Judul Artikel : Individual Student Differences and Creativity for Quality Education (Perbedaan Individu dan Kreativitas Siswa Untuk Pendidikan Berkualitas)
Penulis : Todd Lubart
Tahun : 2004
Ringkasan Singkat Artikel :
Artikel ini menyampaikan tanggapan atas pertanyaan-pertanyaan utama perihal bagaimana perbedaan perbedaan Individu dan Kreativitas pada siswa dieksplorasi untuk menghasilkan sebuah proses pembelajaran (pendidikan) yang bermutu. Beberapa pertanyaan fundamental perihal : bagaimana sebuah pendidikan berkualitas secara baik dipahami dalam konteks perbedaan individu dan kreatifitas siswa, aneka macam jenis perbedaan yang sanggup dipahami dalam perkembangan siswa, apakah sekolah responsive dalam menangani perbedaan perbedaan yang ada, bagaimana memakai kenyataan yang ada bagi reformasi pengajaran, bagaimana mengelola perbedaan kreativitas siswa dan lain lain dibahas dalam artikel ini.
Pendidikan berkualitas mengacu pada situasi mencar ilmu di mana pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dikembangkan dalam cara terbaik untuk mempromosikan pertumbuhan siswa, keberhasilan memperoleh ketrampilan dan berkontribusi untuk individu dan masyarakat di masa depan. Meskipun sekolah cenderung untuk mengelompokkan siswa sesuai usia atau kelas, setiap siswa tetaplah individu yang unik. Mengingat perbedaan siswa pada faktor kognitif dan konatif (preferensi motivasi individu), cara terbaik untuk menyebarkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan siswa berbeda satu sama lain. Dengan demikian, pendidikan yang berkualitas tinggi yang merata bukan berarti semua siswa mendapatkan acara yang sama. Bahkan, semakin banyak peneliti dan pendidik beropini bahwa pendidikan berkualitas tinggi harus mempertimbangkan perbedaan kemampuan individu siswa, menyampaikan pengalaman mencar ilmu yang optimal untuk setiap anak. Snow (1986: 1029) menyatakan “learning how to capitalize on individual strengths and to promote a diversity of achievements … while compensating for the individual inequalities that limit educational achievement for many poses the major challenge to . . . education today and for decades to come” Ini berarti bahwa dalam hal beragamnya perbedaan siswa, yang terpenting bagi pendidik ialah mencar ilmu bagaimana memanfaatkan kekuatan individu dan mempromosikan keragaman prestasi. Dengan demikian keberagaman siswa merupakan tantangan bagi dunia pendidikan di masa depan.
Ada dua jenis utama dari perbedaan individu: (1) Perbedaan kuantitatif dalam kecepatan, kuantitas dan kedalaman mencar ilmu (kognitif) contohnya : kecepatan memahami konsep dan ketrampilan baru; dan konatif (perbedaan cirri kepribadian, motivasi, toleransi dan lain lain), (2) Perbedaan Kualitatif dalam cara siswa mencar ilmu dengan baik, sering disebut "gaya kognitif" atau "gaya belajar", memperlihatkan bahwa siswa mendekati kiprah dengan cara yang berbeda secara kualitatif, bila mereka diberi pilihan.
Adanya pengelompokan tingkat-kemampuan di beberapa sekolah, misalnya, merupakan upaya untuk menangani perbedaan kuantitatif dalam jumlah dan kecepatan akuisisi pengetahuan. Penelitian telah memperlihatkan bahwa kelompok kemampuan rendah, pada kenyataannya alasannya ialah kurangnya kesempatan untuk mencar ilmu alasannya ialah waktu yang relatif lebih banyak dihabiskan untuk masalah disiplin, manajemen dan materi pengajaran yang berkualitas rendah (Snow, 1986). Sebagian besar sekolah, khususnya di tingkat dasar, rata-rata memfasilitasi kegiatan mencar ilmu kepada siswa secara klasikal sebagai suatu kelompok. Tentu saja, siswa yang menyimpang secara radikal dari norma kelas, alasannya ialah mereka ialah siswa yang lambat pada kelas tersebut atau, sebaliknya siswa berbakat, sanggup mendapatkan perhatian khusus dari guru dan pada risikonya akan ditempatkan di kelas khusus. Jelas, semakin besar ukuran kelas, para guru cenderung kurang mempunyai waktu untuk menyampaikan perhatian secara personal kepada setiap siswa. Jika setiap siswa beroperasi di "zona perkembangan proksimal" nya [yaitu sebuah konsep yang diusulkan oleh psikolog dan pendidik Rusia Lev Vygotsky (Vygotsky, 1978; Wozniak, 1980)], maka pendidikan berkualitas akan tercapai. Dalam semangat ini, kemajuan setiap siswa dengan kecepatan sendiri dan guru menyampaikan pinjaman kepada mereka yang membutuhkan dan memvalidasi bahwa seorang siswa telah mencapai tingkat tertentu belajar.
Salju (1986) membayangkan suatu sistem pendidikan individual di mana (a) arahan diadaptasi semoga sesuai dengan kapasitas dikala ini siswa dan kekuatan, yang memungkinkan pembelajaran materi pelajaran untuk melanjutkan, dan (b) siswa menerima, di samping itu, training difokuskan untuk meningkatkan secara eksklusif lemah kemampuan atau mengatasi masalah-masalah tertentu, mirip kecemasan tes. Dalam kasus apapun, pendidikan individual dalam praktik pendidikan dikala ini, sebuah, alternatif pendekatan non-standar yang cenderung dikaitkan dengan ukuran kelas yang relatif kecil, memotivasi guru yang mengakui keberadaan dan pentingnya perbedaan individu pada siswa, dan siswa yang mencar ilmu bertanggung jawab atas pendidikan mereka sendiri (mengembangkan otonomi), mencoba memajukan sebaik mungkin pada setiap titik dalam proses pembelajaran.
