenai permasalahan kasatmata yang dialami dalam pembelajaran. Tahap ini disebut dengan tahapan mengidentifikasi permasalahan.



Mengidentifikasi duduk kasus yang dihadapi dalam pembelajaran berarti mentabulasi secara rinci setiap duduk kasus yang muncul dalam kegiatan pembelajaran (Prayitno & Sri Wulandiri, 2010:h.12). Mengidentifikasi duduk kasus yang dihadapi perlu dilakukan secara kolaboratif bersama kolega guru atau kolaborator lain yang sedang melaksanakan PTK, biar diperoleh duduk kasus yang benar-benar krusial dalam pembelajaran. Masalah yang dicermati sanggup berasal dari siswa, guru, media maupun lingkungan.



Contoh identifikasi duduk kasus dalam pembelajaran matematika sekolah dasar misalnya:

  1. siswa tidak menguasai pembagian yang kesannya merupakan bilangan pecahan
  2. siswa tidak aktif dalam mengikuti pembelajaran
  3. daya ingat siswa rendah
  4. siswa cenderung santai dalam mendapatkan pelajaran
  5. siswa kurang teliti dalam menuntaskan soal
  6. siswa mengalami kesulitan dalam melaksanakan pembagian dari bilangan tertentu
  7. siswa hanya menebak dalam mengubah pecahan biasa menjadi persen
  8. siswa kesulitan mengalikan pecahan dengan suatu bilangan tertentu
  9. guru banyak mendominasi kegiatan dalam pembelajaran

Berbagai duduk kasus yang dicontohkan di atas tentu saja disebabkan oleh banyak hal. Masalah yang terjadi pada siswa tersebut muncul dimungkinkan karena:

  1. siswa belum menguasai pengetahuan prasyarat untuk mempelajari materi mengubah pecahan biasa menjadi persen,
  2. siswa belum menguasai mekanisme mengubah pecahan biasa menjadi persen,
  3. siswa kurang konsentrasi dalam belajar,
  4. guru mendominasi dalam pembelajaran yaitu aktif menjelaskan sementara siswa hanya pasif mendengarkan dan melaksanakan perintah guru.



Setelah memperoleh sederet permasalahan melalui proses identifikasi, maka dilanjutkan dengan analisis duduk kasus untuk memilih urgensinya. Analisis terhadap duduk kasus juga dimaksudkan untuk mengetahui proses tindak lanjut perbaikan atau solusi yang akan diambil. Analisis duduk kasus dilakukan dengan cara mengklasifikasi kecenderungan duduk kasus tersebut ditinjau dari aneka macam perspektif. Prayitno dan Wulandari (2010:h.13) menyatakan bahwa perspektif yang umum dipakai dalam analisa pembelajaran ialah metode pembelajaran, materi pembelajaran, atau media pembelajaran.



Setelah mengidentifikasi masalah, guru sanggup menganalisis duduk kasus tersebut dan merencanakan tindakan yang dilakukan, contohnya menurut duduk kasus yang diidentifikasi pada pola di atas, guru akan mempertimbangkan aneka macam kemungkinan penyelesaian misalnya: Apakah guru telah menerapkan PAKEM? Apakah guru dalam pembelajaran telah memakai salah satu tipe kooperatif? Apakah guru pernah menerapkan Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik ? Apakah guru telah memanfaatkan media dalam pembelajaran matematika menyerupai alat peraga?



Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, contohnya diperoleh kecenderungan bahwa duduk kasus tersebut muncul lantaran seni administrasi pembelajaran yang dipakai tidak berpusat pada siswa. Kesimpulan yang sanggup dimunculkan ialah perlu melaksanakan penemuan dalam model pembelajaran, contohnya memakai Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik dan penggunaan alat peraga Fraction Circle atau alat peraga yang lain.



Akhirnya, masalah-masalah yang sanggup diidentifikasi dan ditetapkan dirumuskan secara jelas, spesifik dan operasional. Perumusan duduk kasus yang terang akan memungkinkan peluang untuk pemilihan tindakan yang tepat. Berbeda dengan duduk kasus dan identifikasi duduk kasus yang berbetuk pernyataan, rumusan duduk kasus dalam penelitian tindakan berbentuk pertanyaan yang akan terjawab sehabis tindakan selesai dilakukan. Rumusan duduk kasus selalu dinyatakan dalam bentuk kalimat tanya.



Hal-hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan duduk kasus penelitian tindakan kelas antara lain:

  1. masalah hendaknya dirumuskan secara jelas, memperlihatkan secara terang subjek dan/atau lokasi penelitian
  2. perumusan duduk kasus harus spesifik dan tidak memiliki makna ganda
  3. rumusan duduk kasus bersifat opersional memperlihatkan relasi dua variabel yaitu relasi antara duduk kasus dengan alternatif tindakan.
  4. rumusan duduk kasus hendaknya sanggup diuji


Contoh rumusan duduk kasus penelitian tindakan kelas contohnya sebagai berikut:

  1. Apakah tindakan yang dipakai (teknik, metode, strategi, media, dll) sanggup meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas?
  2. Kalau ya, Bagaimana peningkatan kualitas pembelajaran tersebut terjadi dengan memakai teknik, metode, seni administrasi tersebut?
  3. Apakah ada perubahan atau modifikasi mekanisme dari teknik, metode, atau seni administrasi yang dipakai sebagai tindakan?
  4. Adakah perubahan kearah lebih baik dari praktik-praktik sebelumnya?
  5. Apakah guru peneliti mencicipi peningkatan kesadaran, pengetahuan, atau keterampilan diri atau perubahan perilaku dalam mengatasi dan menghadapi permasalahan kelasnya?

