Showing posts with label Lowongan Usaha. Show all posts
Showing posts with label Lowongan Usaha. Show all posts

Monday, March 5, 2018

Proses Pembuatan Tempe

Sekilas Tentang Tempe 
Tempe ialah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa materi lain yang memakai beberapa jenis kapang Rhizopus, ibarat Rhizopus oligosporus, Rh. oryzae, Rh. stolonifer (kapang roti), atau Rh. arrhizus. Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai "ragi tempe".
Kapang yang tumbuh pada kedelai menghidrolisis senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana yang gampang dicerna oleh manusia. Tempe kaya akan serat pangan, kalsium, vitamin B dan zat besi. Berbagai macam kandungan dalam tempe mempunyai nilai obat, ibarat antibiotika untuk menyembuhkan benjol dan antioksidan pencegah penyakit degeneratif.
Secara umum, tempe berwarna putih alasannya ialah pertumbuhan miselia kapang yang merekatkan biji-biji kedelai sehingga terbentuk tekstur yang memadat. Degradasi komponen-komponen kedelai pada fermentasi menciptakan tempe mempunyai rasa dan aroma khas. Berbeda dengan tahu, tempe terasa agak masam.
Tempe banyak dikonsumsi di Indonesia, tetapi kini telah mendunia. Kaum vegetarian di seluruh dunia banyak yang telah memakai tempe sebagai pengganti daging. Akibatnya kini tempe diproduksi di banyak tempat di dunia, tidak hanya di Indonesia. Berbagai penelitian di sejumlah negara, ibarat Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat. Indonesia juga kini berusaha menyebarkan galur (strain) unggul Rhizopus untuk menghasilkan tempe yang lebih cepat, berkualitas, atau memperbaiki kandungan gizi tempe.

Proses Pembuatan Tempe 
Terdapat banyak sekali metode pembuatan tempe. Namun, teknik pembuatan tempe di Indonesia secara umum terdiri dari tahapan perebusan, pengupasan, perendaman dan pengasaman, pencucian, inokulasi dengan ragi, pembungkusan, dan fermentasi.
  • Pada tahap awal pembuatan tempe, biji kedelai direbus. Tahap perebusan ini berfungsi sebagai proses hidrasi, yaitu biar biji kedelai menyerap air sebanyak mungkin. Perebusan juga dimaksudkan untuk melunakkan biji kedelai supaya nantinya sanggup menyerap asam pada tahap perendaman. 
  • Kulit biji kedelai dikupas pada tahap pengupasan biar miselium fungi sanggup menembus biji kedelai selama proses fermentasi. Pengupasan sanggup dilakukan dengan tangan, diinjak-injak dengan kaki, atau dengan alat pengupas kulit biji.
  • Setelah dikupas, biji kedelai direndam. Tujuan tahap perendaman ialah untuk hidrasi biji kedelai dan membiarkan terjadinya fermentasi asam laktat secara alami biar diperoleh keasaman yang diharapkan untuk pertumbuhan fungi. Fermentasi asam laktat terjadi dicirikan oleh munculnya bau asam dan buih pada air rendaman akhir pertumbuhan kuman Lactobacillus. Bila pertumbuhan kuman asam laktat tidak optimum (misalnya di negara-negara subtropis, asam perlu ditambahkan pada air rendaman. Fermentasi asam laktat dan pengasaman ini ternyata juga bermanfaat meningkatkan nilai gizi dan menghilangkan bakteri-bakteri beracun.
  • Proses pembersihan selesai dilakukan untuk menghilangkan kotoran yang mungkin dibuat oleh kuman asam laktat dan biar biji kedelai tidak terlalu asam. Bakteri dan kotorannya sanggup menghambat pertumbuhan fungi.
  • Inokulasi dilakukan dengan penambahan inokulum, yaitu ragi tempe atau laru. Inokulum sanggup berupa kapang yang tumbuh dan dikeringkan pada daun waru atau daun jati (disebut usar; dipakai secara tradisional), spora kapang tempe dalam medium tepung (terigu, beras, atau tapioka; banyak dijual di pasaran), ataupun kultur R. oligosporus murni (umum dipakai oleh pembuat tempe di luar Indonesia).  Inokulasi sanggup dilakukan dengan dua cara, yaitu (1) penebaran inokulum pada permukaan kacang kedelai yang sudah masbodoh dan dikeringkan, kemudian dicampur merata sebelum pembungkusan; atau (2) inokulum sanggup dicampurkan eksklusif pada ketika perendaman, dibiarkan beberapa lama, kemudian dikeringkan.
  • Setelah diinokulasi, biji-biji kedelai dibungkus atau ditempatkan dalam wadah untuk fermentasi. Berbagai materi pembungkus atau wadah sanggup dipakai (misalnya daun pisang, daun waru, daun jati, plastik, gelas, kayu, dan baja), asalkan memungkinkan masuknya udara alasannya ialah kapang tempe membutuhkan oksigen untuk tumbuh. Bahan pembungkus dari daun atau plastik biasanya diberi lubang-lubang dengan cara ditusuk-tusuk.
  • Biji-biji kedelai yang sudah dibungkus dibiarkan untuk mengalami proses fermentasi. Pada proses ini kapang tumbuh pada permukaan dan menembus biji-biji kedelai, menyatukannya menjadi tempe. Fermentasi sanggup dilakukan pada suhu 20 °C–37 °C selama 18–36 jam. Waktu fermentasi yang lebih singkat biasanya untuk tempe yang memakai banyak inokulum dan suhu yang lebih tinggi, sementara proses tradisional memakai laru dari daun biasanya membutuhkan waktu fermentasi hingga 36 jam.
Sekian postingan perihal Proses Pembuatan Tempe, semoga menambah isu bagi kita sehingga bisa mendorong timbulnya inspirasi bisnis gres terutama varian tempe atau yang terkait yang sanggup kita kerjakan biar pengganguran di negeri kita berkurang dan ekonomi keluarga kita meningkat.
Postingan yang saya jabarkan mungkin saja secara detail kurang lengkap, saran saya bagi yang ingin serius berusaha ada baiknya bertanya kepada penyuluh TTG yang ada didaerah saudara atau membeli buku Tatacara atau Proses Membuat Tempe yang dilengkapi gambar sehingga pada prakteknya tidak salah dan merugikan baik untuk pribadi (modal dan waktu) maupun bagi lingkungan

