Showing posts with label Edukasi. Show all posts
Showing posts with label Edukasi. Show all posts

Thursday, November 22, 2018

Pendidikan Kewarganegaraan : Esensi Dan Urgensi Identitas Nasional

Pendidikan Kewarganegaraan : Esensi dan Urgensi Identitas Nasional



Menelusuri Konsep dan Urgensi Identitas Nasional


Identitas / identity

Ciri-ciri, keadaan khusus seseorang, jati diri


Nasional / national

Bersifat kebangsaaan


Identitas nasional (dalam konteks PKN)

Jati diri, ciri-ciri, atau karakteristik, perasaan atau dogma perihal kebangsaan yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain




“Benarkah identitas nasional itu menjadi salah satu determinan
dalam pembangunan bangsa dan karakter?”


Ada dua jenis identitas, yakni identitas primer dan sekunder (Tilaar, 2007; Winarno, 2013).

  • Identitas primer dinamakan juga identitas etnis yakni identitas yang mengawali terjadinya identitas sekunder
  • Identitas sekunder ialah identitas yang dibuat atau direkonstruksi menurut hasil komitmen bersama.


Mentalitas Orang Indonesia (Prof.DR.Koentjoroningrat)

Prof. DR. Koentjoroningrat


Mentalitas Orang Indonesia setelah jaman penjahan Hindia Belanda

  1. Sifat mentalitas yang meremehkan mutu 
  2. Sifat mentalitas yang suka menerabas 
  3. Sifat mentalitas tak percaya diri sendiri 
  4. Sifat mentalitas tak berdisiplin murni 
  5. Sifat mentalitas yang suka mengabaikan tanggungjawab yang kokoh 


Karakter Orang Indonesia (Mochtar Loebis -1977)



  1. Hipokrit 
  2. Tidak bertanggungjawab 
  3. Bermental feodal 
  4. Percaya takhayul 
  5. Boros dan maunya instan 
  6. Malas 
  7. Suka menggerutu 
  8. Watak lemah (daya juang lemah) 
  9. Cepat marah&dengki 
  10. Sok tahu & sombong 
  11. Tikung tiru (plagiat) 






Agen Perubahan


Agen perubahan ialah seorang individu atau kelompok yang mempengaruhi orang lain atau organisasi dalam mengambil keputusan penemuan semoga sesuai dengan yang diperlukan oleh biro perubahan itu sendiri.



Peran Agen Perubahan


  • Membangun kesadaran bahwa mereka memerlukan perubahan (To develo
  • Membangun kesadaran bahwa mereka memerlukan perubahan (To develop a need for change).
  • Melakukan identifikasi dilema (To diagnose problems)change).
  • Mendorong niat untuk berubah (To create an intent in the client to change).
  • Mentransformasikan sekedar niat menjadi tindakan aktual (To translate an intent to action).
  • Merawat adopsi mencegah abolisi adopsi (To stabilize adoption and prevent discontinuance).
  • Pencapaian Hubungan Agen Perubahan dan Komunitas Target Perubahan (To achieve a terminal relationship).

Kunci Keberhasilan Agen Perubahan


  • Etos Kerja Agen Perubahan (Change Agent Effort)
  • Orientasi Komunitas Sosial Target Perubahan (Client Orientation)
  • Kompatibelitas Inovasi Dengan Kebutuhan Komunitas Sosial Target Inovasi / Kebijakan Publik (Compatibility with Client’s Needs)
  • Rasa Empathy (Change Agent Empathy)


Pengertian Berpikir Kritis

Berpikir kritis adalah proses disiplin intelektual yang secara aktif dan terampil mengkonseptualisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan / atau mengevaluasi info yang dikumpulkan dari, atau dihasilkan oleh, observasi, pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi, sebagai panduan untuk dogma dan tindakan. 

Dalam bentuk yang patut dicontoh, ia didasarkan pada nilai-nilai intelektual universal yang melampaui pembagian materi: kejelasan, akurasi, presisi, konsistensi, relevansi, bukti yang kuat, alasan-alasan yang baik, mendalam, luas, dan setara. 