Permasalahan pertama harus diupayakan terpecahkan melalui tindakan atau penggunaan metode tertentu. Permasalahan kedua ialah diskusi wacana mekanisme yang telah dilalui, proses, dan perkembangan individu kelas yang bermasalah dan dampaknya pada kualitas pembelajaran. Dengan memakai analisis melalui teori yang luas maka menimbulkan penelitian tindakan kelas ini bisa menemukan teori menurut pengalaman praktik. Permasalahan ketiga merupakan analisis kritis apakah tindakan yang dipakai pada konteks yang berbeda ini mengalami modifikasi biar efektif untuk konteks tersebut? Permasalahan keempat ialah terkait dengan praktik-praktik apa yang berubah ke arah yang lebih baik. Permasalahan kelima ialah refleksi guru sebagai peneliti terhadap perolehan kesadaran, pengetahuan dan keterampilan gres (practice based-knowledges) sebagai representasi dari visi penelitian tindakan yang memberdayakan (empowering) partisipan.



Berdasarkan kecenderungan duduk kasus pada pola sebelumnya maka rumusan duduk kasus penelitian adalah:

  1. Apakah pembelajaran dengan Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik sanggup meningkatkan keaktifan siswa dalam mempelajari materi mengubah pecahan biasa menjadi persen di kelas V SD (rumusan duduk kasus utama)?
  2. (kalau ya) Bagaimana peningkatan keaktifan siswa tersebut sanggup terjadi dengan memakai Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik?
  3. Apakah ada perubahan terkait keaktifan siswa dibandingkan dengan pembelajaran guru sebelumnya yang tidak memakai Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik ?
  4. Apakah guru peneliti mencicipi peningkatan kesadaran, pengetahuan, atau keterampilan diri atau perubahan perilaku dalam mengatasi dan menghadapi permasalahan rendahnya keaktifan siswa dalam mempelajari pecahan?

Perumusan duduk kasus utama di atas cukup jelas, tidak mengandung kalimat tidak bermakna, memuat dua variabel kunci yaitu pembelajaran dengan Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik dan keaktifan siswa dalam mempelajari bilangan pecahan. Keaktifan siswa meningkat atau tidak sanggup diuji dengan memakai lembar pengamatan.



Pada perumusan duduk kasus utama di atas (1), dijawab dengan proses perencanaan, pelaksanaan tindakan dan refleksi dan seterusnya hingga siklus dimana indikator keberhasilan tindakan sanggup tercapai. Rumusan duduk kasus lainnya biasanya dijawab memakai analisis mendalam (pembahasan) terkait dengan peningkatan yang telah terjadi.




Sumber http://www.tipsbelajarmatematika.com

Wednesday, January 17, 2018

√ Menyusun Rencana Tindakan Dalam Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian Tindakan Kelas merupakan tindakan pembelajaran kelas yang akan dilakukan, dan dari segi definisi harus berorientasi ke depan dan harus memperhitungkan peristiwa-peristiwa tak terduga, sehingga mengandung sedikit resiko. Oleh karenanya, planning mesti cukup fleksibel supaya sanggup diadaptasikan dengan efek yang tak sanggup terduga dan hambatan yang sebelumnya tidak terlihat. Tindakan yang telah direncanakan harus disampaikan dengan dua pengertian. Pertama, tindakan kelas mempertimbangkan resiko yang ada dalam perubahan dinamika yang terjadi di kelas dan mengakui adanya hambatan nyata, baik yang bersifat material maupun non-meterial di kelas. Kedua, tindakan-tindakan pilih sebab memungkinkan para guru untuk bertindak secara lebih efektif dalam tahapan-tahapan pembelajaran, secara lebih bijaksana dalam memperlakukan siswa, dan cermat dalam mengamati kebutuhan dan perkembangan berguru siswa. 
Pada prinsipnya, tindakan yang guru rencanakan hendaknya; 1) membantu guru sendiri dalam a) mengatasi hambatan pembelajaran kelas, b) bertindak secara lebih sempurna guna di kelas, dan c) meningkatkan keberhasilan pembelajaran kelas; dan 2) membantu guru menyadari potensi gres untuk melaksanakan tindakan guna meningkatkan kualitas kerja. Dalam proses perencanaan, guru harus berkolaborasi dengan sejawat melalui diskusi untuk berbagi bahasa yang akan digunakan dalam menganalisis dan meningkatkan pemahaman dan tindakan di kelas.
Rencana PTK hendaknya disusun menurut hasil pengamatan awal refleksif terhadap pembelajaran di kelas. Misalnya, seorang guru matematika akan melaksanakan pengamatan terhadap situasi pembelajaran matematika di kelas dalam konteks situasi sekolah secara umum dan mendeskripsikan hasil pengamatan. Untuk memperkuat hasil penguatan sanggup dilakukan wawancara (jika perlu). Dari sini akan mendapat citra umum wacana persoalan yang ada. Lalu guru meminta sejawat sebagai kolaborator untuk melaksanakan pengamatan terhadap proses pembelajaran yang diselenggarakan guru di kelas. Selama mengamati, kolaborator memusatkan perhatiannya pada sikap guru sebagai guru dalam upaya membantu siswa berguru matematika, dan sikap siswa selama proses pembelajaran berlangsung, serta suasana pembelajarannya. Misalnya, hal-hal yang  dicatat meliputi: 

a.       Bagaimana guru melibatkan siswanya dari awal (ketika membuka pelajaran).
b.      Bagaimana guru membantu siswanya, misalnya; 1) memahami isi materi, 2) membantu murid-muridnya yang mengalami kesulitan atau yang pasif.
c.       Bagaimana guru mengelola kelas, adalah dalam mengatur daerah duduk, mengontrol penerangan, mengatur suaranya, mengatur pinjaman giliran, mengatur kegiatan.
d.      Bagaimana guru berpakaian.
e.       Bagaimana murid menanggapi upaya-upaya guru.
f.       Sejauh mana murid aktif dalam proses pembelajaran.
g.      Hal-hal lain yang secara teoritis perlu dicatat.
h.      Suasana kelas.