Mengambil pendekatan yang agak berbeda untuk perbedaan individu dan pendidikan berkualitas, Robert Sternberg, Elena Grigorenko, Linda Jarvin dan kolaborator mereka melaksanakan serangkaian penelitian di sekolah dasar dan menengah didasarkan pada teori kecerdasan triarchic. Menurut teori ini, terdapat aspek analitis, kreatif dan simpel yang terlibat dalam kecerdasan, mencar ilmu dan kinerja yang sukses. Intelijen analitis mengacu pada kemampuan berpikir kritis, kecerdasan kreatif mengacu pada pemikiran orisinil dan menghadapi situasi baru, kecerdasan simpel menyangkut penerapan bijaksana pengetahuan dan kemampuan dalam dunia kasatmata pengaturan. Individu mungkin mempunyai kekuatan intelektual yang berbeda (analitik, kreatif, praktis), dengan orientasi terhadap satu atau lebih dari kemampuan triarchic ini. Program pendidikan sanggup dikembangkan berdasarkan analisis, latihan kreatif atau praktis. Selain itu adonan acara triarchic sanggup diusulkan. Pertanyaannya ialah apakah perbedaan talenta dan preferensi siswa dikombinasikan dengan acara pembelajaran dibedakan berdasarkan teori triarchic akan mempengaruhi hasil akademik dan sikap siswa terhadap pengalaman pendidikan.
Tidak ada penelitian di negara-negara berkembang belum dilakukan dengan memakai pendekatan triarchic. Namun, tidak sulit untuk membayangkan bahwa acara triarchic sanggup diterapkan di negara-negara berkembang. Memang acara mirip ini melibatkan kegiatan analisis, kreatif dan simpel pada setiap topik yang diajarkan kepada seluruh kelas. Jadi, idenya ialah bahwa siswa akan menemukan setidaknya serpihan dari kegiatanyang menarik dan sesuai kemampuan mereka. Oleh alasannya ialah itu acara triarchic ini cocok diterapkan untuk kelas yang besar. Pendekatan triarchic secara implisit berpusat pada siswa alasannya ialah ada sesuatu untuk setiap anak dalam acara yang sanggup diterima oleh semua siswa. Perbedaan individu diperhitungkan ketika acara ini dibangun alasannya ialah acara merespon keragaman siswa. Pendekatan triarchic tidak mendukung standar akademik individual atau cara individual mencapai tujuan bersama.
Pelajaran utama yang bisa diperoleh dari kenyataan adanya aneka macam perbedaan dan kreativitas individu untuk kebijakan dan reformasi pendidikan ialah :
1. Perbedaan individu perlu dipahami oleh guru. Pelatihan guru perlu menyajikan aneka macam perbedaan individu bahwa siswa sanggup memperlihatkan dan memotivasi guru untuk memodulasi pelajaran mereka sesuai dengan perbedaan-perbedaan yang ada. Oleh alasannya ialah itu, guru perlu mencar ilmu bagaimana mempertimbangkan perbedaan-perbedaan di kalangan siswa yang sanggup meningkatkan kualitas pendidikan.
2. Perbedaan individu perlu dikaji semoga sanggup diperhitungkan. Untuk merespon perbedaan individu, guru harus mempunyai cara untuk mengkarakterisasi siswa dengan cara yang ilmiah yang valid. Tindakan menguji kemampuan kognitif, kuesioner yang mengukur kepribadian dan minat serta alat-alatukur lain yang tersedia. Guru perlu mengetahui alat-alat ukur dan menggunakannya dengan tepat.
3. Dalam beberapa konteks, sistem sanggup dibentuk di mana pendidikan yang berkualitas tinggi diberikan kepada setiap siswa (dari siswa lambat untuk yang berbakat) melalui pengajaran yang berbeda dan menyesuaikan setiap zona siswa untuk pengembangan di masa mendatang. Sebagai modus ini pendidikan tidak umum dilakukan, ialah penting untuk memulai dengan sekolah percontohan di masing-masing kawasan yang sanggup menyebar metode pengajaran.
4. Mengajar topik memakai aneka macam gaya mencar ilmu dan kegiatan memungkinkan siswa untuk menemukan setidaknya serpihan yang sesuai kemampuan dan kepentingan mereka. Dengan demikian, alternatif untuk arahan dibedakan pada tingkat individu siswa, ialah mungkin untuk memahami program-program pendidikan yang memperlihatkan keragaman pendekatan kepada semua siswa. Semua siswa yang terkena beberapa cara untuk belajar, yang akan memungkinkan setiap siswa untuk menemukan / nya cara favorit dan mendapatkan penguatan dari metode tambahan yang ditawarkan pada setiap topik (lihat Sternberg & Grigorenko, 2000).
Selanjutnya bagaimana kiprah pencapaian kreativitas dibandingkan dengan akademik untuk kualitas pendidikan dan untuk pembangunan sosial dan ekonomi. Topik kreativitas dalam bidang psikologi dan pendidikan banyak menjadi perhatian Guilford dan Torrance pada tahun 1950-an. Ada kesepakatan luas bahwa kreativitas merupakan aspek penting sikap manusia, yang berpotensi relevan dengan hampir setiap domain acara (misalnya, seni, ilmu pengetahuan, ekonomi, domain kehidupan sehari-hari).
Terdapat sesuatu yang membedakan ide-ide kreatif dari ide-ide asing yang juga baru, alasannya ialah ide-ide kreatif memperhitungkan memperhitungkan parameter dari sebuah hambatan situasi. Tergantung bidang usaha, mirip seni, ilmu pengetahuan, sastra rekayasa dan atau desain, pengutamaan diberikan kepada dua komponen yaitu kebaruan dan kepuasan kendala, bervariasi. Pendidikan tradisional berfokus pada pengembangan mirip ahli, sikap melalui akuisisi pengetahuan dan keterampilan berpikir analitik kritis. Keahlian akademik yang berharga dan bekerjasama dengan kinerja karir hingga batas tertentu. Namun, pertumbuhan dan perkembangan teknologi dan evolusi sosial dalam masyarakat modern memperlihatkan bahwa pendidikan berkualitas tinggi tidak hanya terbatas untuk menghasilkan seorang "ahli" berbasis pengetahuan.
Memang, ekonom mirip Paul Romer (1993, 1994) telah mengusulkan bahwa pertumbuhan ekonomi di kurun 21 akan tergantung pada kreativitas, membuat produk baru, layanan baru, peluang gres lebih dari memproduksi lebih banyak barang, atau memproduksi barang lebih murah. Model "endogen" pertumbuhan ekonomi ini memperlihatkan bahwa keterampilan berpikir kreatif setidaknya akan sama berharganya mirip keterampilan akademis tradisional. Investasi sumber daya pendidikan dalam training kreativitas sanggup dianggap sebagai pengembangan "human capital", yang sanggup menyampaikan bantuan terhadap pertumbuhan ekonomi di masa depan (Walberg & Stariha, 1992). Pendidikan berkualitas memungkinkan individu dan masyarakat untuk tumbuh dan efektif menyesuaikan diri dengan tantangan gres yang akan timbul. Dalam hal ini, pengetahuan perlu diperoleh dengan filosofi bahwa pengetahuan ini tidak statis, tetapi akan berkembang, akan ulang di beberapa titik, dan mungkin digantikan oleh ide-ide baru. Dengan demikian pendidikan berkualitas dikala ini dan masa depan harus mendorong fleksibilitas, dan kreativitas dalam akuisisi selain pengetahuan.