(A statement by Michael Scriven & Richard Paul, presented at the 8th Annual International Conference on Critical Thinking and Education Reform, Summer 1987)








Sumber http://wikiwoh.blogspot.com

Pendidikan Kewarganegaraan : Urgensi Integrasi Nasional

Pendidikan Kewarganegaraan : Urgensi Integrasi Nasional



Menelusuri Konsep dan Urgensi Integrasi Nasional


Makna Integrasi Nasional


Kurana (2010) menyatakan integrasi nasional yakni kesadaran identitas bersama di antara warga negara. Ini berarti bahwa meskipun kita mempunyai kasta yang berbeda, agama dan daerah, dan berbicara bahasa yang berbeda, kita mengakui kenyataan bahwa kita semua yakni satu.

Jenis integrasi ini sangat penting dalam membangun suatu bangsa yang berpengaruh dan makmur.




Jenis Integrasi


Tentang pengertian integrasi ini, Myron Weiner dalam Ramlan Surbakti (2010) lebih cocok memakai istilah integrasi politik daripada integrasi nasional. 

Menurutnya integrasi politik yakni penyatuan masyarakat dengan sistem politik. Integrasi politik dibagi menjadi lima jenis, yakni : 

  • Integrasi bangsa
    • Integrasi bangsa menunjuk pada proses penyatuan banyak sekali kelompok budaya dan sosial dalam satu kesatuan wilayah dan dalam suatu pembentukan identitasnasional 

  • Integrasi wilayah 
    • menunjuk pada duduk kasus pembentukan wewenang kekuasaan nasional sentra di atas unit-unit sosial yang lebih kecil yang beranggotakan kelompok kelompok sosial budaya masyarakat tertentu 

  • Integrasi elit massa 
    • menunjuk pada duduk kasus penghubungan antara pemerintah yang diperintah. Mendekatkan perbedaan-perbedaan mengenai aspirasi dan nilai pada kelompok elit dan massa.

  • Integrasi nilai 
    • menunjuk pada adanya konsensus terhadap nilai yang minimum yang dibutuhkan dalam memelihara tertib sosial 

  • Integrasi tingkah laris (perilaku integratif)
    • menunjuk pada penciptaan tingkah laris yang terintegrasi dan yang diterima demi mencapai tujuan bersama.


Menurut Suroyo (2002), integrasi nasional mencerminkan proses persatuan orang-orang dari banyak sekali wilayah yang berbeda, atau mempunyai banyak sekali perbedaan baik etnisitas, sosial budaya, atau latar belakang ekonomi, menjadi satu bangsa (nation) terutama alasannya yakni pengalaman sejarah dan politik yang relatif sama.

Integrasi nasional mencakup : 
  1. Integrasi politik, 
  2. Integrasi ekonomi, 
  3. Integrasi sosial budaya.



Disintegrasi




Disintegrasi bangsa yakni memudarnya kesatupaduan antar golongan, dan kelompok yang ada dalam suatu bangsa yang bersangkutan. Gejala disintegrasi merupakan hal yang sanggup terjadi di masyarakat. Masyarakat suatu bangsa pastilah menginginkan terwujudnya integrasi. 

Namun, dalam kenyataannya yang terjadi justru tanda-tanda disintegrasi. Disintegrasi mempunyai banyak ragam, misalkan kontradiksi fisik, perkelahian, tawuran, kerusuhan, revolusi, bahkan perang.

Menurut Suroyo (2002), ternyata sejarah menjelaskan bangsa kita sudah mengalami pembangunan integrasi sebelum bernegara Indonesia yang merdeka. Menurutnya, ada tiga model integrasi dalam sejarah perkembangan integrasi di Indonesia, yakni 
  1. model integrasi imperium Majapahit, 
  2. model integrasi kolonial
  3. model integrasi nasional Indonesia.


Dalam sejarahnya, penumbuhan kesadaran berbangsa tersebut dilalui dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: 
  1. Masa Perintis 
  2. Masa Penegas 
  3. Masa Percobaan 
  4. Masa Pendobrak

Howard Wriggins dalam Muhaimin & Collin MaxAndrews (1995) menyebut ada lima pendekatan atau cara bagaimana para pemimpin politik menyebarkan integrasi bangsa. 

