Showing posts with label Kurikulum. Show all posts
Showing posts with label Kurikulum. Show all posts

Thursday, December 21, 2017

√ Hukum Terbaru, Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 20, 21, 22, 23 Tahun 2016 Ihwal Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses Dan Standar Penilaian

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI telah menerbitkan regulasi atau peraturan terbaru yang dikeluarkan pada tahun 2016 wacana Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah, Standar Isi Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Standar Penilaian Pendidikan. Keempat peraturan terbaru tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 20, 21, 22, dan 23 Tahun 2016. 
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 20 Tahun 2016 wacana Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah
Permendikbud ini dipakai sebagai teladan utama pengembangan standar isi, standar proses, standar evaluasi pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan. Dengan diberlakukannya Permendikbud ini, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013 Tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Download:

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 21 Tahun 2016 wacana Standar Isi Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah

Permendikbud ini memuat wacana Tingkat Kompetensi dan Kompetensi Inti sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Kompetensi Inti mencakup perilaku spiritual, perilaku sosial, pengetahuan dan ketrampilan. Ruang lingkup bahan yang spesifik untuk setiap mata pelajaran dirumuskan menurut Tingkat Kompetensi dan Kompetensi Inti untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Dengan diberlakukannya Peraturan Menteri ini, maka Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 64 Tahun 2013 wacana Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Download:

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 wacana Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah


Permendikbud ini berisi kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan satuan pendidikan dasar menengah untuk mencapai kompetensi lulusan. Dengan diberlakukannya Peraturan Menteri ini, maka Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Download:

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  Nomor 23 Tahun 2016 wacana Standar Penilaian Pendidikan

Permendikbud ini berisi kriteria mengenai lingkup, tujuan, manfaat, prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen evaluasi hasil berguru akseptor didik yang dipakai sebagai dasar dalam evaluasi hasil berguru akseptor didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Dengan diberlakukannya Peraturan Menteri ini, secara otomatis Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 66 Tahun 2013 wacana Standar Penilaian Pendidikan dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 104 Tahun 2014 wacana Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah dicabut dan dinyatakan sudah tidak berlaku.

Download:

Sumber http://www.tipsbelajarmatematika.com

Tuesday, December 19, 2017

√ Standar Kompetensi Lulusan Sekolah Dasar Menurut Permendiknas No. 20 Tahun 2016

Standar Kompetensi Lulusan SD Berdasarkan Permendiknas No. 20 Tahun 2016. Dalam Lampiran Permendiknas No.20 Tahun 2016 dijelaskan bahwa: “ Standar Kompetensi Lulusan yaitu kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan”. Berdasarkan SKL tersebut, setiap lulusan satuan pendidikan dasar diperlukan mempunyai kompetensi pada tiga ranah yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Tujuan utama ditetapkan Permendiknas No. 20 Tahun 2016 ihwal Standar Kompetensi Lulusan (SKL) biar SKL tersebut dipakai sebagai pola utama pengembangan standar-standar ikutan lainnya. Standar-standar lainnya meliputi standar isi, standar proses, standar evaluasi pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan.

Standar Kompetensi Lulusan terdiri atas kriteria kualifikasi kemampuan akseptor didik yang diperlukan sanggup dicapai sesudah menuntaskan masa belajarnya di satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar. Jenjang pendidikan dasar terdiri dari tingkat kompetensi SD dan SMP.Untuk tingkat kompetensi Sekolah Dasar, kompetensi yang diperlukan saat siswa lulus sekolah dasar menurut masing-masing dimensi sanggup diuraikan sebagai berikut:

A. Dimensi Sikap SD/MI/SDLB/Paket A

Memiliki sikap yang mencerminkan sikap:1. beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, 2. berkarakter, jujur, dan peduli,3. bertanggungjawab,4. pembelajar sejati sepanjang hayat, dan5. sehat jasmani dan rohani sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan negara.

B. Dimensi Pengetahuan SD/MI/SDLB/Paket A

a. Memiliki pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat dasar berkenaan dengan: 1. ilmu pengetahuan, 2. teknologi, 3. seni, dan 4. budaya.

Pengetahuan faktual merupakan pengetahuan dasar berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan negara. Pengetahuan konseptual merupakan terminologi/ istilah yang digunakan, klasifikasi, kategori, prinsip, dan generalisasi berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan negara.