Sumber Artikel : id.wikipedia.org/wiki/Tempe

Sumber http://terapanteknologitepatguna.blogspot.com

Thursday, March 1, 2018

Proses Pembuatan Abon Ikan

Masih terkait postingan sebelumnya dimana blog Terapan Teknologi Tepat Guna telah memposting Proses Pembuatan Abon Daging, maka kali ini akan saya coba posting yang serupa namun dengan materi dasar ikan. Abon ikan banyak kita jumpai dijual dipasaran dengan bermacam-macam jenis ikan sebagai materi dasar dan dengan harga yang bervariasi pula.

Abon ikan merupakan produk yang memadukan cara pengawetan ikan dengan perebusan atau pengukusan, penambahan bumbu – bumbu tertentu dan penggorengan. Produk ini memiliki tekstur yang lembut rasa dan aroma yang khas, baon ikan sanggup dipakai untuk lauk makan nasi =, teman makan roti maupun sebagai isi pada beberapa masakan kecil.

Umumnya abon ikan dibentuk dari daging ikan cakalang, tongkol,  tuna, lele, patin dan ikan cucut, akan tetapi di dalam pembahasan ini kita memakai materi daging IKAN PATIN (sumber artikel ini memakai jenis ikan patin, jadi kita ikuti saja biar tidak salah dalam penyampaian materinya) 

Pemilihan Ikan.
Ikan patin yang baik dibentuk abon ikan patin ialah yang berusia +- 8 bulan keatas dengan berat lebih kurang 7 ons. Kondisi ini juga berlaku jikalau dalam pembuatan abon ikan ini Anda memakai ikan jenis lain.

Bumbu – bumbu
Untuk tiap 100 kg ikan patin (bisa juga daging ikan lainnya tergantung kawasan Anda banyak tersedia ikan jenis apa) ialah sebagai berikut :
Garam 1,5 kg
Gula 15 kg
Ketumbar 0,3 kg
Bawang merah 2 kg
Bawang putih 1,6 kg
Minyak goreng 20 kg (boleh ditiadakan)
Asam 0,9 kg
Jahe 0,1 kg
Serai / kamijara secukupnya
Daun salam secukupnya
Laos 0,1 kg

Selain bumbu diatas, dalam pembuatan abon ikan kadang – kadang dipakai pula santan kelapa yang kental, tetapi abon tidak akan bertahan usang dan jikalau disimpan biasanya gampang menjadi tengik.