Kelima pendekatan yang selanjutnya kita sebut sebagai faktor yang memilih tingkat integrasi suatu negara yakni :
  • Adanya bahaya dari luar
  • Gaya politik kepemimpinan
  • Kekuatan lembaga–lembaga politik
  • Ideologi Nasional
  • Kesempatan pembangunan ekonomi

Dinamika Integrasi Nasional di Indonesia


Dinamika itu sanggup kita contohkan peristiswa integrasi berdasar 5 (lima) jenis integrasi sebagai berikut: 

  • Integrasi bangsa 
  • Integrasi wilayah 
  • Integrasi nilai 
  • Integrasi elit-massa 
  • Integrasi tingkah laris (perilaku integratif).


Tantangan dalam membangun integrasi


  • Integrasi Vertikal (antara elit-massa)yang banyak tidak sepaham 
  • Integrasi Horizontal yang terjadi di kalangan masyarakat sendiri akhir adanya kesenjangan sosial, isu2 primordial, dan kurangnya pendidikan bagi masyarakat itu sendiri sehingga gampang diadu domba oleh isu2 palsu (berita hoax)


Mendeskripsikan Esensi dan Urgensi Integrasi Nasional


Apapun kondisinya, integrasi masyarakat merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk membangun kejayaan bangsa dan negara sehingga perlu senantiasa diupayakan. 

Kegagalan dalam mewujudkan integrasi masyarakat berarti kegagalan untuk membangun kejayaan nasional, bahkan sanggup mengancam kelangsungan hidup bangsa dan negara yang bersangkutan.



Sumber http://wikiwoh.blogspot.com

Wednesday, November 21, 2018

Bahasa Indonesia : Dasar-Dasar Dalam Memahami Pertanyaan Esai

Bahasa Indonesia : Dasar-Dasar dalam Memahami Pertanyaan Esai



Mengapa sebuah esai sanggup dikategorikan sebagai esai yang buruk?


Kesalahan yang paling utama dalam menciptakan esai ialah kesalahan dalam menciptakan paragraf (Warburton,hal.25). Kesalahan dalam menciptakan paragraf dimulai dengan kekeliruan dalam menafsirkan atau memahami pertanyaan.


23 Rumusan dalam Memahami Pertanyaan berdasarkan Warburton


“berikan analisis…”: penulis diminta untuk mengurai duduk kasus yang sedang dibicarakan selanjutnya menjelaskan korelasi antara uraian antara bagian-per-bagian dengan keseluruhan

“berikan penilaian tentang…”: penulis diminta untuk tetapkan seberapa kuat atau seberapa lemah sebuah bahan diskusi (subject-matter)–dengan kata lain, penulis harus meletakkannya dalam sebuah hirarki nilai 

“golongkan atau klasifikasikan…”: penulis diminta untuk menggolongkan sebuah pokok pembicaraan di dalam kelas atau kategori yang tepat

“berikan komentar atas…” : penulis diminta untuk mengajukan pembedahan kritis atas gagasan, teori, atau sitasi yang diberikan 

“sandingkan dan bandingkanlah…” : penulis diminta untuk memperlihatkan hal-hal yang serupa dan berbeda dari sebuah pemaparan atau gagasan 

“jelaskan…” : penulis diminta untuk memaparkan wawasannya wacana sebuah topik 

“diskusikan secara mendalam tentang…” : penulis diminta untuk menawarkan pemaparan terperinci (komprehensif) untuk mengkaji dan mendukung sebuah gagasan –biasanya dilakukan dengan memakai ragam bahasa akademik spesifik (memuat istilah-istilah yang khusus berlaku dalam sebuah disiplin ilmu) 

“definisikan…” : penulis diminta untuk merunut sebuah definisi dan menegaskan batas-batasnya 

“deskripsikan…” : penulis diminta untuk menceritakan ulang sebuah hal berdasarkan perspektif atau opini pribadinya 

“paparkan dengan rinci…”: penulis diminta untuk mendeskripsikan komponen-komponen sebuah hal secara obyektif 

“bahas/diskusikan…” : penulis diminta untuk berbicara secara kritis wacana sebuah topik –baik dari sisi pro maupun kontra 

“jelaskan mengapa…tidak…”: penulis diminta untuk secara tegas memperlihatkan dan menjelaskan masalah-masalah yang muncul dari sebuah pendapat atau pernyataan 