Pengetahuan prosedural yaitu pengetahuan ihwal cara melaksanakan sesuatu atau acara yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa dan negara. Pengetahuan metakognitif merujuk pada pengetahuan ihwal kekuatan dan kelemahan diri sendiri dan menggunakannya dalam mempelajari ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa dan negara.

b. Mampu mengaitkan pengetahuan di atas dalam konteks diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan negara.

C. Dimensi Ketrampilan SD/MI/SDLB/Paket A

SKL yang diperlukan dari lulusan SD/MI/SDLB/Paket A sudah mengadopsi ketrampilan yang diperlukan dari pembelajaran berciri Abad 21. Lulusan pada tingkat SD diperlukan memiliki keterampilan berpikir dan bertindak:1. kreatif,2. produktif,3. kritis,4. mandiri,
5. kolaboratif, dan 6. komunikatif melalui pendekatan ilmiah sesuai dengan tahap perkembangan anak yang relevan dengan kiprah yang diberikan

Sumber http://www.tipsbelajarmatematika.com

Sunday, August 20, 2017

√ Rasional Pengembangan Kurikulum 2013

Rasional Pengembangan Kurikulum 2013 - Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan KTSP 2006 yang meliputi kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu.

Pengembangan kurikulum perlu dilakukan alasannya ialah adanya banyak sekali tantangan yang dihadapi, baik tantangan internal maupun tantangan eksternal.

1. Tantangan Internal

a. Pemenuhan 8 (delapan)Standar Nasional Pendidikan yang meliputi standar pengelolaan, standar biaya, standar sarana prasarana, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar isi, standar proses, standar penilaian, dan standar kompetensi lulusan.

b. Perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif. SDM usia produktif yang melimpah apabila mempunyai kompetensi dan keterampilan akan menjadi modal pembangunan yang luar biasa besarnya. Namun, apabila tidak mempunyai kompetensi dan keterampilan tentunya akan menjadi beban pembangunan.

2. Tantangan Eksternal

Tantangan eksternal yang dihadapi dunia pendidikan antara lain berkaitan dengan tantangan masa depan, kompetensi yang dibutuhkan di masa depan, persepsi masyarakat, perkembangan pengetahuan dan pedagogi, serta banyak sekali fenomena negatif yang mengemuka.

a. Tantangan masa depan antara lain globalisasi, kemajuan teknologi informasi.

b. Kompetensi masa depan antara lain kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir jernih dan kritis, kemampuan menjadi warga negara yang bertanggungjawab, kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda, dan mempunyai kesiapan untuk bekerja.

c. Persepsi masyarakat antara lain terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif, beban penerima didik terlalu berat, kurang bermuatan karakter.

d. Perkembangan pengetahuan dan pedagogi antara lain Neurologi, Psikologi, Observation based [discovery] learning dan Collaborative learning.

e. Fenomena negatif antara lain perkelahian pelajar, narkoba, korupsi, plagiarisme, dan kecurangan dalam Ujian (Contek, Kerpek..)

3. Penyempurnaan Pola Pikir

Pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masa depan hanya akan sanggup terwujud apabila terjadi pergeseran atau perubahan contoh pikir dalam proses pembelajaran sebagai berikut ini.

a. Dari berpusat pada guru menuju berpusat pada penerima didik.
b. Dari satu arah menuju interaktif.
c. Dari isolasi menuju lingkungan jejaring.
d. Dari pasif menuju aktif-menyelidiki.
e. Dari maya/abstrak menuju konteks dunia nyata.
f. Dari pembelajaran eksklusif menuju pembelajaran berbasis tim.
g. Dari luas menuju sikap khas memberdayakan kaidah keterikatan.
h. Dari stimulasi rasa tunggal menuju stimulasi ke segala penjuru.
i. Dari alat tunggal menuju alat multimedia.
j. Dari hubungan satu arah bergeser menuju kooperatif.
k. Dari produksi massa menuju kebutuhan pelanggan.
l. Dari perjuangan sadar tunggal menuju jamak.
m. Dari satu ilmu pengetahuan bergeser menuju pengetahuan disiplin jamak.
n. Dari kontrol terpusat menuju otonomi dan kepercayaan.
o. Dari pemikiran faktual menuju kritis.
p. Dari penyampaian pengetahuan menuju pertukaran pengetahuan.

