Thursday, November 16, 2017

√ Perihal Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Tentang Model Pembelajaran Berbasis Masalah. Pembelajaran berbasis duduk kasus merupakan model pembelajaran yang titik tolaknya yaitu adanya permasalahan yang telah sepakati oleh guru dan penerima didik. Sudrajat (2011) menyatakan Pembelajaran Berdasarkan Masalah yaitu suatu model pembelajaran yang didasarkan pada prinsip memakai duduk kasus sebagai titik awal akuisisi dan integrasi pengetahuan baru. Model pembelajaran ini intinya mengacu kepada pembelajaran-pembelajaran mutakhir lainnya ibarat pembelajaran berdasar proyek (project based instruction), pembelajaran berdasarkan pengalaman (experience based instruction), pembelajaran autentik (authentic instruction), dan pembelajaran bermakna. Sementara Boud dan Felleti (1997:19) menyatakan bahwa pembelajaran berbasis duduk kasus merupakan suatu pendekatan pembelajaran dengan membuat kontroversi kepada siswa dengan masalah-masalah praktis, berbentuk ill-structured atau pikiran terbuka melalui stimulus dalam belajar.

Pembelajaran diawali dengan sebuah duduk kasus atau sanggup pertanyaan-pertanyaan baik dari guru maupun penerima didik itu sendiri. Peran guru disini hanya sebagai fasilitator dan sebagai instruktur metakognitif. Sungur dan Tekkaya (2006: 307) menyatakan :



When PBL students solve the problem, teachers encourage them to explore possibilities, invent alternative solutions, collaborate with other students, try out ideas and hypotheses, revise their thinking,and, finally, present their best solutions.

Dapat diartikan bahwa guru mendorong penerima didik untuk berinovasi dan bekerja sama untuk menemukan solusi dari permasalahan yang diberikan.

Masalah yang disajikan juga hendaknya sanggup memunculkan konsep-konsep maupun prinsip yang relevan dengan kehidupan kontekstual dari penerima didik ( I Ketut Tika, 2008 : 688).Selanjutnya berdasarkan Arends (2008:52)sebuah situasi bermasalah yang baik harus memenuhi lima kriteria penting. Pertama, situasi tersebut mestinya autentik, yaitu masalahnya harus dikaitkan dengan pengalaman riil penerima didik. Kedua, duduk kasus yang disajikan tidak terang sehingga membuat misteri atau teka teki. Ketiga, duduk kasus itu seharusnya bermakna dan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual. Keempat, duduk kasus itu mestinya cukup luas sehingga menunjukkan kesempatan kepada guru untuk memenuhi tujuan instruksionalnnya namun tetap dalam batas yang fisibel bagi pelajarannnya dari segi waktu, ruang dan keterbatasan sumber daya. Kelima, duduk kasus yang baik harus mendapat manfaat dari perjuangan kelompok bukan malah menghalanginya.

Sumber http://www.tipsbelajarmatematika.com

No comments:

Post a Comment

Laptop Graphic Terbaik Untuk Desain Grafis 2014

Mereview Laptop Desain Grafis tahun 2014 OPOSIP - Ketika saya bekerja dari rumah saya mempunyai sebuah PC yang didedikasikan yang sang...