“evaluasi…”: penulis diminta untuk menjelaskan seberapa besar lengan berkuasa sebuah gagasan atau catatan terhadap tujuan semula 

“jelaskan dengan sederhana…” : penulis diminta untuk memaparkan dengan ragam bahasa akademik yang umum kepada pihak-pihak yang belum memahami/awam dengan topik pembahasan 

“berikan ilustrasi tentang…”: penulis diminta untuk menyediakan contoh-contoh atau situasi yang membantu menjelaskan topik yang sedang didiskusikan

“interpretasikan…”: penulis diminta untuk menawarkan tafsiran yang memuaskan wacana data, serta menarik kesimpulan dari bukti yang telah diberikan. 

“justifikasi/buktikan…”: penulis diminta untuk menyediakan bukti dan argumen yang mendukung kesimpulan yang diberikan 

“berikan garis besar dari…”: penulis diminta untuk mencari kalimat-kalimat kunci dari setiap paragraf dan menyatukannya 

“rangkumlah…”: penulis diminta untuk menentukan bagian-bagian yang paling penting dan lalu membahasakannya ulang dengan kata-kata sendiri 

“telusuri…/tunjukkan bagaimana…”: penulis diminta untuk memperlihatkan bagaimana sebuah wangsit atau insiden dikembangkan dari wangsit atau insiden sebelumnya 

“hubungkan…”: penulis diminta untuk memperlihatkan korelasi logis antara dua hal 

“berikan penilaian menyeluruh terhadap…”: penulis diminta untuk merangkum dan menelisik apa yang sudah dipaparkan 

“buat catatan singkat tentang…”: penulis diminta untuk menawarkan pemandangan umum wacana hal-hal yang paling penting –bukan memaparkan detil


Dua Strategi dalam Menganalisis Paragraf

  • Paragraf Deduktif 
  • Paragraf Induktif


Paragraf Deduktif dan Induktif Adalah Sebuah Pengantar 

Patrick J. Hurley, hal.35&36 menyatakan bahwa paragraf deduktif mengambil kesimpulan eksklusif dari pernyataan-pernyataan yang ada di dalamnya, sementara paragraf induktif sanggup mempunyai kesimpulan yang ditarik dari pernyataan-pernyataan yang ditemukan dalam paragraf tersebut.



Sumber http://wikiwoh.blogspot.com

Tuesday, November 20, 2018

Bahasa Indonesia : Dasar-Dasar Menciptakan Paragraf Deduktif, Induktif, Dan Contoh

Bahasa Indonesia : Dasar-Dasar Membuat Paragraf Deduktif, Induktif, dan Contoh




Ciri Paragraf Deduktif Menurut Hurley


  • Ada satu kalimat yang merupakan kebenaran realitas (truth) atau dasar teori yang sudah diterima (konvensi) atau kepastian (keniscayaan) yang dianggap tidak perlu dipertanyakan lagi (kalimat kunci deduktif). 
  • Kalimat-kalimat lainnya berisi “subyek” atau “predikat” dari kalimat kunci (kalimat pendukung). 
  • Kalimat-kalimat penjelas dan ilustrasi menjelaskan kalimat pendukung. 
  • “Biasanya kalimat kunci deduktif terletak di awal paragraf” –kebiasaan dan BUKAN ATURAN


Contoh Paragraf Deduktif Sederhana


Air mendidih di seluruh permukaan yang berada di ketinggian 0-10 m di atas permukaan maritim pada suhu seratus derajat Celsius. (kalimat kunci) Di penggalan utara air mendidih pada suhu yang sama, dan di sebelah selatan air mencapai titik didih di angka yang serupa. (kalimat pendukung) Air mendidih di kedua wilayah tersebut pada 100 derajat Celcius.(kalimat pendukung)


Ciri Paragraf Induktif Menurut Hurley


  • Ada satu kalimat yang merupakan kesimpulan umum yang ditarik dari kalimat-kalimat pendukung (kalimat kunci induktif). “Subyek” dari kalimat kunci ialah bentuk umum dari “subyek” kalimat pendukung. 
  • Kalimat-kalimat pendukung semuanya membentuk pola yang serupa. 
  • Kalimat-kalimat penjelas dan ilustrasi menjelaskan kalimat pendukung. 
  • “Biasanya kalimat kunci induktif terletak di selesai paragraf” –kebiasaan dan BUKAN ATURAN