Langkah Pembuatan Abon Ikan Patin, sanggup dijabarkan sebagai berikut :

Penyiangan
Ikan disiangi dengan dibuang isi dalam perut dan dipotong – potong melintang untuk memudahkan pengukusan, lalu basuh hingga bersih

Pengukusan
Ikan dikukus hingga matang (untuk memudahkan pengambilan daging dan memisahkan dari tulang). selanjutnya Daging ikan dicabik cabik – cabik, lalu ditumbuk hingga menjadi penggalan – penggalan yang halus

Pemberian Bumbu
Bumbu – bumbu dihaluskan lebih dahulu, lalu dicampurkan dengan daging yang telah berbentuk penggalan hingga merata

Penggorengan. 
Daging ikan yang telah dicampur dengan bumbu lalu digoreng dengan minyak atau tanpa minyak hingga diaduk – aduk supaya supaya tidak hangus. Apabila memakai minyak, daging ikan harus seluruhnya terendam biar diperoleh abon yang kering dan renyah. Penggorengan dilarang saat abon telah berwarna kuning kecoklatan
 
Pengepresan. 
Setelah diangkat dari wajan, abon dimasukkanke dalam alat pres dan ditekan – tekan hingga minyak nya habis keluar. Kemudian abon dikeluarkan dengan memakai garpu. Untuk menghasilkan aroma (bau) dan rasa yang yummy sanggup ditambahkan bawang gireng pada abon yang telah matang

Pengemasan. 
Setelah dingin, abon dikemas di dalam kantung plastik atau kertas minyak. Peningkatan daya simpan akan diperoleh jikalau dipakai pembungkus hampa udara.

Potensi bisnis pembuatan abon ikan patin
Dengan harga ditingkat konsumen mencapai 25 ribu rupiah per ons-nya ditambah ongkos produksi yang tidak begitu besar menciptakan perjuangan pembuatan abon ikan patin sanggup menjadi alternatif bisnis bagi kita semua.

Sekian postingan perihal Proses Pembuatan Abon Ikan semoga bermanfaat dan membuka wawasan kita bagi yang ingin berwirausaha mandiri. 

Postingan yang saya jabarkan mungkin saja secara detail kurang lengkap, saran saya bagi yang ingin serius berusaha ada baiknya bertanya kepada penyuluh TTG yang ada didaerah saudara atau membeli buku Membuat Abon Ikan yang dilengkapi gambar sehingga pada prakteknya tidak salah dan merugikan baik untuk eksklusif (modal dan waktu) maupun bagi lingkungan

Sumber Artikel : http://shampankbie.blogspot.com

Sumber http://terapanteknologitepatguna.blogspot.com

Wednesday, February 28, 2018

Proses Pengolahan Ikan Asap

Ikan bukanlah hal yang abnormal bagi kita khususnya masyarakat Indonesia lantaran hampir tiap hari kita bisa makan ikan segar, terlebih tempat saya yang terletak di Pulau Sabang, ikan segar sangat gampang didapat baik dengan cara memancing sendiri maupun membeli pada penjual atau pribadi pada nelayan yang gres pulang dari laut.

Ikan merupakan materi makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat selain sebagai komoditi ekspor. Ikan cepat mengalami proses pembusukan dibandingkan dengan materi makanan lain. Bakteri dan perubahan kimiawi pada ikan mati menimbulkan pembusukan. Mutu olahan ikan sangat tergantung pada mutu materi mentahnya.

Tanda ikan yang sudah busuk:
-  mata suram dan tenggelam;
-  sisik suram dan gampang lepas;
-  warna kulit suram dengan lendir tebal;
-  insang berwarna kelabu dengan lendir tebal;
-  dinding perut lembek;
-  warna keseluruhan suram dan berbau busuk.

Tanda ikan yang masih segar:
-  daging kenyal;
-  mata jernih menonjol;
-  sisik besar lengan berkuasa dan mengkilat;
-  sirip kuat;
-  warna keseluruhan termasuk kulit cemerlang;
-  insang berwarna merah;
-  dinding perut kuat;
-  anyir ikan segar.

Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak dikonsumsi masyarakat, gampang didapat, dan harganya murah. Namun ikan cepat mengalami proses pembusukan. Oleh lantaran itu pengawetan ikan perlu diketahui semua lapisan masyarakat. Pengawetan ikan secara tradisional bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam badan ikan, sehingga tidak menawarkan kesempatan bagi basil untuk berkembang biak. Untuk mendapat hasil awetan yang bermutu tinggi diharapkan perlakukan yang baik selama proses pengawetan menyerupai : menjaga kebersihan materi dan alat yang digunakan, memakai ikan yang masih segar, serta garam yang bersih. Ada majemuk pengawetan ikan, antara lain dengan cara: penggaraman, pengeringan, pemindangan, perasapan, peragian, dan pendinginan

Manfaat makan ikan sudah banyak diketahui orang, menyerupai di negara Jepang dan Taiwanikan merupakan makanan utama dalam lauk sehari-hari yang menawarkan efek kekal muda dan keinginan hidup lebih tinggi dari negara lainnya. Penggolahan ikan dengan banyak sekali cara dan rasa menimbulkan orang mengkonsumsi ikan lebih banyak.