Bagaimana kreativitas berkembang pada anak-anak? Menurut pendekatan multivariat, kreativitas tergantung pada kognitif, konatif, dan faktor lingkungan (Amabile, 1983, 1996, Lubart, 1999a, Sternberg & Lubart, 1995, Lubart et al, 2003). Setiap faktor yang mendasari berkembangnya kreatifitas selama masa kanak-kanak.
1. Kognisi dan pengembangannya
Beberapa kemampuan intelektual dianggap penting untuk kreativitas diantaranya perbandingan selektif yaitu kemampuan untuk melihat rangsangan yang relevan dalam lingkungan. Kemampuan perbandingan selektif memungkinkan untuk daypikir analogi dan metafora yaitu kemampuan untuk memfasilitasi generasi ide-ide yang kompleks dari elemen berbeda, dan berpikir divergen untuk menghasilkan banyak alternatif ketika menghadapi jalan buntu. Kemampuan ini sanggup dikembangkan jarang menjadi pengutamaan di sekolah.
Hal ini juga penting untuk dicatat bahwa perkembangan kemampuan kognitif terutama yang mempunyai kegunaan untuk berpikir kreatif, mirip berpikir divergen, tidak terisolasi dari perkembangan kemampuan kognitif lainnya, mirip daypikir logis.
2. Konasi dan Pengembangannya
Kreativitas ialah lebih dari sebuah fenomena kognitif murni. Secara khusus ciri pengambilan risiko, keterbukaan, individualitas, ketekunan dan toleransi ambiguitas sepertinya memainkan kiprah dalam kreativitas (Sternberg & Lubart, 1995).
Selain ciri-ciri kepribadian, variabel motivasi juga telah terbukti penting untuk kreativitas. Motivasi mengacu pada kekuatan yang mendorong seorang individu untuk terlibat dalam tugas. Ada dua motivator intrinsik, mirip rasa ingin tahu dan kenikmatan yang diperoleh dari mengekspresikan diri sendiri melalui visual atau verbal mode, serta motivator ekstrinsik, mirip legalisasi sosial dari sobat sebaya atau guru. Penelitian di mana motivasi dimanipulasi oleh kiprah pemodelan, pelatihan, atau imbalan memperlihatkan bahwa bawah umur motivasi untuk bekerja, intrinsik atau ekstrinsik, berkembang dari waktu ke waktu berdasarkan pengalaman yang diberikan oleh lingkungan mereka. Motivasi intrinsik dianggap lebih aman untuk kreativitas meskipun motivasi ekstrinsik juga sanggup berkontribusi dalam beberapa keadaan (Amabile, 1996).
3. Lingkungan dan pengembangannya
Beberapa penulis telah mengusulkan bahwa salah satu dampak kunci pada kreatif pembangunan ialah lingkungan fisik dan sosial anak, terdiri dari keluarga, sekolah, dan masyarakat. Lingkungan keluarga sanggup menyampaikan dukungan kognitif (misalnya, stimulasi intelektual) dan afektif (misalnya, keamanan emosional) untuk kreativitas serta menyediakan pengaturan fisik di mana seorang anak tumbuh (Harrington, Block & Block, 1987). Selain lingkungan keluarga, lingkungan sekolah memainkan penting kiprah dalam pengembangan kreativitas dengan alasan yaitu :
a. Anak-anak memperoleh kemampuan kognitif dan pengetahuan di sekolah.
Seringkali sekolah menekankan berpikir konvergen, menemukan tanggapan "benar" masalah yang diajukan oleh guru. Kadang-kadang, bagaimanapun, berpikir divergen ialah mendorong dan memperbolehkan bawah umur untuk berjuang dengan tidak terang masalah. Di hal pengetahuan, informasi sering ditransmisikan dengan pengutamaan pada hafalan dan ingatan. Cropley (1997) telah mengidentifikasi beberapa karakteristik umum dari guru yang mendorong kreativitas dalam kelas, mereka mendorong mencar ilmu mandiri, mempunyai gaya mengajar kooperatif, memotivasi siswa untuk mempelajari fakta-fakta untuk mempunyai dasar yang kokoh dalam berpikir divergen, mendorong pemikiran yang fleksibel, mempertimbangkan dengan matang dalam menilai inspirasi siswa, mempromosikan gagasan penilaian diri, menjawab pertanyaan siswa dan saran dengan serius, memperlihatkan kesempatan untuk bekerja dengan aneka macam materi dalam kondisi yang bervariasi, dan membantu siswa untuk mengatasi frustrasi dan kegagalan dalam rangka membangun keberanian untuk menyebarkan gagasan baru.
b. Kedua, guru berfungsi sebagai panutan bagi anak-anak.
Guru sanggup nilai atau menilai kembali ekspresi dari ide-ide kreatif di dalam kelas. Guru yang bekerja pada konsepsi siswa yang ideal memperlihatkan bahwa guru sering menghargai karakteristik yang secara sosial penting tapi tidak relevan untuk kreativitas. Sikap guru dan nilai-nilai mempengaruhi bawah umur alasannya ialah guru cenderung untuk menghargai sikap yang sesuai dengan nilai-nilai mereka. Perilaku ini, mirip tidak mengganggu kelas dengan mengajukan banyak pertanyaan sanggup mengakibatkan berkurangnya berpikir kreatif, atau kurang mencar ilmu pada umumnya, alasannya ialah siswa yang mengajukan pertanyaan cenderung mengikuti pelajaran. Dengan sikap guru terhadap sikap kreatif di kelas demikian penting dan memposisikan mereka secara istimewa untuk merangsang atau melumpuhkan kreativitas. Sikap guru dan nilai-nilai yang dipelajari dibangun dari waktu ke waktu.
c. Ketiga struktur sekolah, bawah umur hidup dan berfungsi sebagai konteks yang penting untuk sosialisasi.