Contoh Paragraf Induktif Sederhana

Di Jakarta hasil penelitian memperlihatkan bahwa jumlah penderita malaria meningkat sepuluh persen. (kalimat pendukung) Di Surabaya dan Semarang angka penderita yang masuk di Departemen Kesehatan cenderung naik sembilan persen.(kalimat pendukung) Angka-angka yang ditunjukkan oleh kota-kota di pulau Jawa mengindikasikan epidemi malaria. (kalimat kunci) 




Prinsip Dasar Membuat Paragraf: Deduktif atau Induktif

  • Hanya ada dua pilihan dalam menciptakan paragraf akademik: deduktif atau induktif. paragraf kosong bukan pilihan dalam goresan pena akademik. 
  • Don Shiach (2007:12): Apa itu “ [paragraf] kosong”? Yang dimaksud ialah ketika mahasiswa mencoba menyembunyikan kenyataan bahwa mereka tidak tahu apa-apa sehingga mereka merangkai sebuah [paragraf] yang berlaku terlalu umum, dan sama sekali tidak relevan dengan pertanyaan.

Contoh Paragraf “Kosong”

Masalah ini ialah sebuah permasalahan yang sangat penting, dan ada banyak pendekatan yang sanggup dilakukan. Banyak pakar telah membahas persoalan ini secara serius, namun tidak ada satu pun di antara mereka yang berhasil memperlihatkan solusi yang efektif. Ada banyak argumen yang mendukung dan menentang, dan banyak orang yang menaruh perhatian perihal persoalan ini. (Shiach, ibid.) 

Pertanyaan ini telah menciptakan para jago sejarah merasa galau selama bertahun-tahun. Sirkumstansi historis sangat kompleks, dan bahkan banyak sekali argumen dan kontra-argumen yang muncul sangat membingungkan. Pada kenyataannya sangat sulit untuk menciptakan sebuah evaluasi terhadap masalah-masalah kritis semacam ini. Pilihan paling rasional yang sanggup dilakukan ialah dengan cara mempertimbangkan bukti-bukti historis dan menarik sebuah kesimpulan yang relevan. (Shiach, hal.13)


Mengapa paragraf sanggup “kosong” ? 

  • Kedua paragraf kosong tersebut disebabkan oleh kemunculan kalimat kunci yang sifatnya semu –tidak terukur. 
  • Kalimat kunci yang sebetulnya hanya dijangkarkan pada pendekatan deduktif dan induktif. 
  • Penyebab lain dari paragraf kosong ialah ketiadaan kalimat pendukung yang memperlihatkan justifikasi terhadap kalimat kunci (tanpa fakta atau teori).


Struktur Dasar Paragraf Standar (Akademik)


  • Elemen Primer (mutlak ada): 
    • HANYA SATU kalimat kunci 
    • Dua atau tiga kalimat pendukung untuk mendukung kalimat kunci 

  • Elemen Sekunder (opsional): 
    • Satu atau dua kalimat pola atau ilustrasi untuk menjelaskan masing-masing kalimat pendukung



Pola Dasar Deduktif

Orientasi pendekatan prinsip-prinsip etik intinya sanggup dibagi menjadi proses dan hasil. Dalam pendekatan proses, sebuah tindakan dikategorikan memenuhi instruksi etik apabila keseluruhan tahapan mengacu pada nilai-nilai dasar kemanusiaan. Dalam orientasi hasil, sebuah agresi dikatakan etik jikalau hasilnya sejalan dengan hak-hak dasar seorang manusia. Contoh dari pendekatan pertama ialah ketika insan tidak berbohong sekalipun tindakan tersebut dilakukan untuk kebaikan. Contoh untuk pendekatan kedua ialah ketika insan terpaksa harus membunuh demi mempertahankan hidupnya. 