Ikan asap yakni hasil pengawetan ikan secara tradisional yang pengerjaannya merupakan campuran dari penggaraman (perendaman dalam air garam) dan pengasapan sehingga menawarkan rasa khas.

Berbagai cara penggasapan tergantung kepada faktor-faktor berikut :
a.    jenis ikan yang diasap;
b.    besar kecilnya ikan yang diasap.

BAHAN
1)    Ikan bandeng 6 kg
2)    Garam 1 kg
3)    Arang, serpihan kayu, atau serbuk gergaji secukupnya

ALAT
1)    Lemari asap (tungku, drum)
2)    Pisau
3)    Baskom

CARA PEMBUATAN
1)    Siangi ikan, cuci, dan kelompokkan berdasarkan ukuran;
2)    Masukkan garam ke dalam ½ liter air dan didihkan, kemudian dinginkan.
3)    Rendam ikan selama ± 15-20 menit, tiriskan, dan angin-anginkan sampai
permukaan kering;
4)    Ikat satu persatu kemudian :
a.  gantungkan dalam ruang pengasapan, dengan jarak masing-masing ± 1
cm atau;
b. gantung dengan ekor ke bawah dan kepala menghadap ke atas dengan memakai kaitan kawat, atau
c.  susun satu persatu di atas anyaman bambu, kemudian disusun dalam lemari pengasapan secara berlapis-lapis. Antara masing-masing lapisan diberi jarak kira-kira sama dengan rata-rata panjang ikan. Agar pengasapan merata ikan harus dibolak-balik.
 
5)    Siapkan materi bakar berupa arang dan potong-potong kayu di bawah ruang pengasap, kemudian bakar;

 
6)    Bubuhkan ampas tebu atau serbuk gergaji bertahap hingga timbul asap :
•  Panas diatur pada suhu ± 700 800 C. selama 2-3 jam (harus dijaga biar panas merata dan ikan tidak hingga hangus);
•  Panas diatur pada suhu ± 300 400 C selama 4 jam terus menerus. Hasil pengasapan ditandai dengan anyir harum yang khas dari ikan asap;7)    Keluarkan ikan asap dari lemari pengasapan kemudian bungkus atau kemas dalam kantong plastik.

Ciri-ciri khas ikan asap yang baik yakni :
a.  rupa dan warna: produk harus licin, mengkilat, dan berwarna coklat emas muda;
b. anyir dan rasa: produk menawarkan anyir atau aroma yang khas ikan asap (bau asap yang sedap dan merangsang selera);
c.  berair.

Dengan cara pengasapan pada suhu 700 800 C, ikan tahan usang disimpan hingga 1 bulan, dibandingkan dengan pengasapan pada suhu 200 300C (kurang dari 1 bulan) panas dibandingkan dengan pengasapan pada suhu 200 300C. (sampai 1 bulan).

Selain bandeng, ikan yang biasa diasap yakni ikan tembang, lemuru,
kembung, selar, tongkol, dan cakalang.

DAFTAR KEPUSTAKAAN :
1) Ikan asap. Jakarta : Dirjen Industri Kecil, Departemen Perindustrian, s.a.
2) Moeljanto. Pengasapan dan fermentasi. Jakarta : Penebar Swadaya, 1987.

Sekian postingan wacana Proses Pengolahan Ikan Asap, semoga menambah info bagi kita sehingga bisa mendorong timbulnya inspirasi bisnis gres yang sanggup kita kerjakan biar pengganguran di negeri kita berkurang dan ekonomi keluarga kita meningkat.

Postingan yang saya jabarkan mungkin saja secara detail kurang lengkap, saran saya bagi yang ingin serius berusaha ada baiknya bertanya kepada penyuluh TTG yang ada didaerah saudara atau membeli buku terkait pengolahan ikan asap yang dilengkapi gambar sehingga pada prakteknya tidak salah dan merugikan baik untuk pribadi (modal dan waktu) maupun bagi lingkungan

Sumber Artikel : http://shampankbie.blogspot.com

Sumber http://terapanteknologitepatguna.blogspot.com

Budidaya Ternak Belut

Belut ialah sekelompok ikan berbentuk seolah-olah ular yang termasuk dalam suku Synbranchidae. Suku ini terdiri dari empat genera dengan total 20 jenis. Jenis-jenisnya banyak yang belum diperikan dengan lengkap sehingga angka-angka itu sanggup berubah. Anggotanya bersifat pantropis (ditemukan di semua tempat tropika). (Sumber : http://kesehatan-ternak.blogspot.com