4. Penguatan Tata Kelola Kurikulum

Penyusunan kurikulum 2013 dimulai dengan memutuskan standar kompetensi lulusan menurut kesiapan penerima didik, tujuan pendidikan nasional, dan kebutuhan.Setelah kompetensi ditetapkan kemudian ditentukan kurikulumnya yang terdiri dari kerangka dasar kurikulum dan struktur kurikulum.Satuan pendidikan dan guru tidak diberikan kewenangan menyusun silabus, tetapi disusun pada tingkat nasional. Guru lebih diberikan kesempatan menyebarkan proses pembelajaran tanpa harus dibebani dengan tugas-tugas penyusunan silabus yang memakan waktu yang banyak dan memerlukan penguasaan teknis penyusunan yang sangat memberatkan guru.

5. Pendalaman dan Perluasan Materi

Berdasarkan analisis hasil PISA 2009, ditemukan bahwa dari 6 (enam) level kemampuan yang dirumuskan di dalam studi PISA, hampir semua penerima didik Indonesia hanya bisa menguasai pelajaran hingga level 3 (tiga) saja, sementara negara lain yang terlibat di dalam studi ini banyak yang mencapai level 4 (empat), 5 (lima), dan 6 (enam).

Analisis hasil TIMSS tahun 2007 dan 2011 di bidang matematika dan IPA untuk penerima didik kelas 2 Sekolah Menengah Pertama juga menawarkan hasil yang tidak jauh berbeda. Untuk bidang matematika, lebih dari 95% penerima didik Indonesia hanya bisa mencapai level menengah, sementara contohnya di Taiwan hampir 50% penerima didiknya bisa mencapai level tinggi dan advance.

Untuk bidang IPA, pencapaian penerima didik kelas 2 Sekolah Menengah Pertama juga tidak jauh berbeda dengan pencapaian yang mereka peroleh untuk bidang matematika. Hasil studi pada tahun 2007 dan 2011 menawarkan bahwa lebih dari 95% penerima didik Indonesia hanya bisa mencapai level menengah, sementara hampir 40% penerima didik Taiwan bisa mencapai level tinggi dan lanjut (advanced).

Hasil studi internasional untuk reading dan literacy (PIRLS) yang ditujukan untuk kelas IV SD juga menawarkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan hasil studi untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama menyerupai yang dipaparkan terdahulu. Dalam hal membaca, lebih dari 95% penerima didik Indonesia di SD kelas IV juga hanya bisa mencapai level menengah, sementara lebih dari 50% penerima didik Taiwan bisa mencapai level tinggi dan advance.

Hasil analisis lebih jauh untuk studi TIMSS dan PIRLS menawarkan bahwa soal-soal yang dipakai untuk mengukur kemampuan penerima didik dibagi menjadi empat kategori, yaitu:

- low mengukur kemampuan hingga level knowing
- intermediate mengukur kemampuan hingga level applying
- high mengukur kemampuan hingga level reasoning
- advancemengukur kemampuan hingga level reasoning with incomplete information.

Dalam kaitan itu, perlu dilakukan langkah penguatan materi dengan mengevaluasi ulang ruang lingkup materi yang terdapat di dalam kurikulum dengan cara meniadakan materi yang tidak esensial atau tidak relevan bagi penerima didik, mempertahankan materi yang sesuai dengan kebutuhan penerima didik, dan menambahkan materi yang dianggap penting dalam perbandingan internasional.

Sumber http://www.tipsbelajarmatematika.com

√ Esensi Pendekatan Saintifik/ Pendekatan Ilmiah


Info Penelitian Tindakan Kelas dan Penelitian Tindakan Sekolah


= Berikut ini beberapa Contoh Laporan Penelitian Tindakan Kelas dan Contoh Laporan Penelitian Tindakan Sekolah,  Contoh Proposal Penelitian Tindakan Kelas dan Contoh Proposal Penelitian Tindakan Sekolah, Contoh Laporan Lengkap Hasil Penelitian Tindakan Kelas dan Contoh Laporan Lengkap Hasil Penelitian Tindakan Sekolah  =




Sumber http://www.tipsbelajarmatematika.com

Saturday, August 19, 2017

√ Langkah-Langkah Pembelajaran Dengan Pendekatan Ilmiah

Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Ilmiah- Menurut Permendikbud no. 81 A tahun 2013 lampiran IV, Proses pembelajaran terdiri atas lima pengalaman berguru pokok yaitu: mengamati; menanya; mengumpulkan informasi; mengasosiasi; dan mengkomunikasikan.

a. Mengamati

Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu akseptor didik, sehingga proses pembelajaran mempunyai kebermaknaan yang tinggi. Dengan metode observasi akseptor didik menemukan fakta bahwa ada korelasi antara objek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang dipakai oleh guru.Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan menempuh langkah-langkah ibarat berikut ini.