Mereka menghadapi dunia terstruktur dengan hukum gres untuk menguasai dan menyelesaika kegiatan mencar ilmu terstruktur. Hal ini tidak mengherankan, alasannya ialah itu, sangat dipengaruhi oleh kreativitas. Selain pengaturan sekolah lokal, kondisi lingkungan sosial makroskopik menyebarkan kreatifitas dengan aneka macam cara. Misalnya, budaya kegiatan mirip konser, festival seni, museum, dan acara televisi pada topik yang bermacam-macam semua bisa berkontribusi untuk pengembangan kreatif anak-anak. Akhirnya, analisis lintas-budaya memperlihatkan bahwa jumlah kegiatan kreatif, wilayah dimana kreativitas dipromosikan, dan bahkan definisi kreativitas sanggup bervariasi antar budaya (Lubart, 1999b).
Akhirnya, berkaitan dengan definisi kreativitas, mungkin sanggup dibedakan antara visi kreativitas "Barat" menekankan produk pemikiran kreatif daripada pandangan alternative; dan visi Timur atau Oriental lebih terfokus pada proses penemuan daripada output produk yang inovatif. Kreativitas sering dibahas sehubungan dengan keadaan pemenuhan sebuah ekspresi pribadi, dari esensi batin atau realitas ultimate, reinterpretasi atau pembaharuan ide-ide tradisional - menemukan sudut pandang gres - lebih dramatis dengan tradisi (Lubart, 1999b).
Akhirnya saran untuk sekolah perihal bagaimana sekolah dikondisikan untuk meningkatkan kreatifitas ialah sebagai berikut :
1. Sekolah menyediakan lingkungan yang secara khusus mendukung pemikiran kreatif, mengakui dan mempromosikan siswa melalui sikap guru di kelas. Kaprikornus kreativitas perlu dinilai dan diakui melalui pekerjaan proyek sebagai serpihan dari kinerja sekolah.
2. Guru perlu dididik untuk memahami perkembangan kreatif dan cara-cara di mana kreativitas sanggup dibina atau dihambat dalam praktek di sekolah. Guru harus peka terhadap isu-isu kreativitas yang jarang menjadi serpihan prioritas dari training guru.
3. Memberikan latihan latihan untuk mendorong secara eksklusif perkembangan faktor kognitif dan konatif yang terlibat dalam kreativitas
4. Kegiatan berpikir kreatif sanggup disisipkan pada setiap mata didik yang dipelajari.
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan ringkasan isi jurnal di atas maka sanggup diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah praktek pendidikan di Indonesia yang mengakomodir aneka macam perbedaan individu termasuk anak berkebutuhan kusus dan anak berbakat ?
2. Bagaimana praktek pendidikan yang memfasilitasi pengembangan kreatifitas peserta didik dan bagaimana teori-teori kreativitas yang dikembangkan para akhli diimplementasikan di sekolah atau dunia pendidikan ?
C. PEMBAHASAN
INKLUSI SEBAGAI PROSES LAYANAN PENDIDIKAN BAGI SEMUA ANAK
Paham humanisme memberi dampak terahadap perubahan pandangan masyarakat dunia terhadap anak dan pendidikannya (termasuk anak penyandang ketunaan). Secara internasional gerakan ke arah perubahan pendidikan yang lebih humanistik dan menjangkau semua yang terpinggirkan, dimulai dengan diselenggarakannya (1) Konvensi dunia perihal hak-hak anak pada tahun 1989 (2) Konverensi dunia perihal pendidikan untuk semua (education for all) di Jomtien, Thailand yang menghasilkan kesepakantan: membawa semua anak masuk sekolah dan menyampaikan pendidikan yang sesuai kepada semua anak. (3) Peraturan standar perihal kesamaan kesempatan bagi penyandang cacat (4) Pernyataan Salamnca perihal pendidikan inklusif. Konsep-konsep gres diperkenalkan melalui pernyataan Salamanca dan beberapa konsep telah diperkenalkan sebelumnya. Konsep-konsep itu penting alasannya ialah menggambarkan proses dan perubahan dikala ini. Di dalam pernyataan Salamanca diantaranya ditekakankan :
· Hak semua anak, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus temporer dan permanen untuk memperoleh penyesuaian pendidikan semoga sanggup mengikuti sekolah.
· Hak semua anak untuk ikut serta dalam pendidikan yang berpusat pada anak yang memenuhi kebutuhan individual.
· Pengayaan dan manfaat bagi semua yang terlibat akan diperoleh melalui pelaksanaan pendidikan inklusif.
· Hak semua anak untuk ikut serta dalam pendidikan berkualitas yang bermakna bagi setiap individu.
· Keyakinan bahwa pendidikan inklusif akan mengarah kepada sebuah masyarakat inklusif dan risikonya kepada keefektipan biaya.
· Semua anak sanggup dididik walaupun mengalami hambatan mencar ilmu dan hambatan perkembangan yang sangat berat.
· Pendidikan inkluisif harus menyampaikan pendidikan yang akan mencegah bawah umur menyebarkan harga diri yang jelek dan konsekuensi yang ditimbulkannya.
· Pendidikan inklusif bertujuan untuk membuat kolaborasi bukan persaingan.
Pernyataan Salamanca menjadi tonggak dimulainya proses perubahan paradigama pendidikan yang merangkul semua perbedaan agama, ras, budaya, ekonomi, minoritas etnis, bahasa, gender, dan abnormalitas (disabilities). Semuanya mempunyai susukan dan sesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas dalam setting yang sama (inklusi). Berdasarkan pola yang terkandung dalam pernyataan Salamanca, pendidikan inklusif sanggup dipandang sebagai satu pendekatan yang sanggup memenuhi kebutuhan mencar ilmu semua anak, remaja dan orang remaja yang secara spesifik difokuskan kepada mereka yang rawan terpinggirkan dan terabaikan. Secara lebih kongkret, pendidikan inklusif diartikan bahwa : sekolah harus mengakomodasi semua anak, tanpa memandang keadaan fisik, intelektual, sosial, emosional, bahasa, atau kondisi-kondisi lain, mirip penyandang cacat dan anakanak berbakat (gifted children), anak jalanan, bawah umur yang bekerja, bawah umur dari kelompok nomadic, bawah umur kelompok budaya minoritas dan bawah umur dari kelompok yang tidak beruntung dan terpinggirkan.