Sumber http://terapanteknologitepatguna.blogspot.com

Thursday, February 22, 2018

Proses Pembuatan Tempe

Sekilas Tentang Tempe 
Tempe ialah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa materi lain yang memakai beberapa jenis kapang Rhizopus, ibarat Rhizopus oligosporus, Rh. oryzae, Rh. stolonifer (kapang roti), atau Rh. arrhizus. Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai "ragi tempe".
Kapang yang tumbuh pada kedelai menghidrolisis senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana yang gampang dicerna oleh manusia. Tempe kaya akan serat pangan, kalsium, vitamin B dan zat besi. Berbagai macam kandungan dalam tempe mempunyai nilai obat, ibarat antibiotika untuk menyembuhkan benjol dan antioksidan pencegah penyakit degeneratif.
Secara umum, tempe berwarna putih alasannya ialah pertumbuhan miselia kapang yang merekatkan biji-biji kedelai sehingga terbentuk tekstur yang memadat. Degradasi komponen-komponen kedelai pada fermentasi menciptakan tempe mempunyai rasa dan aroma khas. Berbeda dengan tahu, tempe terasa agak masam.
Tempe banyak dikonsumsi di Indonesia, tetapi kini telah mendunia. Kaum vegetarian di seluruh dunia banyak yang telah memakai tempe sebagai pengganti daging. Akibatnya kini tempe diproduksi di banyak tempat di dunia, tidak hanya di Indonesia. Berbagai penelitian di sejumlah negara, ibarat Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat. Indonesia juga kini berusaha menyebarkan galur (strain) unggul Rhizopus untuk menghasilkan tempe yang lebih cepat, berkualitas, atau memperbaiki kandungan gizi tempe.

Proses Pembuatan Tempe 
Terdapat banyak sekali metode pembuatan tempe. Namun, teknik pembuatan tempe di Indonesia secara umum terdiri dari tahapan perebusan, pengupasan, perendaman dan pengasaman, pencucian, inokulasi dengan ragi, pembungkusan, dan fermentasi.
  • Pada tahap awal pembuatan tempe, biji kedelai direbus. Tahap perebusan ini berfungsi sebagai proses hidrasi, yaitu biar biji kedelai menyerap air sebanyak mungkin. Perebusan juga dimaksudkan untuk melunakkan biji kedelai supaya nantinya sanggup menyerap asam pada tahap perendaman. 
  • Kulit biji kedelai dikupas pada tahap pengupasan biar miselium fungi sanggup menembus biji kedelai selama proses fermentasi. Pengupasan sanggup dilakukan dengan tangan, diinjak-injak dengan kaki, atau dengan alat pengupas kulit biji.
  • Setelah dikupas, biji kedelai direndam. Tujuan tahap perendaman ialah untuk hidrasi biji kedelai dan membiarkan terjadinya fermentasi asam laktat secara alami biar diperoleh keasaman yang diharapkan untuk pertumbuhan fungi. Fermentasi asam laktat terjadi dicirikan oleh munculnya bau asam dan buih pada air rendaman akhir pertumbuhan kuman Lactobacillus. Bila pertumbuhan kuman asam laktat tidak optimum (misalnya di negara-negara subtropis, asam perlu ditambahkan pada air rendaman. Fermentasi asam laktat dan pengasaman ini ternyata juga bermanfaat meningkatkan nilai gizi dan menghilangkan bakteri-bakteri beracun.
  • Proses pembersihan selesai dilakukan untuk menghilangkan kotoran yang mungkin dibuat oleh kuman asam laktat dan biar biji kedelai tidak terlalu asam. Bakteri dan kotorannya sanggup menghambat pertumbuhan fungi.
  • Inokulasi dilakukan dengan penambahan inokulum, yaitu ragi tempe atau laru. Inokulum sanggup berupa kapang yang tumbuh dan dikeringkan pada daun waru atau daun jati (disebut usar; dipakai secara tradisional), spora kapang tempe dalam medium tepung (terigu, beras, atau tapioka; banyak dijual di pasaran), ataupun kultur R. oligosporus murni (umum dipakai oleh pembuat tempe di luar Indonesia).  Inokulasi sanggup dilakukan dengan dua cara, yaitu (1) penebaran inokulum pada permukaan kacang kedelai yang sudah masbodoh dan dikeringkan, kemudian dicampur merata sebelum pembungkusan; atau (2) inokulum sanggup dicampurkan eksklusif pada ketika perendaman, dibiarkan beberapa lama, kemudian dikeringkan.
  • Setelah diinokulasi, biji-biji kedelai dibungkus atau ditempatkan dalam wadah untuk fermentasi. Berbagai materi pembungkus atau wadah sanggup dipakai (misalnya daun pisang, daun waru, daun jati, plastik, gelas, kayu, dan baja), asalkan memungkinkan masuknya udara alasannya ialah kapang tempe membutuhkan oksigen untuk tumbuh. Bahan pembungkus dari daun atau plastik biasanya diberi lubang-lubang dengan cara ditusuk-tusuk.
  • Biji-biji kedelai yang sudah dibungkus dibiarkan untuk mengalami proses fermentasi. Pada proses ini kapang tumbuh pada permukaan dan menembus biji-biji kedelai, menyatukannya menjadi tempe. Fermentasi sanggup dilakukan pada suhu 20 °C–37 °C selama 18–36 jam. Waktu fermentasi yang lebih singkat biasanya untuk tempe yang memakai banyak inokulum dan suhu yang lebih tinggi, sementara proses tradisional memakai laru dari daun biasanya membutuhkan waktu fermentasi hingga 36 jam.
Sekian postingan perihal Proses Pembuatan Tempe, semoga menambah isu bagi kita sehingga bisa mendorong timbulnya inspirasi bisnis gres terutama varian tempe atau yang terkait yang sanggup kita kerjakan biar pengganguran di negeri kita berkurang dan ekonomi keluarga kita meningkat.
Postingan yang saya jabarkan mungkin saja secara detail kurang lengkap, saran saya bagi yang ingin serius berusaha ada baiknya bertanya kepada penyuluh TTG yang ada didaerah saudara atau membeli buku Tatacara atau Proses Membuat Tempe yang dilengkapi gambar sehingga pada prakteknya tidak salah dan merugikan baik untuk pribadi (modal dan waktu) maupun bagi lingkungan