- Menentukan objek apa yang akan diobservasi
- Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi
- Menentukan secara terperinci data-data apa yang perlu diobservasi, baik primer maupun sekunder
- Menentukan di mana daerah objek yang akan diobservasi
- Menentukan secara terperinci bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data semoga berjalan gampang dan lancar
- Menentukan cara dan melaksanakan pencatatan atas hasil observasi , ibarat memakai buku catatan, kamera, tape recorder, video perekam, dan alat-alat tulis lainnya.

Secara lebih luas, alat atau instrumen yang dipakai dalam melaksanakan observasi, sanggup berupa daftar cek (checklist), skala rentang (rating scale), catatan anekdotal (anecdotal record), catatan berkala, dan alat mekanikal (mechanical device). Daftar cek sanggup berupa suatu daftar yang berisikan nama-nama subjek, objek, atau faktor- faktor yang akan diobservasi. Skala rentang , berupa alat untuk mencatat tanda-tanda atau fenomena berdasarkan tingkatannya.

b. Menanya

Pada kurikulum 2013 kegiatan menanya diperlukan muncul dari siswa.Kegiatan berguru menanya dilakukan dengan cara: mengajukan pertanyaan perihal informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi pelengkap perihal apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual hingga ke pertanyaan yang bersifat hipotetik).Menanya sanggup juga tidak diungkapkan, tetapi sanggup saja ada di dalam pikiran akseptor didik. Untuk memancing akseptor didik mengungkapkannya guru harus member kesempatan mereka untuk mengungkapkan pertanyaan. Kegiatan bertanya oleh guru dalam pembelajaran juga sangat penting, sehingga tetap harus dilakukan.
Fungsi bertanya

1) Membangkitkan rasa ingin tahu, minat, dan perhatian akseptor didik perihal suatu tema atau topik pembelajaran.
2) Mendorong dan menginspirasi akseptor didik untuk aktif belajar, serta mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri.
3) Mendiagnosis kesulitan berguru akseptor didik sekaligus memberikan ancangan untuk mencari solusinya.
4) Menstrukturkan tugas-tugas dan memperlihatkan kesempatan kepada akseptor didik untuk memperlihatkan sikap, keterampilan, dan pemahamannya atas substansi pembelajaran yang diberikan.
5) Membangkitkan keterampilan akseptor didik dalam berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberi tanggapan secara logis, sistematis, dan memakai bahasa yang baik dan benar.
6) Mendorong partisipasi akseptor didik dalam berdiskusi, berargumen, mengembangkan kemampuan berpikir, dan menarik simpulan.
7) Membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan mendapatkan pendapat atau gagasan, memperkaya kosa kata, serta mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok.
8) Membiasakan akseptor didik berpikir impulsif dan cepat, serta sigap dalam merespon masalah yang tiba-tiba muncul.
9) Melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain.
 
Kriteria pertanyaan yang baik

Kriteria pertanyaan yang baik adalah: singkat dan jelas, menginspirasi jawaban, mempunyai fokus, bersifat probing atau divergen, bersifat validatif atau penguatan, memberi kesempatan akseptor didik untuk berpikir ulang, merangsang peningkatan tuntutan kemampuan kognitif, merangsang proses interaksi

Tingkatan Pertanyaan

Pertanyaan guru yang baik dan benar menginspirasi akseptor didik untuk memperlihatkan tanggapan yang baik dan benar pula. Guru harus memahami kualitas pertanyaan, sehingga menggambarkan tingkatan kognitif ibarat apa yang akan disentuh, mulai dari yang lebih rendah hingga yang lebih tinggi 

c. Mengumpulkan informasi/ Eksperimen (Mencoba)

Mengumpulkan informasi/ eksperimen kegiatan pembelajarannya antara lain:
- melaksanakan eksperimen;
- membaca sumber lain selain buku teks;
- mengamati objek/ kejadian/aktivitas; dan
- wawancara dengan narasumber.