Hasil pengamatan awal terhadap proses tersebut dituangkan dalam bentuk catatan-catatan lapangan lengkap (cuplikannya sanggup disajikan dalam laporan dalam bentuk sketsa), yang menggambarkan dengan terperinci cuplikan/episode proses pembelajaran dalam situasi nyata. Kemudian, guru bersama kolaborator menyidik catatan-catatan lapangan sebagai data awal secara cermat untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang ada dan aspek-aspek apa yang perlu ditingkatkan untuk memecahkan persoalan praktis. 
Berdasar hasil akad terhadap pencermatan data awal, dan dipadukan dengan ketersediaan sumber daya, baik insan maupun non-manusia, guru bersama kolaborator selanjutnya menyusun planning tindakan, sebagai penuntun pelaksanaan tindakan. Rencana tindakan perlu dilengkapi dengan pernyataan wacana indikator-indikator peningkatan yang akan dicapai atau menjadi tujuan penelitian. Misalnya, indikator untuk peningkatan keterlibatan siswa bertanya, keaktifan dalam belajar, kemandirian belajar, motivasi berguru atau sanggup pula berupa hasil berguru diukur sedemikian rupa sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM).
Kebersamaan guru dan kolaborator dalam mengumpulkan data awal, kemudian mencermatinya untuk mengidentikasi masalah-masalah yang ada dan memilih tindakan untuk mengatasinya, serta menyusun planning tindakan harus memenuhi tuntutan validitas demokratik.

Sumber http://www.tipsbelajarmatematika.com

Tuesday, January 16, 2018

√ Melakukan Tindakan Dan Observasi


Tindakan hendaknya dituntun oleh planning yang telah dibuat, tetapi perlu diingat bahwa  tindakan itu tidak secara mutlak dikendalikan oleh rencana, mengingat dinamikan proses pembelajaran di kelas yang menuntut penyesuaian. Oleh alasannya yakni itu, guru peneliti perlu bersikap fleksibel dan siap mengubah planning tindakan sesuai dengan keadaan yang ada. Semua perubahan/penyesuaian yang terjadi perlu dicatat alasannya yakni kelak harus dilaporkan.
Pelaksanaan planning tindakan mempunyai abjad usaha materiil, sosial, dan politis ke arah perbaikan. Mungkin perundingan dan kompromi diperlukan, tetapi kompromi harus juga dilihat dalam konteks strateginya. Perubahan hasil tindakan kemungkinan belum cukup berarti, tetapi cukup untuk mendasari tindakan berikutnya hingga indikator yang ditetapkan tercapai.
Observasi tindakan di kelas dilakukan ketika pembelajaran tindakan dilakukan. Observasi berfungsi untuk mendokumentasikan dampak tindakan bersama prosesnya. Observasi itu berorientasi ke depan, tetapi memperlihatkan dasar bagi usaha refleksi sekarang, lebih-lebih lagi ketika putaran atau siklus terkait masih berlangsung. Perlu dijaga supaya observasi:
1.      Direncanakan agar; a) ada dokumen  sebagai dasar refleksi berikutnya dan b) fleksibel dan terbuka untuk mencatat hal-hal yang tak terduga;
2.      Dilakukan secara cermat alasannya yakni tindakan Anda di kelas selalu akan dibatasi oleh hambatan realitas kelas yang dinamis, diwarnai dengan hal-hal tak terduga;
3.      Bersifat responsif, terbuka pandangan dan pikirannya.
Apa yang diamati dalam PTK ? a) sikap guru dalam proses pembelajaran tindakan; b) sikap siswa dalam pembelajaran tindakan; c) suasana kelas dalam proses pembelajaran tindakan; d) proses tindakannya, e) dampak tindakan  (yang disengaja dan tak sengaja), f) keadaan dan hambatan tindakan, g) bagaimana keadaan dan hambatan tersebut menghambat atau mempermudah tindakan yang telah direncanakan dan pengaruhnya, dan h) problem lain yang timbul.   


Sumber http://www.tipsbelajarmatematika.com

√ Tahapan Tahapan Yang Penting Dalam Menganalisis Data Hasil Penelitian Tindakan Kelas