Sumber Artikel : id.wikipedia.org/wiki/Tempe

Sumber http://terapanteknologitepatguna.blogspot.com

Sunday, February 18, 2018

Proses Pembuatan Abon Ikan

Masih terkait postingan sebelumnya dimana blog Terapan Teknologi Tepat Guna telah memposting Proses Pembuatan Abon Daging, maka kali ini akan saya coba posting yang serupa namun dengan materi dasar ikan. Abon ikan banyak kita jumpai dijual dipasaran dengan bermacam-macam jenis ikan sebagai materi dasar dan dengan harga yang bervariasi pula.

Abon ikan merupakan produk yang memadukan cara pengawetan ikan dengan perebusan atau pengukusan, penambahan bumbu – bumbu tertentu dan penggorengan. Produk ini memiliki tekstur yang lembut rasa dan aroma yang khas, baon ikan sanggup dipakai untuk lauk makan nasi =, teman makan roti maupun sebagai isi pada beberapa masakan kecil.

Umumnya abon ikan dibentuk dari daging ikan cakalang, tongkol,  tuna, lele, patin dan ikan cucut, akan tetapi di dalam pembahasan ini kita memakai materi daging IKAN PATIN (sumber artikel ini memakai jenis ikan patin, jadi kita ikuti saja biar tidak salah dalam penyampaian materinya) 

Pemilihan Ikan.
Ikan patin yang baik dibentuk abon ikan patin ialah yang berusia +- 8 bulan keatas dengan berat lebih kurang 7 ons. Kondisi ini juga berlaku jikalau dalam pembuatan abon ikan ini Anda memakai ikan jenis lain.

Bumbu – bumbu
Untuk tiap 100 kg ikan patin (bisa juga daging ikan lainnya tergantung kawasan Anda banyak tersedia ikan jenis apa) ialah sebagai berikut :
Garam 1,5 kg
Gula 15 kg
Ketumbar 0,3 kg
Bawang merah 2 kg
Bawang putih 1,6 kg
Minyak goreng 20 kg (boleh ditiadakan)
Asam 0,9 kg
Jahe 0,1 kg
Serai / kamijara secukupnya
Daun salam secukupnya
Laos 0,1 kg

Selain bumbu diatas, dalam pembuatan abon ikan kadang – kadang dipakai pula santan kelapa yang kental, tetapi abon tidak akan bertahan usang dan jikalau disimpan biasanya gampang menjadi tengik.

Langkah Pembuatan Abon Ikan Patin, sanggup dijabarkan sebagai berikut :

Penyiangan
Ikan disiangi dengan dibuang isi dalam perut dan dipotong – potong melintang untuk memudahkan pengukusan, lalu basuh hingga bersih

Pengukusan
Ikan dikukus hingga matang (untuk memudahkan pengambilan daging dan memisahkan dari tulang). selanjutnya Daging ikan dicabik cabik – cabik, lalu ditumbuk hingga menjadi penggalan – penggalan yang halus

Pemberian Bumbu
Bumbu – bumbu dihaluskan lebih dahulu, lalu dicampurkan dengan daging yang telah berbentuk penggalan hingga merata