Untuk memperoleh hasil berguru yang nyata atau autentik, akseptor didik harus mencoba atau melaksanakan percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. Peserta didik pun harus mempunyai keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan perihal alam sekitar, serta bisa memakai metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari.

Agar pelaksanaan percobaan sanggup berjalan lancar (1) Guru hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yanga akan dilaksanakan murid, (2) Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan, (3) Perlu memperhitungkan daerah dan waktu, (4) Guru menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid, (5) Guru membicarakan masalah yanga akan yang akan dijadikan eksperimen, (6) Membagi kertas kerja kepada murid, (7) Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru, dan (8) Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya, bila dianggap perlu didiskusikan secara klasikal. 

d. Mengasosiasi/ Mengolah informasi

Dalam kegiatan mengasosiasi/ mengolah informasi terdapat kegiatan menalar. Istilah “menalar” dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam Kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan akseptor didik merupakan pelaku aktif. Penalaran yaitu proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang sanggup diobservasi untuk memperoleh final berupa pengetahuan.

Penalaran dimaksud merupakan budi sehat ilmiah, meski penakaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat.Istilah menalar di sini merupakan padanan dari associating; bukan merupakan terjemanan dari reasonsing, meski istilah ini juga bermakna menalar atau penalaran.Karena itu, istilah acara menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori berguru asosiasi atau pembelajaran asosiatif.Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan bermacam-macam ide dan mengasosiasikan bermacam-macam kejadian untuk kemudian memasukannya menjadi serpihan memori.

Bagaimana aplikasinya dalam proses pembelajaran? Aplikasi pengembangan acara pembelajaran untuk meningkatkan daya menalar akseptor didik sanggup dilakukan dengan cara berikut ini.

1) Guru menyusun materi pembelajaran dalam bentuk yang sudah siap sesuai dengan tuntutan kurikulum.
2) Guru tidak banyak menerapkan metode ceramah atau metode kuliah. Tugas utama guru yaitu memberi instruksi singkat tapi terperinci dengan disertai contoh-contoh, baik dilakukan sendiri maupun dengan cara simulasi.
3) Bahan pembelajaran disusun secara berjenjang atau hierarkis, dimulai dari yang sederhana (persyaratan rendah) hingga pada yang kompleks (persyaratan tinggi).
4) Kegiatan pembelajaran berorientasi pada hasil yang sanggup diukur dan diamati
5) Seriap kesalahan harus segera dikoreksi atau diperbaiki
6) Perlu dilakukan pengulangan dan latihan semoga sikap yang diinginkan sanggup menjadi kebiasaan atau pelaziman.
7) Evaluasi atau penilaian didasari atas sikap yang nyata atau otentik.
8) Guru mencatat semua kemajuan akseptor didik untuk kemungkinan memperlihatkan tindakan pembelajaran perbaikan. 

e. Mengomunikasikan

Dalam kegiatan mengomunikasikan sanggup dilakukan pembelajaran kolaboratif.Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat personal, lebih dari sekadar teknik pembelajaran di kelas-kelas sekolah. Kolaborasi esensinya merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup insan yang menempatkan dan memaknai kolaborasi sebagai struktur interaksi yang dirancang secara baik dan disengaja rupa untuk memudahkan perjuangan kolektif untuk mencapai tujuan bersama.

Pada pembelajaran kolaboratif kewenangan guru dan fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar.Sebaliknya, akseptor didiklah yang harus lebih aktif.Peserta didik berinteraksi dengan empati, saling menghormati, dan mendapatkan kekurangan atau kelebihan masing-masing. Dengan cara semacam ini akan tumbuh rasa kondusif sehingga memungkin akseptor didik menghadapi aneka perubahan dan tntutan berguru secara bersama-sama.

Ada empat sifat kelas atau pembelajaran kolaboratif.Dua sifat berkenaan dengan perubahan korelasi antara guru dan akseptor didik. Sifat ketiga berkaitan dengan pendekatan gres dari penyampaian guru selama proses pembelajaran. Sifat keempat menyatakan isi kelas atau pembelajaran kolaboratif.Dengan pembelajaran kolaboratif, akseptor didik mempunyai ruang gerak untuk menilai dan membina ilmu pengetahuan, pengalaman personal, bahasa komunikasi, taktik dan konsep pembelajaran sesuai dengan teori, serta menautkan kondisi sosiobudaya dengan situasi pembelajaran. Di sini, kiprah guru lebih banyak sebagai pembimbing dan manajer berguru ketimbang memberi instruksi dan mengawasi secara rijid.Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif, guru membuatkan kiprah dan kewenangan dengan akseptor didik, khususnya untuk hal-hal tertentu. Cara ini memungkinan akseptor didik menimba pengalaman mereka sendiri, membuatkan taktik dan informasi, menghormati antarsesa, mendorong tumbuhnya ide-ide cerdas, terlibat dalam pemikiran kreatif dan kritis serta memupuk dan menggalakkan mereka mengambil kiprah secara terbuka dan bermakna.