Pendidikan inkusif harus dipandang sebagai sebuah proses dalam melayani dan merespon kebutuhan semua peserta didik yang bermacam-macam melaui peningkatan partisipasi di dalam pembelajaran, dan mengurangi/mengidari pengabaian di dalam pendidikan. Untuk sanggup melaksanakan konsep ini harus terjadi perubahan dan modifikasi di sekolah regular dalam hal isi kurikulum, pendekatan Pembelajaran, struktur dan strategi, dan sekolah perlu megembangkan visi bersama bahwa pendidikan untuk semua merupakan tanggung jawab sekolah regular. Dari klarifikasi di atas timbul pertanyaan, sekolah mirip apa yang sanggup dipandang sebagsi sekolah yang bersifat inklusif ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sanggup di simak uraian selanjutnya.
Sekolah yang bersifat inklusif ialah sekolah yang ramah dan terbuka, yang ditandai hal-hal sebagai berikut :
a. Tidak diskriminatif.
Semua sekolah terutama Taman Kanak-kanak dan SD mempunyai potensi yang cukup untuk dikembangkan menjadi sekolah yang sanggup mendapatkan kehadiran semua anak tanpa kecuali. Hal ini sanggup dibuktikan bahwa hampir di semua sekolah diketahui atau tidak, sudah mendapatkan anak berkebuhan khusus terutama yang bersifat temporer. Ini berarti bahwa sekolah sudah mempunyai perhatian dan legalisasi terhadap adanya keragaman dan perbedaan. Sekolah yang ramah dan terbuka ialah sekolah yang tidak membeda-bedakan siswanya, yang para gurunya sanggup menyampaikan selamat tiba kepada semua anak, di sinilah tempat kalian mencar ilmu dan di sini tempat yang nyaman dan menyenangkan. Betapa bahagianya bawah umur dan orang tuanya apa bila semua diperlakukan mirip itu. Apabila keadaan ini sanggup dicapai, ada keinginan bahwa semua anak akan mendapatkan untuk memperoleh pendidikan
b. Mengakui dan Menghargai Keragaman Anak.
Wujud kasatmata dari adanya legalisasi dan penghargaan terhadap keragaman anak, adanya proses pembelajaran yang fleksibel. Fleksibilitas sanggup diwujudkan dalam bentuk penyesuaian antara isi kurikulum dengan hambatan dan kebutuhan mencar ilmu anak melalui pendekatan pembelajaran kooperatif. Hal ini memang tidak mudah untuk dilakukan, alasannya ialah dibutuhkan keterampilan yang memadai dari seorang guru.
Akan tetapi bila sanggup diwujudkan akan sangat menguntungkan bagi perkembangan anak. Anak yang mencar ilmu lebih cepat sanggup dilayani sesuai dengan kecepatannya, bawah umur yang rata-rata juga sanggup dilayani dan bawah umur yang mempunyai kebutuhan khusus sanggup pula dilayani kebutuhannya. Bentuk lain dari adanya penghaargaan dan legalisasi terhadap perbedaan, dengan membuat atmosfir kelas yang merefleksikan adanya toleransi, penghargaan dan penerimaan antara guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa, yang di dalamnya tidak ada celaan dan paksaan. Manakala atmosfir ini sanggup dicapai, maka akan berkembang pada diri anak sikap percaya diri, motivasi dan penghargaan terhadap orang lain yang berbeda. Belajar bagi anak akan merupakan sesuatu yang menyengakan.
c. Lingkungan dan Fasilitas yang Aksesibel
Aksesibilitas ialah kemudahan dan keleluasaan bagi semua anak untuk bergerak dan beraktiifitas di lingkungan sekolah. Misalnya bila ada seorang anak yang tidak bisa berjalan dibutuhkan lingkungan yang memungkinkan anak itu bisa keluar masuk kelas dengan mudah.
Di sekolah-sekolah kita pada umumnya tidak mempunyai aksesibilitas yang baik, alasannya ialah selalu berkaitan dengan biaya. Aksesibiltas yang ideal tentu sangat sulit untuk di kembangkan, tetapi bisa memulainya dengan hal-hal yang kecil yang bisa dilakukan oleh sekolah. Prinsip yang perlu diperhatikan guru/kepala sekolah dan orang renta dalam menyebarkan aksesibilitas lingkungan ialah aman, nyaman dan memberi kemudahan kepada semua orang untuk memakai fasilitas yang tersedia. Langkah-langkah semoga sekolah menjadi aksesibel:
1. Menciptakan lingkungan sekolah yang aman bagi keselamatan semua anak.
2. Membuat lingkungan sekolah menjadi nyaman.
3. Menciptakan lingkungan yang sanggup menyampaikan kemudahan-kemudahan kepada setiap anak untuk beraktifitas.
4. Tidak sanggup mewujudkan langkah pertama dan kedua saja, sudah merupakan prestasi yang cukup baik dalam membuat lingkungan yang aksesibel bagi semua anak.
d. Guru Bekerja dalam Tim.
Dalam melayani siswa yang mempunyai banyak keragmana dalam hambatan belajr dan kebutuhannya, akan sangat efektaif apabila guru bekerja dalam tim. Akan sangat sulit bagi guru untuk menyebarkan keahlian (profesionalisme), bila bekerja sendiri. Bekerja dalam tim merupakan cirri khas dari professional.
e. Keterlibatan Orang Tua.
Kerjasama yang erat antara sekolah dengan orang renta akan menghasilkan solusi terbaik dalam melayani kebutuhan mencar ilmu anak di sekolah. Keterlibatan orang renta sangat penting dalam kaitannya dengan perundingan dalam mencari solusi berkenaan dengan pendidikan anak baik di sekolah maupun di rumah. Keterlibatan orang renta dalam pendidikan biasanya hanya terbatas pada urusan biaya. Oleh alasannya ialah itu keterlibatan orang renta hendaknya dikembangkan kepada persolan pendidikian yang lebih luas. Apabila susukan orang renta ke sekolah cukup terbuka, maka setiap dilema yang dihadapi anak akan segera ditangulangi bersama.
3. Sistem Pendukung Pendidikan Inklusif
Dalam mengimplementasikan pendidikan inklusif dibutuhkan system pendukung, yang akan menyampaikan dukungan kepada guru, kepala sekolah dan orang renta dalam melayani bawah umur berkebutuhan khusus di sekolah regular. Dalam konsep pendidikan inklusif system pendukung itu disebut Pusat Sumber (Resource Center). Pusat sumber berfungsi sebagi forum yang menyampaikan pinjaman kepada sekolah regular dalam bentuk:
a. Menyediakan guru pendidikan kebutuhan khusus yang profesional yang disebut guru kunjung.
b. Menyelenggarakan pelatihan-pelatihan bagi guru sekolah regular, orang renta dan melaksanakan intervensi kepada anak berkebutuhan khusus perihal keterampilan yang sangat diperlukan, yang tidak diperoleh di sekolah regular.