Penggorengan. 
Daging ikan yang telah dicampur dengan bumbu lalu digoreng dengan minyak atau tanpa minyak hingga diaduk – aduk supaya supaya tidak hangus. Apabila memakai minyak, daging ikan harus seluruhnya terendam biar diperoleh abon yang kering dan renyah. Penggorengan dilarang saat abon telah berwarna kuning kecoklatan
 
Pengepresan. 
Setelah diangkat dari wajan, abon dimasukkanke dalam alat pres dan ditekan – tekan hingga minyak nya habis keluar. Kemudian abon dikeluarkan dengan memakai garpu. Untuk menghasilkan aroma (bau) dan rasa yang yummy sanggup ditambahkan bawang gireng pada abon yang telah matang

Pengemasan. 
Setelah dingin, abon dikemas di dalam kantung plastik atau kertas minyak. Peningkatan daya simpan akan diperoleh jikalau dipakai pembungkus hampa udara.

Potensi bisnis pembuatan abon ikan patin
Dengan harga ditingkat konsumen mencapai 25 ribu rupiah per ons-nya ditambah ongkos produksi yang tidak begitu besar menciptakan perjuangan pembuatan abon ikan patin sanggup menjadi alternatif bisnis bagi kita semua.

Sekian postingan perihal Proses Pembuatan Abon Ikan semoga bermanfaat dan membuka wawasan kita bagi yang ingin berwirausaha mandiri. 

Postingan yang saya jabarkan mungkin saja secara detail kurang lengkap, saran saya bagi yang ingin serius berusaha ada baiknya bertanya kepada penyuluh TTG yang ada didaerah saudara atau membeli buku Membuat Abon Ikan yang dilengkapi gambar sehingga pada prakteknya tidak salah dan merugikan baik untuk eksklusif (modal dan waktu) maupun bagi lingkungan

Sumber Artikel : http://shampankbie.blogspot.com

Sumber http://terapanteknologitepatguna.blogspot.com

Proses Pengolahan Ikan Asap

Ikan bukanlah hal yang abnormal bagi kita khususnya masyarakat Indonesia lantaran hampir tiap hari kita bisa makan ikan segar, terlebih tempat saya yang terletak di Pulau Sabang, ikan segar sangat gampang didapat baik dengan cara memancing sendiri maupun membeli pada penjual atau pribadi pada nelayan yang gres pulang dari laut.

Ikan merupakan materi makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat selain sebagai komoditi ekspor. Ikan cepat mengalami proses pembusukan dibandingkan dengan materi makanan lain. Bakteri dan perubahan kimiawi pada ikan mati menimbulkan pembusukan. Mutu olahan ikan sangat tergantung pada mutu materi mentahnya.

Tanda ikan yang sudah busuk:
-  mata suram dan tenggelam;
-  sisik suram dan gampang lepas;
-  warna kulit suram dengan lendir tebal;
-  insang berwarna kelabu dengan lendir tebal;
-  dinding perut lembek;
-  warna keseluruhan suram dan berbau busuk.

Tanda ikan yang masih segar:
-  daging kenyal;
-  mata jernih menonjol;
-  sisik besar lengan berkuasa dan mengkilat;
-  sirip kuat;
-  warna keseluruhan termasuk kulit cemerlang;
-  insang berwarna merah;
-  dinding perut kuat;
-  anyir ikan segar.

Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak dikonsumsi masyarakat, gampang didapat, dan harganya murah. Namun ikan cepat mengalami proses pembusukan. Oleh lantaran itu pengawetan ikan perlu diketahui semua lapisan masyarakat. Pengawetan ikan secara tradisional bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam badan ikan, sehingga tidak menawarkan kesempatan bagi basil untuk berkembang biak. Untuk mendapat hasil awetan yang bermutu tinggi diharapkan perlakukan yang baik selama proses pengawetan menyerupai : menjaga kebersihan materi dan alat yang digunakan, memakai ikan yang masih segar, serta garam yang bersih. Ada majemuk pengawetan ikan, antara lain dengan cara: penggaraman, pengeringan, pemindangan, perasapan, peragian, dan pendinginan

Manfaat makan ikan sudah banyak diketahui orang, menyerupai di negara Jepang dan Taiwanikan merupakan makanan utama dalam lauk sehari-hari yang menawarkan efek kekal muda dan keinginan hidup lebih tinggi dari negara lainnya. Penggolahan ikan dengan banyak sekali cara dan rasa menimbulkan orang mengkonsumsi ikan lebih banyak.

Ikan asap yakni hasil pengawetan ikan secara tradisional yang pengerjaannya merupakan campuran dari penggaraman (perendaman dalam air garam) dan pengasapan sehingga menawarkan rasa khas.