Tahapan Tahapan yang Penting dalam Menganalisis Data Hasil Penelitian Tindakan Kelas - Data yang diperoleh dalam PTK, secara umum dianalisis melalui deskriptif kualitaif. Analisis data dilakukan pada tiap data yang dikumpulkan, baik data kuantitatif maupun data kualitatif. Data kuantuitatf dianalisis dengan memakai cara kuantitaif sederhana, yakni dengan persentase (%) dan data kualitatif dianalisis dengan membuat evaluasi kualitatif (kategori). Menurut Hopkins (1993), dalam menganalisis data PTK diharapkan beberapa tahapan, yaitu  kategori data, validasi data,  interpretasi data, dan planning tindakan selanjutnya.
1.      Kategori data
Data yang diperoleh dikelompok menurut sub fokus yang diteliti. Kategori data dilakukan terhadap (1) konteks, (2) difinisi situasi, (3) perspektif, (4) cara berpikir subjek, (5) proses peristiwa, (6) kegiatan, (7) kejadian, (8) strategi, (9) relasi dan struktur sosial, dan (10) info yang berkait dengan fokus penelitian.
2.      Validasi data
Data yang diperoleh biar objektif, valid, dan reliabel maka dilakukan teknik triangulasi, yaitu dengan melaksanakan beberapa tindakan sebagai berikut :
                 a)      Menggunakan metode yang bervariasi  untuk memperoleh data yang sama, contohnya untuk menilai hasil berguru dengan tes tertulis dan wawancara;
                b)      Menggali data yang sama dari sumber yang berbeda, misal dalam PTK ada 4 sumber yaitu peneliti, guru, kepala sekolah, dan siswa;
                 c)      Melakukan pengecekan ulang dari data yang telah terkumpul untuk kelengkapannya;
                d)      Melakukan pengolahan dan analisis ulang dari data yang terkumpul; dan
                 e)      Mempertimbangkan pendapat ahli, contohnya dalam PTK yang menjadi tenaga andal ialah kepala sekolah.
3.      Interpretasi data
Data yang telah disusun diinterpretasikan menurut pada teori-teori atau aturan-aturan  yang telah disepakati atau sanggup pula berdasar pada intuisi peneliti dan guru untuk membuat pembelajaran yang aman sebagai contoh dalam melaksanakan tindakan selanjutnya.
4.      Rencana tindakan selanjutnya
Hasil interpretasi data dipakai untuk informasi dalam menyusun planning tindakan selanjutnya.
Selain dari Hopkins, analisis data kualitatif sanggup dilakukan melalui model interaktif dari Milles, M.B. & Huberman, A.M.(1984), yaitu melalui tiga tahap; reduksi data, paparan data, dan penarikan kesimpulan.
a.    Reduksi data
Reduksi data merupakan suatu proses menyeleksi data, memilih fokus data, menyederhanakan, meringkas, dan mengubah bentuk data ’mentah’ yang ada dalam catatan lapangan. Dalam proses ini dilakukan penajaman, pemilahan, pemfokusan, penyisihan data yang kurang bermakna, dan menatanya sedemikian rupa sehingga kesimpulan final sanggup ditarik dan diverifikasi. Misalnya, data perihal proses pembelajaran kelas Matematika sanggup direduksi dengan menfokuskan perhatian pada apa yang dilakukan guru pada permulaan kelas (membuka pelajaran), pada bab utama pembelajaran, dan pada final pelajaran (menutup pelajaran). Pada bab utama pembelajaran sanggup direduksi dengan menfokuskan perhatian pada apakah ada tindakan guru yang berkenaan, misalnya, dengan (a) upaya membantu dan/atau memfasilitasi siswa dalam memahami penyelesaian matematika, (b) upaya membantu dan/atau memfasilitasi siswa dalam memahami penyelesaian Matematika dengan aneka macam cara (c) upaya membantu dan/atau memfasilitasi siswa dalam memakai penyelesaian Matematika untuk menuntaskan duduk kasus yang timbul di kehidupan sehari-hari, (d) upaya memotivasi siswa atau meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dengan memuji siswa yang telah menunjukkan upaya keras atau kinerja anggun dalam berguru Matematika dan mendorong siswa yang kehilangan semangat atau percaya diri untuk tetap berupaya, dan (e) upaya membantu siswa untuk meningkatkan pengetahuan Matematika serta (f) upaya membantu siswa untuk meningkatkan wawasan perihal Matematika.
 Hal lain yang perlu diperhatikan ialah bagaimana guru mengelola kelas, sanggup berkenaan dengan volume suara, pandangan mata, gerakan fisiknya, pengaturan daerah duduk, dan pengelompokan siswa. Dengan mereduksi data perihal proses pembelajaran Matematika yang demikian, akan sanggup ditarik kesimpulan apakah guru menekankan pada pengembangan keterampilan berpikir kritis atau hanya mengajarkan konsep-konsep teoritis saja. Juga sanggup disimpulkan apakah proses pembelajaran telah dikelola sedemikian rupa sehingga cukup aman bagi terjadinya pembelajaran yang menyenangkan dan cukup efektif.
b.    Paparan data,
Setelah direduksi data siap dipaparkan. Berbagai macam data penelitian tindakan yang telah direduksi perlu dipaparkan dengan tertata rapi dalam bentuk narasi plus matriks, grafik, dan/atau diagram. Pemaparan data yang sistematik, interaktif, dan inventif serta mantap akan memudahkan pemahaman terhadap apa yang telah terjadi sehingga memudahkan penarikan kesimpulan atau memilih tindakan yang akan dilakukan selanjutnya.
Seperti layaknya yang terjadi dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan sepanjang proses pelaksanaan tindakan penelitian. Penarikan kesimpulan perihal peningkatan atau perubahan yang terjadi dilakukan secara sedikit demi sedikit mulai dari kesimpulan sementara, yang ditarik pada final Siklus I, ke kesimpulan terevisi pada final Siklus II dan seterusnya, dan kesimpulan terakhir pada final Siklus terakhir.
c.    Penarikan kesimpulan.
Pada siklus yang pertama hingga dengan yang terakhir, acara yang dilakukan dalam penelitian saling terkait. Kesimpulan pertama akan dijadikan pijakan bagi perencanaan siklus selanjutnya (apabila belum selesai). Perlu dicatat bahwa data yang dikumpulkan tidak hanya terbatas pada data perihal perubahan yang diharapkan, melainkan juga meliputi data perihal peningkatan/perubahan yang tak diharapkan (di luar rencana). Maka, kesimpulan yang ditarik juga harus meliputi perubahan yang direncanakan/diharapkan dan yang tidak diharapkan sebelumnya. Misalnya, peningkatan/perubahan yang diharapkan ialah (a) peningkatan keterlibatan siswa dalam pembelajaran Matematika, (b) peningkatan pemahaman guru peneliti terhadap hakikat proses pembelajaran Matematika, dan (c) peningkatan suasana pembelajaran dari suasana membosankan menjadi mengasyikkan dan menyenangkan.
Namun, ternyata guru peneliti juga menjadi sadar atas kekurangannya dalam hal pembelajaran Matematika, dan kepala sekolah terkait juga mengalami perubahan sikap, yaitu dari perilaku berpihak pada kelas yang diam/sunyi ke perilaku yang menghargai kelas yang agak bising penuh bunyi siswa berdiskusi perihal materi pelajaran. Kesimpulan yang dibentuk hendaknya meliputi semua perubahan/peningkatan pada diri peneliti dan kolaborator penelitian serta situasi daerah penelitian dilakukan.