Contoh Pembelajaran Kolaboratif

Guru ingin mengajarkan perihal konsep, penggolongan sifat, fakta, atau mengulangi informasi perihal objek. Untuk keperluan pembelajaran ini beliau memakai media sortir kartu (card sort). Prosedurnya sanggup dilakukan ibarat berikut ini.

· Kepada akseptor didik diberikan kartu indeks yang memuat informasi atau pola yang cocok dengan satu atau lebih katagori.
· Peserta didik diminta untuk mencari temannya dan menemukan orang yang mempunyai kartu dengan katagori yang sama.
· Berikan kepada akseptor didik yang kartu katagorinya sama menyajikan sendiri kepada rekannya.
· Selama masing-masing katagori dipresentasikan oleh akseptor didik, buatlah catatan dengan kata kunci (point) dari pembelajaran tersebut yang dirasakan penting.
Pemanfaatan Internet Pada Pembelajaran Kolaboratif

Pemanfaatan internet sangat dianjurkan dalam pembelajaran atau kelas kolaboratif.Karena memang, internet merupakan salah satu jejaring pembelajaran dengan susukan dan ketersediaan informasi yang luas dan mudah.Saat ini internet telah menyediakan diri sebagai tumpuan yang murah dan gampang bagi akseptor didik atau siapa saja yang hendak mengubah wajah dunia.

Penggunaan internet disarakan makin mendesak sejalan denan perkembangan pengetahuan terjadi secara eksponensial. Masa depan yaitu milik akseptor didik yang mempunyai susukan hampir ke seluruh informasi tanpa batas dan mereka yang bisa memanfaatkan informasi diterima secepat mungkin.

Sumber http://www.tipsbelajarmatematika.com

Friday, April 28, 2017

√ Tujuan Dan Hakikat Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar Kurikulum 2013

Tujuan dan Hakikat Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar Kurikulum 2013 - Pendidikan matematika di sekolah dibutuhkan memperlihatkan donasi dalam mendukung pencapaian kompetensi lulusan pendidikan dasar melalui pengalaman belajar.

Tujuan Pembelajaran Matematika yakni semoga siswa mampu:
  1. memahami konsep dan menerapkan mekanisme matematika dalam kehidupan sehari-hari;
  2. melaksanakan operasi matematika untuk penyederhanaan, dan analisis komponen yang ada;
  3. melakukan kebijaksanaan budi matematis yang mencakup membuat generalisasi menurut pola, fakta, fenomena atau data yang ada, membuat dugaan dan memverifikasinya;
  4. memecahkan problem dan mengomunikasikan gagasan melalui simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah;
  5. menumbuhkan perilaku aktual menyerupai perilaku logis, kritis, cermat, teliti, dan tidak gampang mengalah dalam memecahkan masalah.Secara lebih khusus, mata pelajaran matematika diajarkan untuk tujuan membekali penerima didik pengetahuan, pemahaman, dan sejumlah kemampuan yang dipersyaratkan untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi serta membuatkan ilmu dan teknologi.

Hakikat Pembelajaran

Proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan baik itu pendidikan dasar maupun pendidikan menengah hendaknya merupakan pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi penerima didik untuk berpartisipasi aktif, serta memperlihatkan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis penerima didik.


Belajar matematika artinya membangun pemahaman wacana konsep-konsep, fakta, prosedur, dan gagasan matematika. Makna memahami yakni membuat pengaitan antara gagasan, fakta, dan prosedur. Mengenalkan gaya mencar ilmu kepada penerima didik dan mengadaptasi banyak sekali macam seni administrasi pembelajaran akan memudahkan penerima didik memahami konsep-konsep matematika. Hal ini didukung pengenalan gaya mencar ilmu matematika dan mengadaptasi seni administrasi pembelajaran matematika yang berbeda sanggup memfasilitasi penerima didik belajar.