Diperlukan satu atau dua sentra sumber di setiap kabupaten/kota yang akan menyampaikan dukungan kepada sekolah regular dalam mengimplementasikan pendidikan inklusif. Tanpa kehadiran sentra sumber sangat sulit pendidikan inklusif untuk diwujudkan. Sebagai konsekuensi dari hal-hal tersbut di atas, maka harus terjadi perubahan budaya sekolah yang mendasar, yaitu dari budaya sekolah yang ekslusif ke budaya sekolah yang ramah dan inklusif, atau disebut juga lingkungan inklusif ramah pembelajaran.
BEBERAPA TEORI TENTANG KREATIVITAS DAN
KREATIVITAS SISWA DI SEKOLAH
Menurut Poerwodarminto (2002:1063) sikap ialah perilaku; gerak-gerik. Kreatif ialah mempunyai daya cipta, kemampuan untuk menciptakan, bersifat (mengandung) daya cipta (Poerwodarminto, 2002:599). Sikap kreatif yang dimaksud dalam penelitian ini ialah sikap yang mempunyai daya cipta, kemampuan untuk membuat atau mengungkapkan gagasan-gagasan gres dalam memahami suatu konsep matematika atau kemampuan mengungkapkan gagasan-gagasan gres dalam menuntaskan suatu masalah matematika.
Menurut Chaiken dan Stangor (1987) dalam zhadsfia, (2006: 1), sikap itu terdiri dari tiga komponen yakni komponen afektif, komponen kognitif, dan komponen konatif. Komponen afektif ialah perasaan yang dimiliki oleh seseorang terhadap sesuatu objek. Komponen kognitif ialah kepercayaan atau keyakinan yang menjadi pegangan seseorang. Adapun komponen konatif ialah kecenderungan untuk bertingkah laris atau berbuat dengan cara-cara tertentu terhadap sesuatu objek.
Ada beberapa model skala yang dikembangkan oleh para pakar untuk mengukur sikap. Dalam penelitian ini dipilih skala likert (Likert Scales) alasannya ialah mudah dan bermanfaat untuk diimplementasikan oleh guru dalam proses pembelajaran dikelas.
Kreativitas pada pada dasarnya merupakan kemampuan umum untuk membuat sesuatu yang baru, sebagai kemampuan untuk menyampaikan gagasan-gagasan gres yang sanggup diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan gres antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya (Munandar, 2004:25).
Salah satu masalah yang kritis dalam meneliti, mengidentifikasi, dan menyebarkan kreativitas ialah bahwa begitu banyak definisi perihal kreativitas. Tetapi tidak ada satu definisi pun yang sanggup diterima secara universal.
Beberapa definisi perihal kreativitas berdasarkan 4P berdasarkan munandar (2004:20)
Definisi Pribadi. Tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya. Dimensi kepribadian atau motivasi mencakup ciri-ciri mirip fleksibilitas, toleransi terhadap kedwiartian, dorongan untuk berprestasi dan mendapat pengakuan, keuletan dalam menghadapi rintangan, dan pengambilan risiko yang moderat.
Definisi Proses. Definisi proses yang populer ialah definisi Torrance (1988) perihal kreativitas yang pada dasarnya ibarat langkah-langkah dalam metode ilmiah. Adapun langkah-langkah proses kreatif berdasarkan wallas (1926) yang hingga kini masih banyak diterapkan dalam pengembangan kreativitas mencakup tahap persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi.
Definisi Produk. Definisi yang berfokus pada produk kreatif menekankan orisinalitas, mirip definisi barron (1969) yang menyatakan bahwa kreativitas ialah kemampuan untuk menghasilkan/menciptakan sesuatu yang baru. Begitu pula berdasarkan Haefele (1926) ’kreativitas ialah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi gres yang mempunyai makna sosial.’
Definisi ”Press”. Kategori keempat dari definisi dan pendekatan terhadap kreativitas menekankan faktor ”Press” atau dorongan, baik dorongan internal (dari diri sendiri berupa keinginan dan hasratuntuk mencipta atau bersibuk diri secara kreatif) maupun dorongan eksternal dari lingkungan sosial dan psikologis.
Skala sikap dalam Mudjito (2007:15) ialah alat penilaian hasil mencar ilmu yang berupa sejumlah pernyataan sikap perihal sesuatu yang jawabannya dinyatakan secara berskala, contohnya skala tiga, empat atau lima. Pengembangan skala sikap sanggup mengikuti langkah sebagai berikut.
Menentukan obyek sikap yang akan dikembangkan skalanya.
Memilih dan membuat daftar dari konsep dan kata sifat yang relevan dengan obyek penilaian sikap.
Memilih kata sifat yang sempurna dan akan dipakai dalam skala.
Menentukan skala dan penskoran.
Berdasarkan pertimbangan bahwa prilaku kreatif tidak hanya memerlukan kemampuan berpikir kreatif (afektif), Munandar menyusun skala sikap kreatif, diantaranya tujuh butir diadopsikan dari ”Creative Attitude Survey” yang disusun oleh Schaefer.
Ada enam perkiraan kreatif (Dwijanto, 2006:221) yang diangkat dari teori dan aneka macam studi perihal kreativitas, yaitu sebagai berikut.
Kaprikornus kreativitas merupakan kemampuan seseorang dalam membuat kombinasi-kombinasi gres dari hal-hal yang telah ada sehingga melahirkan sesuatu yang baru. Karya kreatif tidak lahir hanya alasannya ialah kebetulan, melainkan melalui serangkaian proses kreatif yang menuntut kecakapan, keterampilan, dan motivasi yang kuat.
Dalam bahasa yang sederhana, kreativitas sanggup diartikan sebagai suatu proses mental yang sanggup melahirkan gagasan-gagasan atau konsep-konsep baru. Menurut National Advisory Committees UK (1999), bahwa kreativitas mempunyai empat karakteristik, yaitu: (1) berfikir dan bertindak secara imajinatif, (2) seluruh acara imajinatif itu mempunyai tujuan yang jelas; (3) melalui suatu proses yang sanggup melahirkan sesuatu yang orisinal; dan (4) hasilnya harus sanggup menyampaikan nilai tambah. Keempat karakteristik tersebut harus merupakan suatu kesatuan yang utuh. Bukanlah suatu kreativitas bila hanya salah satu atau sebagian saja dari keempat karateristik tersebut.