Silahkan d0wnl0ad buku Panduan Penyusunan Laporan PTK

Sumber http://www.tipsbelajarmatematika.com

Monday, January 8, 2018

√ Pengembangan Instrumen Penelitian Tindakan Kelas

Pengembangan Instrumen Penelitian Tindakan Kelas. Keberadaan Instrumen dalam penelitian tindakan kelas mempunyai fungsi yang sangat strategis. Dikatakan demikian  karena instrumen merupakan alat yang digunakan untuk mengukur keberhasilan tindakan dan atau digunakan untuk mengumpulkan data-data yang dibutuhkan dalam penelitian.  Pemilihan instrumen yang akan digunakan harus diubahsuaikan dengan mekanisme dan langkah-langkah PTK.

 Baca : Prosedur Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas

Selain itu, pemilihan instrumen juga harus diubahsuaikan aspek apa saja yang mau dicapai ketika seorang guru mau melaksanakan PTK.  Instrumen untuk mengukur berhasil tidaknya sebuah tindakan sanggup dibedakan menjadi instrumen yang bekerjasama dengan proses dan yang bekerjasama dengan hal yang diamati. 

 Instrumen ditinjau dari Sisi Proses 

Dari sisi proses, instrumen dijelaskan melalui kerangka berpikir peneliti melaksanakan PTK. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam menciptakan kerangka pikir terdapat komponen komponen yaitu kondisi awal, tindakan dan kondisi akhir. Oleh karenanya, Instrumen ditinjau dari proses dalam PTK harus sanggup menjangkau masalah yang berkaitan dengan input (kondisi awal), proses (saat berlangsungnya tindakan), dan output (hasil/kondisi tamat yang diharapkan). 

 a.  Instrumen input



Instrumen untuk input sanggup dikembangkan dari hal-hal yang menjadi pangkal masalah beserta pendukungnya. Misalnya; pangkal masalah yaitu hal tertentu contohnya prestasi berguru dari siswa yang dianggap kurang. Maka tes awal sanggup menjadi instrumen yang paling tepat. Disamping itu mungkin dibutuhkan pula instrumen pendukung yang mengarah pada pemberdayaan tindakan yang akan dilakukan, misalnya; format peta kelas dalam kondisi awal, buku teks dalam kondisi awal, dan seterusnya. 

b.  Instrumen untuk proses

Instrumen yang digunakan pada ketika proses berlangsung berkaitan erat dengan tindakan yang dipilih. Dalam tahap ini banyak format yang sanggup digunakan. Akan tetapi format yang digunakan hendaknya yang sesuai dengan tindakan yang dipilih. 

Sebagai pola jika tindakan yang dipilih merupakan pendekatan pendidikan matematika relaistik maka instrumen dibentuk berdasarkan langkah langkah pelaksanaan pembelajaran matematika realistik.

c.   Instrumen untuk output

Instrumen untuk output berkaitan erat dengan penilaian pencapaian hasil berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Misalnya; nilai 75 ditetapkan sebagai ambang batas peningkatan (pada ketika dilaksanakan tes bekal awal, nilai siswa berkisar pada angka 50), maka pencapaian hasil yang belum hingga pada angka 75 perlu untuk dilakukan tindakan lagi (ada siklus berikutnya).


Instrumen Ditinjau dari Sisi yang Diamati 



Selain dari sisi proses (bagan alir), instrumen sanggup pula dipahami dari sisi hal yang diamati. Dari sisi hal yang diamati, instrumen berdasarkan Reed & Bergerman (1992) dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu: instrumen untuk mengamati guru (observing teachers), instrumen untuk mengamati kelas (observing classroom), dan insrumen untuk mengamati sikap siswa (observing students).

a. Pengamatan terhadap sikap guru  (observing teachers)

Pengamatan merupakan alat yang terbukti efektif untuk mempelajari ihwal metode dan taktik yang diimplementasikan di kelas, misalnya; ihwal organisasi kelas, respon siswa terhadap lingkungan kelas, dan sebagainya. Salah satu bentuk instrument pengamatan yaitu catatan anekdotal  (anecdotal record).
Catatan anekdotal  memfokuskan pada hal-hal spesifik yang terjadi di dalam kelas atau catatan ihwal acara berguru siswa dalam pembelajaran. Catatan anekdotal mencatat insiden didalam kelas secara informal dalam bentuk naratif. Sejauh mungkin, catatan ini memuat deskripsi rinci dan lugas insiden yang terjadi di kelas. Catatan anekdotal tidak memerlukan latihan khusus. Suatu catatan anekdotal yang baik setidaknya mempunyai empat ciri, yaitu:
  1. Pengamat harus mengamati keseluruhan sekuensi insiden yang terjadi di kelas.
  2. Tujuan, batas waktu dan rambu-rambu pengamatan jelas.
  3. Hasil pengamatan dicatat lengkap dan hati-hati.
  4. Pengamatan harus dilakukan secara obyektif.
Beberapa model catatan anekdotal yang diusulkan oleh Reed & Bergerman (1992) dan sanggup digunakan dalam PTK, antara lain:
  1. Catatan anekdotal insiden dalam pembelajaran (anecdotal record for observing instructional event)
  2. Catatan anekdotal interaksi guru-siswa (anecdotal teachers-student interaction form)
  3. Catatan anekdotal pola pengelompokkan berguru (anecdotal record form for grouping patterns)
  4. Pengamatan terstruktur (structured observation)
  5. Lembar pengamatan administrasi kelas (checklist for management model)
  6. Lembar pengamatan ketrampilan bertanya (checklist for examining questions)
  7. Catatan anekdotal acara pembelajaran (anecdotal record of pre-, whilst-, and post- teaching activities)
  8. Catatan anekdotal membantu siswa berpartisipasi (checklist for routine involving student)

b.   Pengamatan terhadap kelas (observing classrooms)