Dengan pemahaman menyerupai itu, memungkinkan seorang guru untuk sanggup berupaya memperlihatkan pandangan gres kepada penerima didik dengangagasan-gagasan matematika yang menantang dan menyenangkan yang dikemas dalam pembelajaran matematika yang interaktif. Dengan demikian, penerima didik dapatmenciptakan atau menemukan konsep-konsep matematika yang sebelumnya telah ditemukan para pendahulunya secara kreatif. Dengan adanya ruang gerak untuk prosespenemuan bagi penerima didik, memungkinkan penerima didik mempunyai prakarsa dan kreativitas.

Sumber http://www.tipsbelajarmatematika.com

Tuesday, February 21, 2017

√ Proses Pemerolehan Konsep Matematika Para Siswa Sekolah Dasar Dengan Pendekatan Saintifik Dalam Kurikulum 2013

Proses Pemerolehan Konsep Matematika para Siswa Sekolah Dasar dengan Pendekatan Saintifik dalam Kurikulum 2013 - Proses Pemerolehan Konsep merupakan sebuah proses yang berisikan banyak sekali kegiatan siswa atau kegiatan siswa yang melibatkan/dilibatkan secara aktif dalam Pembelajaran Matematika.

Pendekatan Saintifik ini  memakai fase pembelajaran saintifik dengan indikator 5M yaitu mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengkomunikasikan yang merupakan upaya aktif memperoleh atau membentuk pengetahuan matematika sendiri.  

Proses memperoleh  pemahaman perihal bahan matematika di sekolah dasar dengan proses atau pendekatan Saintifik merupakan tuntutan konsep Kurikulum 2013. Berikut ini ialah beberapa kegiatan yang dilakukan dalam pembelajaran matematika dalam proses 5M (mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengkomunikasikan) . 

1. Mengamati 

Guru meminta siswa secara berkelompok untuk mengamati dengan indra (membaca, mendengar, menyimak, melihat, menonton, dan sebagainya) dengan atau tanpa alat. 

2. Menanya 

Guru meminta siswa secara individual untuk menciptakan dan mengajukan pertanyaan, tanya jawab, berdiskusi perihal info yang belum dipahami, info komplemen yang ingin diketahui, atau sebagai klarifikasi. 

3. Menalar 

Guru meminta siswa secara individual untuk mengolah info yang sudah dikumpulkan, menganalisis data dalam bentuk menciptakan kategori, mengasosiasi atau menghubungkan fenomena/informasi yang terkait dalam rangka menemukan suatu pola, dan menyimpulkan 

4. Mencoba 

Guru meminta siswa secara individual untuk mengeksplorasi, mencoba, berdiskusi, mendemonstrasikan, menjiplak bentuk/gerak, melaksanakan eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengumpulkan data dari narasumber melalui angket, wawancara, dan memodifikasi/ menambahi/ mengembangkan. 

5. Merangkum 

Guru meminta siswa secara individual untuk menciptakan rangkuman sesuai dengan pemahamannya sendiri, kemudian dibandingkan dengan cara membaca rangkuman yang ada di buku siswa. Selanjutnya, siswa menciptakan rangkuman kembali dengan kalimat sendiri di buku tulis. 

6. Mengkomunikasikan 

Guru meminta siswa secara berkelompok untuk menyajikan laporan dalam bentuk bagan, diagram, atau grafik; menyusun laporan tertulis; dan menyajikan laporan mencakup proses, hasil, dan kesimpulan secara lisan.

Adapun secara umum huruf pembelajaran saintifik berdasarkan Hosnan (2014:36) dalam bukunya  Pendekatan Saintifik Dan Kontekstual Dalam Pembelajaran Abad  21 ialah sebagai berikut:

a. berpusat pada siswa,
b. melibatkan keterampilan proses sains dalam mengkonstruksi konsep, aturan atau prinsip,
c. melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek, khususnya ketrampilan tingkat tinggi penerima didik, sanggup berbagi huruf penerima didik

Sumber http://www.tipsbelajarmatematika.com

Laptop Graphic Terbaik Untuk Desain Grafis 2014

Mereview Laptop Desain Grafis tahun 2014 OPOSIP - Ketika saya bekerja dari rumah saya mempunyai sebuah PC yang didedikasikan yang sang...