Struktur Pola Dasar Deduktif

  • kalimat kunci -KK 
  • kalimat pendukung 1 –KP1 
  • kalimat pendukung 2 –KP2 
  • kalimat penjelas 1 (untuk kalimat pendukung 1) –KJ 1 
  • kalimat penjelas 2 (untuk kalimat pendukung 2) –KJ2 

  • Pola Dasar: KK-KP1-KP2-KJ1-KJ2


Pola Dasar Induktif

Pengambilan sampel hitung-cepat di pulau Jawa mencapai tingkat akurasi yang mendekati angka 91,5%. Kenyataan ini sanggup dilihat dari hasil yang didapat di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Proses serupa yang dilakukan di Sumatra mencapai angka 93%. Medan, Padang, dan Palembang ialah indikator-indikator terpercaya dari temuan tersebut. Metode hitung-cepat di Indonesia diprediksi menghasilkan asumsi pemenang pemilihan kepala kawasan dengan tingkat kepercayaan di atas 90%.


Contoh Lain Paragraf Induktif

Kaum sekuler Israel sering mengeluhkan bahwa kaum ultra-ortodoks tidak memperlihatkan bantuan terhadap masyarakat, dan gaya hidup semacam ini hanya menumpangi kerja keras pihak lain. [kalimat pendukung 1] Kubu sekuler juga berargumen bahwa cara hidup kubu ultra-ortodoks juga sangat membebani, terutama lantaran keluarga semacam ini rata-rata mempunyai tujuh orang anak. [kalimat pendukung 2] Bagi mereka, cepat atau lambat negara tidak akan lagi sanggup membiayai begitu banyak pengangguran terselubung semacam ini, dan pada risikonya pihak ultra-ortodoks tetap harus bekerja menyerupai yang lain. [kalimat pendukung 3] […] [Masalahnya, keluhan mereka yang berseberangan dengan kaum konservatif ini mungkin tidak akan terbukti lantaran di masa depan] lantaran tuntutan untuk mencari makna dan kelekatan komunitas sanggup mengatasi tuntutan untuk mencari pekerjaan. [kalimat kunci] 

Disadur dan diterjemahkan bebas dari 21 Lessons for the 21st Century, Yuval Noah Harari (Jonathan Cape: 2018, hal.40).


Struktur Dasar Pola Induktif

  • kalimat pendukung 1 –KP1 
  • kalimat penjelas 1 (untuk kalimat pendukung 1) –KJ1 
  • kalimat pendukung 2 –KP2 
  • kalimat penjelas 2 (untuk kalimat pendukung 2) –KJ2 
  • kalimat kunci –KK 

  • Pola Dasar: KP1-KJ1-KP2-KJ2-KK

Sumber http://wikiwoh.blogspot.com

Monday, November 19, 2018

Bahasa Indonesia : Bahasa, Peradaban Manusia, Dan Identitas

Bahasa Indonesia : Bahasa, Peradaban Manusia, dan Identitas



Manusia dan Bahasa



Yuval Noah Harari (Sapiens, A Brief History of Humankind, h.23): 70 ribu tahun yang kemudian insan mengalami revolusi kognitif (Latin: ‘cognoscere’ –kemampuan untuk mengenali/mengetahui). 

Ini berarti bahwa insan sudah bisa mengidentifikasi. Cara insan untuk mengidentifikasi realitas apa pun yang ia hadapi dalam dunianya (Jerman: Lebenswelt) yakni melalui bahasa.



Realitas Manusia yakni Realitas Bahasa


Martin Heidegger: insan membentuk realitasnya dengan bahasa (“language is the house of [b]eings”) –tanpa bahasa insan tidak akan bisa melaksanakan apa-apa.




Tulisan sebagai Sendi Peradaban


Harari: Manusia –homo sapiens [sapiens] –adalah spesies terkuat (Harari, Homo Deus, A Brief History of Tomorrow, h.117). Kekuatan utama insan yakni ketika ia bisa membahasakan realitasnya –terutama dalam bentuk goresan pena (ibid., h.190). 




Keunggulan Manusia Dibandingkan dengan Spesies Lain


Lewat biologi, kita tahu bahwa baik insan (human animals) maupun binatang (non-human animals), intinya mempunyai kemampuan untuk melaksanakan penginderaan.


Namun demikian, HANYA insan yang sanggup melanjutkan tahapan pengindraan ke tahapan selanjutnya: tahapan persepsi yang menjadi dasar dari bahasa verbal apapun, yang sanggup dikategorikan sebagai kesadaran.