Catatan anekdotal sanggup dilengkapi sambil melaksanakan pengamatan terhadap segala insiden yang terjadi di kelas. Pengamatan ini sangat bermanfaat sebab sanggup mengungkapkan praktek-praktek pembelajaran yang menarik di kelas. Disamping itu, pengamatan itu sanggup memperlihatkan taktik strategi yang digunakan guru dalam menangani hambatan dan hambatan pembelajaran yang terjadi di kelas. Catatan anekdotal kelas meliputi deskripsi ihwal lingkungan phisik kelas, tata letak, dan administrasi kelas.
Beberapa model catatan anekdotal kelas yang diusulkan oleh Reed & Bergerman (1992) dan sanggup digunakan dalam PTK, antara lain:
  1. format anekdotal organisasi kelas (form for anecdotal record of classroom organization)
  2. Format peta kelas (form for classroom map)
  3. Observasi kelas terstruktur (structured observation of classrooms)
  4. Format pengkodean lingkungan social kelas (form for coding scale of classroom social and environment)
  5. Lembar cek wawancara personalia sekolah (checklist for school personal interview)
  6. Lembar cek kompetensi (checklist of competencies)

c.   Pengamatan terhadap siswa (observing students)

Pengamatan terhadap sikap siswa sanggup mengungkapkan banyak sekali hal yang menarik. Masing-masing individu siswa sanggup diamati secara individual atau berkelompok sebelum, ketika berlangsung, dan setelah usai pembelajaran. Perubahan pada setiap individu juga sanggup diamati, dalam kurun waktu tertentu, mulai dari sebelum dilakukan tindakan, ketika tindakan diimplementasikan, dan seusai tindakan.
Beberapa model pengamatan terhadap sikap siswa diusulkan oleh Reed & Bergerman (1992) yang sanggup digunakan dalam PTK antara lain:
  1. Tes diagnostic (diagnostic test)
  2. Catatan anekdotal sikap siswa (anecdotal record for observing students)
  3. Format bayangan (shadowing form)
  4. Kartu profil siswa (profil card of students)
  5. Kartu deskripsi profil siswa (descriptive profil card)
  6. Sistem koding partisipasi siswa (coding system to observe student participation in lessons)
  7. Inventori kalimat tak lengkap (incomplete sentence inventory)
  8. Pedoman wawancara untuk refleksi (interview guide for reflection)
  9. Sosiogram, dan sebagainya.

 Instrumen Lainnya 


Adapun instrumen lain selain catatan anekdotal yang telah dijelaskan diatas, ada beberapa instrumen lain yang sanggup digunakan untuk mengumpulkan data-data yang dibutuhkan dalam PTK, antara lain berbentuk ; pedoman pengamatan, pedoman wawancara, angket, pedoman pengkajian data dokumen, serta tes dan asesmen alternatif.

1.      Pedoman Pengamatan

Pengamatan partisipatif dilakukan oleh orang yang terlibat secara aktif dalam proses pelaksanaan tindakan. Pengamatan ini sanggup dilaksanakan dengan pedoman pengamatan (format, daftar cek), catatan lapangan, jurnal harian, observasi acara di kelas, penggambaran interaksi dalam kelas, alatperekam elektronik, atau pemetaan kelas (Mills, 2004:19). 

Pengamatan sangat cocok untuk merekam data kualitatif, misalnya; perilaku, aktivitas, dan proses lainnya. Catatan lapangan sebagai salah satu wujud dari pengamatan sanggup digunakan untuk mencatat data kualitatif, masalah istimewa, atau untuk melukiskan suatu proses, menyerupai melukiskan bagaimana sekelompok siswa menemukan konsep mengenai hewan memamah biak, bagaimana komentar siswa terhadap pemakaian metode pembelajaran yang sebelum tidak pernah digunakan. 

Baca Juga: 
Contoh Pedoman Observasi Sikap Jujur 
Contoh Pedoman Observasi Sikap Disiplin

 2.      Pedoman Wawancara

Untuk memperoleh data atau informasi yang lebih rinci dan untuk melengkapi data hasil observasi, tim peneliti sanggup melaksanakan wawancara kepada guru, siswa, kepala sekolah dan fasilitator yang berkolaborasi. Wawancara digunakan untuk mengungkap data yang berkaitan dengan sikap, pendapat, atau wawasan. Misalnya dengan pertanyaan semacam “ tolong ceritakan ihwal ….. ? (Stringer. 2004:67).
Secara garis besar wawancara sanggup dilakukan dengan;
  1. Tak terencana, contohnya percakapan secara informal di antara para pelaku penelitian dengan responden/subyek penelitian.
  2. Terencana tetapi tak terstruktur, contohnya dimulai dari satu atau dua pertanyaan pembukaan dari pewancara, setelah itu pewawancara memperlihatkan kesempatan seluas-luasnya kepada responden untuk menentukan ihwal apa yang akan dibicarakan. Pewawancara boleh mengajukan pertanyaan untuk menggali atau memperjelas.
  3. Terstruktur, contohnya pewawancara telah menyusun serangkaian pertanyaan yang akan diajukan untuk mengendalikan percakapan atau tanggapan sesuai dengan arah pertanyaan yang diinginkan.
Agar diperoleh data yang lengkap, mendalam dan sesuai kebutuhan penelitian, maka sebaiknya wawancara sanggup dilakukan dalam situasi informal, wajar, dan peneliti berperan sebagai mitra.

