Showing posts with label Permainan Tradisional. Show all posts
Showing posts with label Permainan Tradisional. Show all posts

Wednesday, May 31, 2017

√ Permainan Tradisional Juru Dan Fenomena Matematisnya

Permainan Tradisional Anak Ngada: “Juru dan Fenomena Matematisnya-Pada perkampungan di kawasan Bajawa Nusa Tenggara Timur, sering dijumpai bawah umur bermain banyak sekali permainan tradisional. Salah satu permainan anak Bajawa yang sanggup dipakai dalam pembelajaran matematika ialah permainan yang dalam bahasa kawasan setempat dinamakan "Juru'. Alat yang dipakai untuk permainan ini sangat sederhana  hanya sepotong kayu untuk menggaris area permainan pada permukaan  tanah yang datar.

Kalau dilihat dari cara bermainnya, permainan "juru" (beberapa kawasan lainnya disebut : jedhe leke) permainan ini seakan-akan dengan engklek. Permainan ini dimulai dengan memilih siapa pemain pertama dengan cara melaksanakan apa yang disebut “Hoepilang Hoepilang ” dan atau “suit”. Selanjutnya, langkah-langkah permainannya ialah sebagai berikut: Pemain pertama melempar kerikil pada kotak nomor 1. Pemain pertama menginjak kotak nomor 2,3,4 dan seterusnya dengan menggantungkan salah satu kakinya. Pada kotak ke 5 posisi kedua kaki menginjak tanah selanjutnya, pemain mengambil kerikil pada kotak nomor 1 dan kembali ke pososi awal. Pemain akan diganti dengan pemain lain apabila kerikil yang di lemparkan keluar dari garis atau menyentuh garis atau kaki pemain menyentuh garis. Pemain pertama akan mendapat bintang dan menggambarkan bintang tersebut dan lalu akan menjadi rumahnya yang hanya bisa diinjak oleh pemiliknya.

Permainan sangat penting dipakai dalam pembelajaran matematika. Jenis permainan yang dipakai dalam pembelajaran matematika haruslah yang mempunyai fenomena-fenomena yang terkait dengan materi/konsep matematika yang akan dipelajari oleh anak-anak. Permainan "Juru" mempunyai fenomena matematis dan juga fenomena abjad tertentu.

Baca Juga: 

Fenomena Matematis:

Ketepatan kaki pada waktu menempatkan kaki pada angka yang sudah ditentukan. Misalnya: kerikil pertama dilemparkan ke kotak nomor 1dan demikian seterusnya. Meskipun waktu itu area permainan tidak beri angka.Selain itu, pada gambar area bermain terdapat bentuk  geometri,bentuk persegi panjang, persegi empat, setengah lingkaran.


Kemampuan Matematika yang dikembangkan:

Siswa mamapu mengenal konsep bilangan/angka (penjumlahan dan pengurangan), konsep geometri, konsep memperkirakan dan konsep ukuran anak usia dini. Permaianan ini membantu guru untuk penanaman awal konsep-konsep matematika tersebut.

Fenomena Karakter:

Hoempilang dan suit : Sabar, antri, jujur
Adanya hukum permainan : taat aturan
Kerja keras untuk tidak keluar dari permainan: teliti

Teridentifikasinya fenomena matematis dan fenomena abjad pada permainan "Juru" maka permainan ini bisa dipakai dalam pembelajaran matematika berbasis abjad dan permainan ini sanggup dijadikan konteks sebagai starting point dalam pengembangan konsep-konsep yang disebutkan. Permainan ini sanggup juga dipakai sebagai apersepi dalam pembelajaran konsep-konsep yang disebutkan sebelumnya.

Baca juga: Permainan Tradisional : “Dha’o Bure” atau "Mae Watu" dan Fenomena Matematisnya

Sumber http://www.tipsbelajarmatematika.com

Tuesday, May 30, 2017

√ Permainan Tradisional : “Dha’O Bure” Dan Fenomena Matematisnya


Permainan Tradisional : “Dha’o Bure” atau "Mae Watu" dan Fenomena Matematisnya- Bila melewati kawasan perkampungan di kabupaten Ngada (sebuah Kabupaten yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur), jikalau beruntung, kita akan menemukan belum dewasa yang sedang bermain memakai batu, kelereng dan benda kecil lain yang sanggup dipantulkan. Nama permainan ini yang di kenal dengan nama “mae watu” kadang kala disebut 'dhao bure' untuk kawasan tertentu. Jenis permainan ini sering dimainkan oleh belum dewasa bahkan orang dewasa, dan sanggup di mainkan oleh pria maupun perempuan.

Alat dan materi yang dibutuhkan sangat sederhana dan gratis tersedia di sekitar belum dewasa berupa Batu/ tutupan botol yang ringan/kerang kecil/lempengan keramik yang dipecahkan dengan rapi,bola pimpong/kelereng/bola bekel/jeruk nipis.Permainan ini juga ditemukan di kawasan lain di NTT dan tentu saja dengan nama yang berbeda-beda dan hukum yang berbeda pula.

Permainan ini dimulai dengan mengumpulkan sejumlah jenis kerikil atau kerang kecil/tutupan botol di lantai dan bola di tangan pemain. Selanjutnya, anak anak bermain dengan melaksanakan pengambilan kerikil atau tutupan botol pada ketika bola dilemparkan, kemudian jatuh dan memantul selanjutnya ditangkap. Pemain mengambil biji/batu kemudian segera menangkap bola sebelum jatuh untukkedua kalinya dan seterusnya dilakukan secara berulang hingga biji/batu terambil semua dari lantai. Langkah berikutnya dengan cara yang sama, bedanya pada ketika setiap lemparan 2 biji terambil, sehabis habis dilanjutkan dengan 3 biji batu, 4 biji kerikil dan seterusnya. Menyamakan posisi biji dengan merubah biji kerikil satu persatu pada ketika bola dilempar, kemudian jatuh dan memantul selanjutnya ditangkap. Pemain yang tampil sebagai pemenang ialah pemain yang mengumpulkan poin paling banyak. (Baca juga:Permainan Tradisional Anak Ngada: “Juru dan Fenomena Matematisnya)

Fenomena Matematis: 

Memantulkan bola, mengambil kerikil secara berurut mulai dari 1 kerikil hingga habis, dua kerikil hingga habis dan seterusnya. Mengambil kerikil sanggup habis diambil dan sanggup tersisa.

Konsep Matematika yang sanggup dipelajari dari permainan ini: 

Konsep bilangan ganjil, bilangan genap, pembagian, pengurangan, pembagian sebagai pengurangan berulang, perkalian sebagai penjumlahan berulang.

Guru di wilayang Ngada NTT sanggup memakai permainan ini untuk apersepsi dan motivasi serta sanggup menyebabkan permainan ini untuk orientasi pembelajaran konsep-konsep matematika yang disebutkan di atas.

Sumber http://www.tipsbelajarmatematika.com

Laptop Graphic Terbaik Untuk Desain Grafis 2014

Mereview Laptop Desain Grafis tahun 2014 OPOSIP - Ketika saya bekerja dari rumah saya mempunyai sebuah PC yang didedikasikan yang sang...