Kebudayaan sebagai Kumpulan Persepsi


Harari: insan sanggup membangun budaya –kebudayaan (naluri artifisial, yang memungkinkan jutaan orang absurd bekerja sama yang dibangun atas dasar persepsi); Harari, loc.cit., h.181). 





Harari: Tiga Persepsi Utama dalam Kebudayaan


Tiga titik tumpu kebudayaan (Harari, ibid.264): 
  • Alat tukar (uang-absolut global), 
  • Gagasan wacana realitas yang melampaui realitas (religiositas-dominan regional), dan 
  • Sistem pemerintahan yang kompleks (imperium/negara-bangsa-dominan nasional) hanya mungkin terjadi oleh bahasa.




Peradaban sebagai Proses Menjadi Manusia ( Paideia dan Artes Liberales )


Proses Pe-manusia-an



Dalam kerangka “kontrak sosial” John Locke dan dalam kerangka “manusia sebagai bahaya terhadap insan lain” Thomas Hobbes sekalipun, insan mengalami proses yang disebut oleh Norbert Elias: “pemberadaban” (Inggris –Brit.: civilising). Artinya: manusia akan menjadi semakin beradab –lebih ramah terhadap sesamanya. 














Proses Pemanusiaan ( Paideia )

Bartolomeus Samho: pelajaran menjadi insan beradab (paideia-studia humanitatis) dalam sejarahnya berkembang ke arah membentuk insan yang terbebas dari keterkungkungannya lewat “keterampilan” (Latin: ars, Yunani: techne) yang membebaskan –artes liberales (Samho, “Humanisme Yunani Klasik dan Abad Pertengahan”, hh.17-43).




Kungkungan Hidup Manusia

Harari menyatakan bahwa kungkungan “masa lalu” insan ada tiga 
  • kelaparan, 
  • penyakit dan 
  • perang (Harari, Homo Deus…, loc.cit.,h.2). 

Pada dasarnya insan di masa ke-21 ini sudah bisa mengatasi ketiganya lewat dukungan teknologi. Teknologi yang berhasil mengatasi ketiga “penjara” insan ini dibangun lewat bahasa. 





Kekuatan Bahasa

J.L. Austin: bahasa mempunyai kekuatan untuk merealisasikan –atau yang diistilahkan sebagai “performatif” (Austin, How to Do Things with Words, hh.6-7); Patrick J. Hurley: kekuatan bahasa ada pada pernyataan –statement– alasannya yakni sanggup diperiksa benar/salahnya –truth value.



Referensi dan Predikasi

John R. Searle: kekuatan bahasa insan didasari dua potensi dasar –bahwa kata-kata yang dibangun sanggup mengacu pada sesuatu (“referensi”) dan bahwa acuan yang diajukan sanggup dijelaskan lebih lanjut (kemungkinan untuk “dipredikasi”) –Searle, Speech Acts, An Essay in the Philosophy of Language, h.h.72-73,97.




Manusia sebagai Sumber Bahasa

W. N. Francis: alih-alih kata mempunyai makna –justru insan yang memaknai kata (Francis, The English Language, An Introduction Background for Writing, h.119). David Crystal: bahasa hanya ada di otak, mulut, telinga, tangan dan mata para penggunanya (Crystal, English as a Global Language, h.7). 

Artinya, baik Francis dan Crystal setuju bahwa bahasa yang tergantung pada insan dan BUKAN insan yang tergantung pada bahasa.

Proses “pencanggihan” insan ini lewat institusi ini (Aulus Gellius: eruditionem insti[t]ionemque –dalam Samho, loc.cit.,h.19) kemudian berkembang di Abad Pertengahan menjadi proses 
  • Trivium (BAHASA, retorika, logika) dan 
  • Quadrivium ([aritmatika], geometri, astronomi, musik).

Dalam perkembangan selanjutnya, salah satu keharusan insan paripurna (kalos kagathos) yakni kemampuannya menulis (ars dictaminis) –Samho, ibid.,h.26)


Bahasa dan Realitas



Bahasa dan Identitas (Realitas Identitas dari Perspektif Bahasa )


Gagasan-Gagasan wacana Identitas: Amartya Sen dan Harari

Amartya Sen dalam Identity and Violence: identitas sudah selalu bersifat jamak (plural). 