Robert Fritz (1994) menyampaikan bahwa “The most important developments in civilization have come through the creative process, but ironically, most people have not been taught to be creative.” Hal senada disampaikan pula Ashfaq Ishaq: “We humans have not yet achieved our full creative potential primarily because every child’s creativity is not properly nurtured. The critical role of imagination, discovery and creativity in a child’s education is only beginning to come to light and, even within the educational community, many still do not appreciate or realize its vital importance. Memang harus diakui bahwa hingga dikala ini sistem sekolah belum sepenuhnya sanggup menyebarkan dan menghasilkan para lulusannya untuk menjadi individu-individu yang kreatif. Para siswa lebih cenderung disiapkan untuk menjadi seorang tenaga juru yang mengerjakan hal-hal teknis dari pada menjadi seorang yang visioner (baca: pemimpin). Apa yang dibelajarkan di sekolah seringkali kurang menyampaikan manfaat bagi kehidupan siswa dan kurang selaras dengan perkembangan lingkungan yang terus berubah dengan pesat dan sulit diramalkan. Begitu pula, proses pembelajaran yang dilakukan sepertinya masih lebih menekankan pada pembelajaran “what is” yang menuntut siswa untuk menghafalkan fakta-fakta, dari pada pembelajaran “what can be”, yang sanggup mengantarkan siswa untuk menjadi dirinya sendiri secara utuh dan orisinal.
Oleh alasannya ialah itu, betapa pentingnya pengembangan kreativiitas di sekolah semoga proses pendidikan di sekolah benar-benar sanggup mempunyai relevansi yang tinggi dan menghasilkan para lulusannya yang mempunyai kreativitas tinggi. Sekolah seyogyanya sanggup menyediakan kurikulum yang memungkinkan para siswa sanggup berfikir kritis dan kreatif, serta mempunyai keterampilan pemecahan masalah, sehingga pada gilirannya mereka sanggup merespons secara positif setiap kesempatan dan tantangan yang ada serta bisa mengelola resiko untuk kepentingan kehidupan pada masa kini maupun mendatang.
Menurut Robert J Sternberg, seorang siswa dikatakan mempunyai kreativitas di kelas manakala mereka senatiasa menunjukkan: (1) merasa ingin tau dan mempunyai rasa ingin tahu, mempertanyakan dan menantang serta tidak terpaku pada kaidah-kaidah yang ada; (2) mempunyai kemampuan berfikir lateral dan bisa membuat hubungan-hubungan diluar kekerabatan yang lazim; (3) memimpikan perihal sesuatu, sanggup membayangkan, melihat aneka macam kemungkinan, bertanya “ apa bila seandanya” (what if?), dan melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda; (4) mengeksplorasi aneka macam pemikiran dan pilihan, memainkan ideanya, mencobakan alternatif-alternatif dengan melalui pendekatan yang segar, memelihara pemikiran yang terbuka dan memodifikasi pemikirannya untuk memperoleh hasil yang kreatif; dan (5) merefleksi secara kritis atas setiap gagasan, tindakan dan hasil-hasil, meninjau ulang kemajuan yang telah dicapai, mengundang dan memanfaatkan umpan balik, mengkritik secara konstruktif dan sanggup melaksanakan pengamatan secara cerdik.
Carolyn Edwards dan Kay Springate dalam artikelnya yang berjudul “The lion comes out of the stone: Helping young children achieve their creative potential” menyampaikan saran perihal upaya pengembangan kreativiitas siswa, sebagai berikut:
Berikan kesempatan dan waktu yang leluasa kepada setiap siswa untuk mengeksplorasi dan melaksanakan pekerjaan terbaiknya dan jangan mengintervensi pada dikala mereka justru sedang termotivasi dalam menuntaskan tugas-tugasnya secara produktif.
Ciptakan lingkungan kelas yang menarik dan mengasyikkan. Lakukan “unfinished work” sehingga siswa merasa ingin tau dan terpengaruhi pemikirannya untuk berusaha melengkapinya pada saat-saat berikutnya. Berikan pula kesempatan kepada setiap siswa untuk melaksanakan kontemplasi.
Sediakan dan sajikan secara melimpah aneka macam materi dan sumber mencar ilmu yang menarik dan bermanfaat bagi siswa.
Ciptakan iklim kelas yang memungkinkan siswa merasa nyaman bila melaksanakan suatu kesalahan, mendorong keberanian siswa untuk mengambil resiko mendapatkan kegaduhan dan kekacauan yang sempurna di kelas, serta menyampaikan otonomi yang luas kepada siswanya untuk mengelola belajarnya sesuai dengan minat, karakteristik dan tujuannya
Pembelajaran yang kreatif memang bukanlah pilihan yang gampang, di dalamnya memerlukan waktu yang lebih dan perencanaan yang matang untuk melahirkan dan menyebarkan ide-ide baru. Selain itu, dibutuhkan pula keyakinan yang besar lengan berkuasa untuk melaksanakan improvisasi dalam pembelajaran, keberanian untuk mencoba dan kesanggupan untuk menanggung aneka macam resiko yang tidak diharapkan dalam pembelajaran. Kendati harus dilakukan melalui perjuangan yang tidak mudah, pembelajaran untuk kreativitas ini diyakini sanggup menimbulkan pembelajaran jauh lebih menyenangkan dan menyampaikan efektivitas yang tinggi.
Terkait dengan kiprah guru dalam pembentukan kreativitas siswa, Robert J Sternberg menyampaikan “The most powerful way to develop creativity in your students is to be a role model. Children develop creativity not when you tell them to, but when you show them.” Dalam melaksanakan pembelajaran, guru harus sanggup memperlihatkan keteladanannya sebagai sosok yang kreatif.
Seorang guru yang kreatif tidak hanya dituntut mempunyai keahlian dalam bidang akademik, namun lebih dari itu dituntut pula untuk sanggup menguasai aneka macam teknik yang sanggup menstimulasi rasa keingintahuan sekaligus sanggup menumbuhkan rasa percaya diri dan harga diri (self esteem) setiap siswanya. Guru harus sanggup menyampaikan dorongan pada dikala siswa membutuhkannya dan menyampaikan keyakinan kepada siswanya pada dikala ia merasa harga dirinya terancam. Dalam melaksanakan proses pembelajaran, seorang guru harus sanggup menjaga keseimbangan antara struktur pembelajaran dengan kesempatan pengembangan diri siswa, antara pengelolaan kelompok (management of groups) dengan perhatian terhadap perbedaan individual siswanya.