Wawancara hendaknya dilakukan dengan mempergunakan pedoman supaya semua informasi yang dibutuhkan sanggup diperoleh secara lengkap. Jika dianggap masih ada informasi yang kurang, sanggup pula dilakukan secara bebas. Guru yang berkolaborasi sanggup berperan sebagai pewawancara terhadap siswanya. Namun harus sanggup menjaga supaya hasil wawancara mempunyai objektivitas yang tinggi.  

3.      Angket atau Kuesioner

Angket terdiri atas serangkaian pertanyaan tertulis yang memerlukan tanggapan tertulis pula. Jenis pertanyaan dalam angket sanggup dibedakan menjadi dua macam.
Angket terbuka, yaitu meminta informasi atau pendapat dengan kata-kata responden sendiri. Pertanyaan macam ini mempunyai kegunaan bagi tahap-tahap eksplorasi, tetapi sanggup menghasilkan jawaban-jawaban yang sulit untuk disatukan. Jumlah angket yang dikembalikan mungkin juga sangat rendah.

Angket tertutup atau pilihan ganda, yaitu meminta responden menentukan kalimat atau deskripsi yang paling erat dengan pendapat, perasan, penilaian, atau posisi mereka.
Pertanyaan harus secara cermat diungkapkan dan tujuannya harus terperinci dan tidak bermakna ganda. Mengujicobakan pertanyaan dengan teman atau cuplikan (sample) kecil responden akan meningkatkan kualitasnya. Membatasi lingkup topik yang dicakup merupakan cara yang bermanfaat untuk meningkatkan jumlah angket yang kembali dan kualitas informasi yang diperoleh.

4.      Pedoman Pengkajian Data Dokumen

Dokumen yang sanggup dikaji untuk keperluan PTK sanggup berupa; daftar hadir, silabus, daftar kemampuan, hasil karya siswa, hasil karya guru, arsip, lembar kerja, dan sebagainya.

5.      Tes dan Asesmen Alternatif

Pengambilan data yang berupa informasi mengenai pengetahuan, sikap, bakat, dan lainnya sanggup dilakukan dengan tes atau pengukuran bekal awal atau hasil berguru dengan banyak sekali mekanisme asesmen (Tim PGSM, 1999; Sumarno, 1997; Mills, 2004).

Instrumen-instrumen ini dikembangkan pada ketika penyusunan proposal/usulan penelitian atau dikembangkan setelah usulan penelitian disetujui dan dilaksanakan. Keuntungannya bila instrumen dikembangkan pada ketika penyusunan usulan, peneliti tentunya telah mempersiapkan diri lebih dini, sehingga peneliti sanggup lebih cepat mengimplementasikannya di lapangan.

6.    Deskripsi Perilaku Ekologis

Teknik ini kurang terarah pada duduk kasus jikalau dibandingkan dengan teknik pertama di atas. Teknik ini berusaha untuk mencatat observasi dan pemahaman terhadap urutan sikap yang lengkap. Tingkat-tingkat deskripsi yang berbeda sanggup dipakai, contohnya dalam situasi belajar-mengajar :
  1. Kelas dalam suasana serius, tetapi tawa meledak …
  2. Seorang siswa berjulukan Toni mendeskripsikan hobinya dalam program “tunjukkan dan katakan”
  3. Dengan kakinya diseret di lantai dan kedua tangannya saling menggenggam di punggung seorang siswa …
Deskripsi sebaiknya mengurangi penafsiran psikologis dan terminologis, seperti  telah disinggung di atas. Misalnya, ketika seorang siswa diamati tertawa terbahak-bahak, peneliti dihentikan memberi komentar ihwal maksud tertawa siswa tersebut. Atau ketika beberapa siswa menolak mengerjakan tugas, peneliti dihentikan menafsirkan bahwa penolakan tersebut sebab malas atau alasan lain. Kecenderungan untuk memperlihatkan penilaian menyerupai ini banyak dialami oleh peneliti pemula. Mereka belum terlatih untuk menunda penilaian hingga refleksi dilakukan.

7.  Catatan Harian

Catatan harian yaitu riwayat pribadi siswa yang dilakukan secara teratur seputar topik yang diminati atau yang diperhatikan. Catatan harian mungkin memuat observasi, perasaan, reaksi, penafsiran, refleksi, dugaan, hipotesis, dan penjelasan. Persoalan mungkin berkisar dari riwayat ihwal latar belakang siswa hingga pemantauan diri ihwal perubahan dalam metode mengajar atau metode pengawasan.
Siswa sanggup didorong untuk menciptakan catatan harian ihwal topik yang sama untuk memperoleh perspektif alternatif. Catatan harian sanggup digunakan untuk salah satu atau beberapa tujuan berikut:
  1. Merekam secara teratur informasi faktual ihwal peristiwa, tanggal dan orang, dengan pembagian terstruktur mengenai judul. Misalnya; kapan? Dimana ? Siapa ? yang mana ? bagaimana ? mengapa ? Data yang terekam sanggup digunakan untuk membantu peneliti merekonstruksi urutan waktu atau insiden sebuah kejadian.
  2. Aide mémoire untuk merekam catatan pendek ihwal penelitian yang sedang dilakukan untuk refleksi kemudian.
  3. ·Memotret secara rinci insiden dan situasi tertentu yang memperlihatkan data deskriptsi lengkap yang akan digunakan untuk laporan lengkap tertulis.
  4. Sebagai pencatatan introspeksi dan evaluasi-diri, dimana peneliti mencatat semua pengalaman, pemikiran, dan perasaan pribadi dalam rangka memahami penelitiannya.

8.   Logs

Teknik ini intinya sama dengan catatan harian tetapi biasanya disusun dengan mempertimbangkan alokasi waktu untuk kegiatan tertentu, pengelompokan kelas, dan sebagainya. Kegunaannya ditingkatkan jikalau meliputi komentar menyerupai yang terdapat dalam catatan harian ihwal sekolah dan insiden lain.