Harari dalam Sapiens…: identitas yakni sebuah bentuk taktik yang diharapkan insan dalam berhadapan dengan ganasnya proses evolusi. 



Ricoeur dan Candlish



Stewart Candlish, “Mind, Brain and Identity”, h.506: identitas lahir dari pembagian terstruktur mengenai yang diberikan terhadap orang yang mengusungnya, dan bukan dari diri sendiri. Seturut Paul Ricoeur, dalam L’Idéologie et l’Utopie, h.19: memiliki identitas sebagai sebuah ideologi itu layaknya meminjam barang yang dipinjam dari yang lain yang juga merupakan barang pinjaman. 

Seturut Max Tegmark dalam Life 3.0, Being Human in the Age of Artificial Intelligence dengan gagasannya wacana realitas sebagai fenomen[a] yang tersembul -“emergent phenomenon”: kesadaran tentang identitas sanggup kita sandingkan sebagai sebuah sembulan tampak dari realitas yang sesungguhnya. 

Dengan demikian, identitas bukanlah sebuah bentukan kaku yang sudah jadi (ajeg), SEBALIKNYA, identitas yakni sebuah rekonstruksi realitas yang plural (Sen), strategis (Harari), berasal dari yang lain (Ricoeur, Candlish), dan mewakili namun tidak mendeskripsikan secara utuh (Tegmark). 


Identitas sebagai “Realitas” yang Diciptakan oleh Bahasa 



Bila: (1) apapun yang ada dalam realitas keseharian insan yakni realitas yang dibuat oleh bahasa; dan (2) identitas yakni sebuah rekonstruksi atas realitas dengan segala keterbatasannya; 

Maka: identitas yakni realitas terbatas yang dibuat oleh bahasa. Ini berarti bahwa hanya melalui bahasa seseorang sanggup membentuk identitasnya.



Noam Chomsky dalam “Language and Freedom”, h.154: mempelajari bahasa yakni mempelajari bagaimana sistem-sistem yang ada dalam masyarakat (sebagai institusi sosial) bekerja. Tidak terkecuali pula identitas sebagai bab dari prosedur sosial dan politis: hanya dengan membahasakan identitas insan bisa menjadi bab dari interaksi semacam ini. 

Alexander Miller dalam Philosophy of Language secara implisit membagi empat tahap perkembangan bahasa: 
  1. Pra-Fregean: bahasa sebagai alat komunikasi 
  2. Fregean: bahasa sebagai referensi 
  3. Wittgensteinian: referensi dalam bahasa sebagai konstruksi strategis –”bermain” 
  4. Pasca-Wittgensteinian: bahasa sebagai rekonstruksi realitas yang sifatnya artifisial/ buatan manusia

Kim Middleton dalam “Alternate Universes on Video: Ficvid and the Future of Narrative”, h.122: bahwa konstruksi narasi kini dan di masa yang akan tiba bukan sekedar konstruksi estetis untuk tujuan hiburan –namun justru masuk ke wilayah kognisi. Artinya –gelagat kontemporer bicara soal cerita yang menjadi kenyataan; dalam titik ini: identitas –termasuk yang bersifat politis –adalah identitas yang dibuat lewat cerita.

Artinya: Bahasa Indonesia yakni sebuah rekonstruksi akan sebuah gagasan wacana keindonesiaan, dan wujud paling konkret dari Indonesia sebagai sebuah “realitas” ADA di dalam bahasa Indonesia. 

Kita TIDAK memakai Bahasa Indonesia untuk menyatakan keindonesiaan kita; ESENSI dari proses mengindonesia ada dalam Bahasa Indonesia.

“Ketepatan penggunaan kata yakni tanda penguasaan pengetahuan.”

Cerminan orang yang berpengetahuan sanggup dilihat dari penggunaan bahasa yang mereka gunakan. Akan "ngawur" pemikiran seseorang apabila orang tersebut tidak bisa berbahasa dengan baik dan benar.


Sumber http://wikiwoh.blogspot.com

Laptop Graphic Terbaik Untuk Desain Grafis 2014

Mereview Laptop Desain Grafis tahun 2014 OPOSIP - Ketika saya bekerja dari rumah saya mempunyai sebuah PC yang didedikasikan yang sang...