Berbagai cara penggasapan tergantung kepada faktor-faktor berikut :
a.    jenis ikan yang diasap;
b.    besar kecilnya ikan yang diasap.

BAHAN
1)    Ikan bandeng 6 kg
2)    Garam 1 kg
3)    Arang, serpihan kayu, atau serbuk gergaji secukupnya

ALAT
1)    Lemari asap (tungku, drum)
2)    Pisau
3)    Baskom

CARA PEMBUATAN
1)    Siangi ikan, cuci, dan kelompokkan berdasarkan ukuran;
2)    Masukkan garam ke dalam ½ liter air dan didihkan, kemudian dinginkan.
3)    Rendam ikan selama ± 15-20 menit, tiriskan, dan angin-anginkan sampai
permukaan kering;
4)    Ikat satu persatu kemudian :
a.  gantungkan dalam ruang pengasapan, dengan jarak masing-masing ± 1
cm atau;
b. gantung dengan ekor ke bawah dan kepala menghadap ke atas dengan memakai kaitan kawat, atau
c.  susun satu persatu di atas anyaman bambu, kemudian disusun dalam lemari pengasapan secara berlapis-lapis. Antara masing-masing lapisan diberi jarak kira-kira sama dengan rata-rata panjang ikan. Agar pengasapan merata ikan harus dibolak-balik.
 
5)    Siapkan materi bakar berupa arang dan potong-potong kayu di bawah ruang pengasap, kemudian bakar;

 
6)    Bubuhkan ampas tebu atau serbuk gergaji bertahap hingga timbul asap :
•  Panas diatur pada suhu ± 700 800 C. selama 2-3 jam (harus dijaga biar panas merata dan ikan tidak hingga hangus);
•  Panas diatur pada suhu ± 300 400 C selama 4 jam terus menerus. Hasil pengasapan ditandai dengan anyir harum yang khas dari ikan asap;7)    Keluarkan ikan asap dari lemari pengasapan kemudian bungkus atau kemas dalam kantong plastik.

Ciri-ciri khas ikan asap yang baik yakni :
a.  rupa dan warna: produk harus licin, mengkilat, dan berwarna coklat emas muda;
b. anyir dan rasa: produk menawarkan anyir atau aroma yang khas ikan asap (bau asap yang sedap dan merangsang selera);
c.  berair.

Dengan cara pengasapan pada suhu 700 800 C, ikan tahan usang disimpan hingga 1 bulan, dibandingkan dengan pengasapan pada suhu 200 300C (kurang dari 1 bulan) panas dibandingkan dengan pengasapan pada suhu 200 300C. (sampai 1 bulan).

Selain bandeng, ikan yang biasa diasap yakni ikan tembang, lemuru,
kembung, selar, tongkol, dan cakalang.

DAFTAR KEPUSTAKAAN :
1) Ikan asap. Jakarta : Dirjen Industri Kecil, Departemen Perindustrian, s.a.
2) Moeljanto. Pengasapan dan fermentasi. Jakarta : Penebar Swadaya, 1987.

Sekian postingan wacana Proses Pengolahan Ikan Asap, semoga menambah info bagi kita sehingga bisa mendorong timbulnya inspirasi bisnis gres yang sanggup kita kerjakan biar pengganguran di negeri kita berkurang dan ekonomi keluarga kita meningkat.

Postingan yang saya jabarkan mungkin saja secara detail kurang lengkap, saran saya bagi yang ingin serius berusaha ada baiknya bertanya kepada penyuluh TTG yang ada didaerah saudara atau membeli buku terkait pengolahan ikan asap yang dilengkapi gambar sehingga pada prakteknya tidak salah dan merugikan baik untuk pribadi (modal dan waktu) maupun bagi lingkungan

Sumber Artikel : http://shampankbie.blogspot.com

Sumber http://terapanteknologitepatguna.blogspot.com

Saturday, February 17, 2018

Budidaya Ternak Belut

Belut ialah sekelompok ikan berbentuk seolah-olah ular yang termasuk dalam suku Synbranchidae. Suku ini terdiri dari empat genera dengan total 20 jenis. Jenis-jenisnya banyak yang belum diperikan dengan lengkap sehingga angka-angka itu sanggup berubah. Anggotanya bersifat pantropis (ditemukan di semua tempat tropika). (Sumber : http://kesehatan-ternak.blogspot.com

Sumber http://terapanteknologitepatguna.blogspot.com

Laptop Graphic Terbaik Untuk Desain Grafis 2014

Mereview Laptop Desain Grafis tahun 2014 OPOSIP - Ketika saya bekerja dari rumah saya mempunyai sebuah PC yang didedikasikan yang sang...