9.   Kartu Cuplikan Butir

Teknik kartu cuplikan butir ini menyerupai dengan catatan harian, tetapi sekitar enam kartu digunakan untuk mencatat kesan ihwal sejumlah topik. Pada jenis ini satu kartu untuk satu topik. Misalnya: satu set kartu boleh meliputi topik-topik menyerupai pendahuluan pelajaran, disiplin, kualitas pekerjaan siswa, efisiensi penilaian, kontak individual dengan siswa, dan sikap seorang siswa.  Kartu tersebut dikocok dan catatan harian dibentuk untuk satu topik setiap harinya, dengan demikian akan membangun citra ihwal semua duduk kasus sebagai dasar refleksi yang mempunyai resiko sangat rendah serta tidak memperlihatkan tekanan terlalu berat atau mengakibatkan kebosanan pada aspek-aspek tertentu.

10.  Portfolio

Teknik ini digunakan untuk menciptakan koleksi materi yang disusun dengan tujuan tertentu. Portofolio mungkin memuat semua dokumen yang relevan dengan duduk kasus perbaikan pembelajaran itu.

11.  Metode Sosiometrik

Metode ini digunakan untuk mengetahui apakah individu-individu disukai atau saling menyukai. Pertanyaan-pertanyaan sering diajukan dengan niat untuk mengetahui  dengan siapa subyek tertentu ingin bekerja sama, atau bekerjasama dalam suatu  kegiatan bersama. Pertanyaan juga mengungkapkan dengan siapa subyek tertentu tidak suka bekerja sama atau berhubungan. Hasilnya biasanya diungkapkan dengan diagram pada sosiogram, yang mencatat korelasi seluruh kelompok.


12.  Jadwal Dan Daftar Tilik (Checklist) Interaksi


Kedua teknik ini sanggup digunakan oleh peneliti atau pengamat. Teknik-teknik ini boleh berdasarkan waktu, atau berdasarkan peristiwa, yang pencatatannya dilakukan kapan saja insiden tertentu terjadi. Berbagai sikap dicatat dalam kategori waktu sikap itu terjadi untuk membangun citra ihwal urutan sikap yang diteliti. Misalnya dalam situasi sekolah, kategori jadual dan daftar tilik (checklist) sanggup menunjuk pada:

  1. Perilaku ekspresi guru: contohnya bertanya, menjelaskan, mendisiplinkan (individu atau kelompok), memberi pola melafalkan kata/frasa/kalimat.
  2. Perilaku ekspresi siswa: misalnya, menjawab, bertanya, menyela, berkelakar, mengungkapkan diri, menyanggah, menyetujui.
  3. Perilaku nonverbal siswa: contohnya menoleh, mondar-mandir, menulis, menggambar, menulis cepat, tertawa, menangis, mengerutkan dahi, mengatupkan bibir.
  4. Perilaku nonverbal guru: misalnya, tersenyum, mengerutkan kening, memberi isyarat, menulis, berdiri erat siswa pandai, duduk dengan siswa lamban.

13.   Rekaman Audio


Merekam banyak sekali insiden menyerupai pelajaran, rapat diskusi, seminar, lokakarya, sanggup menghasilkan banyak informasi yang bermanfaat yang tertakluk (tunduk) pada analisis yang cermat. Metode ini khususnya mempunyai kegunaan bagi kontak satu lawan satu dan kelompok kecil di mana perekam jinjing sanggup digunakan atau analisis satu sikap sanggup dilakukan. Jika transkripsi ekstensif diperlukan, prosesnya mungkin menjadi sangat panjang dari segi waktu.

14.   Rekaman video


Perekam video sanggup dioperasikan oleh peneliti untuk merekam satuan kegiatan/peristiwa untuk dianalisis kemudian, contohnya kegiatan pembelajaran di kelas. Akan lebih baik jikalau satuan rekamannya pendek sebab pemutaran ulang akan memakan waktu. Bila ada ajun yang membantu, lebih banyak perhatian sanggup diberikan pada reaksi dan sikap subyek secara perorangan (guru dan siswa), yang aspek-aspeknya disepakati sebelum perekaman. Peneliti sendiri sanggup merekam aspek tertentu dari pelaksanaan pekerjaannya sendiri. Subyek-subyek terpilih mungkin juga sanggup merekam beberapa aspek pelaksanaan pekerjaan mereka untuk dianalisis kemudian.

15.   Foto dan slide


Foto dan slide mungkin mempunyai kegunaan untuk merekam insiden penting, contohnya aspek kegiatan kelas, atau untuk mendukung bentuk rekaman lain. Peneliti dan pengamat boleh memakai rekaman fotografik. Karena daya tariknya bagi subyek penelitian, foto sanggup diacu dalam wawancara berikutnya dan diskusi ihwal data.

16.Penampilan subyek penelitian pada kegiatan penilaian


Teknik ini digunakan untuk menilai prestasi, penguasaan, untuk mendiagnosis kelemahan dsb. Alat penilaian tersebut sanggup dibentuk oleh peneliti atau para ahlinya. Pemilihan teknik pengumpulan data ini tentu saja diubahsuaikan dengan jenis data yang akan dikumpulkan.
Pemilihan teknik pengumpulan data hendaknya dipilih sesuai dengan ciri khas data yang perlu dikumpulkan untuk mendukung tercapainya tujuan penelitian. Untuk keperluan trianggulasi, data yang sama sanggup dikumpulkan dengan teknik yang berbeda.

Untuk mengetahui sumbernya silakan dilihat di : Literatur Penelitian Tindakan Kelas



Sumber http://www.tipsbelajarmatematika.com

Laptop Graphic Terbaik Untuk Desain Grafis 2014

Mereview Laptop Desain Grafis tahun 2014 OPOSIP - Ketika saya bekerja dari rumah saya mempunyai sebuah PC yang didedikasikan yang sang...