Untuk menjadi guru kreatif memang bukan hal yang mudah, terutama bagi guru-guru yang tergolong laggard. Ketika dihadapkan dengan suatu perubahan (inovasi) di sekolah, mereka mungkin cenderung terlambat atau justru hanya berdiam diri menghadapi perubahan yang ada. Jika terus menerus dibiarkan, guru-guru mirip inilah yang bekerjsama sanggup merusak pendidikan. Tentunya banyak faktor yang mengakibatkan mereka menjadi laggard dan tidak kreatif, baik yang bersumber dari dalam diri guru itu sendiri (internal factors) maupun faktor eksternal. Oleh alasannya ialah itu, semoga guru sanggup menjadi kreatif perlu diperhatikan aneka macam faktor yang mempengaruhi dan melatarbelakanginya.
Kepemimpinan di sekolah merupakan salah satu faktor yang tidak bisa dilepaskan dalam menyebarkan kreativitas guru maupun kreativitas sekolah secara keseluruhan. Fred Luthans (1995) mengemukakan bahwa kreativitas merupakan salah satu keterampilan yang harus dikuasai oleh seorang manajer. Dalam hal ini, kepala sekolah dituntut untuk sanggup membuat budaya dan iklim kreativitas di lingkungan sekolah yang mendorong seluruh warga sekolah untuk menyebarkan aneka macam kreativitas dalam melaksanakan kiprah dan pekerjaannya. Kepala sekolah harus sanggup menyampaikan penghargaan kepada sertiap perjuangan kreatif yang dilakulan oleh anggotanya, terutama perjuangan kreatif yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam melaksanakan pembelajaran. Kepala sekolah juga dituntut untuk sanggup menyediakan sumber-sumber bagi pertumbuhan kreativitas di sekolah.
Selain terdapat guru yang termasuk laggard, tidak sedikit pula guru (dan juga siswa) di sekolah yang sesungguhnya mempunyai sikap dan pemikiran kritis dan kreatif, namun alasannya ialah tidak memperoleh dukungan yang besar lengan berkuasa dari sistem sekolah, termasuk dari manajemen sekolah, yang pada risikonya sikap dan pemikiran kreatifnya tidak sanggup berkembang secara wajar. Bahkan, sebaliknya mereka seringkali mengalami tekanan tertentu dari lingkungannya alasannya ialah dianggap sebagai orang yang “nyeleneh” atau eksentrik.
Berdasarkan uraian di atas, kiranya sanggup disimpulkan bahwa siswa yang kreatif sanggup dihasilkan melalui guru yang kreatif, dan guru yang kreatif sanggup dihasilkan melalui kepala sekolah yang kreatif. Siswa yang kreatif merupakan aset yang sangat berharga bagi kehidupan diri pribadinya maupun orang lain.
SUMBER BACAAN
aciknadzirah.blogspot.com/search?q=18/kreativitas-di-sekolah/
Todd Lubart.(2005) Individual Student Differences And Creativityfor Quality Education.
Background paper prepared for the Education for All Global Monitoring Report
Depdiknas, Pendekatan kontekstual, Depdiknas, Jakarta, 2002.
DePorter Bobbi dan Mike Hernacki, Quantum Learning, Kaifa, Yogyakarta, 2003.
Siberman Melvin L. dkk, Active Learning, Raisu;l Muttaqien, Bandung, 2004
http://hasanudin-bio.blogspot.com/2011/05/pengaruh-kreativitas-pembelajaran-guru
http://www.academia.edu/1208234/UPAYA_MENINGKATKAN_KEMAMPUAN_BERPIKIR_KRITIS_DAN_KREATIF_SISWA_KELAS_X_ADMINISTRASI_PERKANTORAN_AP_S
http://www.scribd.com/doc/90926336/Pengelolaan-Kelas-Yang-Efektif
Penulis : Todd Lubart
Tahun : 2004
Ringkasan Singkat Artikel :
Artikel ini menyampaikan tanggapan atas pertanyaan-pertanyaan utama perihal bagaimana perbedaan perbedaan Individu dan Kreativitas pada siswa dieksplorasi untuk menghasilkan sebuah proses pembelajaran (pendidikan) yang bermutu. Beberapa pertanyaan fundamental perihal : bagaimana sebuah pendidikan berkualitas secara baik dipahami dalam konteks perbedaan individu dan kreatifitas siswa, aneka macam jenis perbedaan yang sanggup dipahami dalam perkembangan siswa, apakah sekolah responsive dalam menangani perbedaan perbedaan yang ada, bagaimana memakai kenyataan yang ada bagi reformasi pengajaran, bagaimana mengelola perbedaan kreativitas siswa dan lain lain dibahas dalam artikel ini.
Pendidikan berkualitas mengacu pada situasi mencar ilmu di mana pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dikembangkan dalam cara terbaik untuk mempromosikan pertumbuhan siswa, keberhasilan memperoleh ketrampilan dan berkontribusi untuk individu dan masyarakat di masa depan. Meskipun sekolah cenderung untuk mengelompokkan siswa sesuai usia atau kelas, setiap siswa tetaplah individu yang unik. Mengingat perbedaan siswa pada faktor kognitif dan konatif (preferensi motivasi individu), cara terbaik untuk menyebarkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan siswa berbeda satu sama lain. Dengan demikian, pendidikan yang berkualitas tinggi yang merata bukan berarti semua siswa mendapatkan acara yang sama. Bahkan, semakin banyak peneliti dan pendidik beropini bahwa pendidikan berkualitas tinggi harus mempertimbangkan perbedaan kemampuan individu siswa, menyampaikan pengalaman mencar ilmu yang optimal untuk setiap anak. Snow (1986: 1029) menyatakan “learning how to capitalize on individual strengths and to promote a diversity of achievements … while compensating for the individual inequalities that limit educational achievement for many poses the major challenge to . . . education today and for decades to come” Ini berarti bahwa dalam hal beragamnya perbedaan siswa, yang terpenting bagi pendidik ialah mencar ilmu bagaimana memanfaatkan kekuatan individu dan mempromosikan keragaman prestasi. Dengan demikian keberagaman siswa merupakan tantangan bagi dunia pendidikan di masa depan.
Ada dua jenis utama dari perbedaan individu: (1) Perbedaan kuantitatif dalam kecepatan, kuantitas dan kedalaman mencar ilmu (kognitif) contohnya : kecepatan memahami konsep dan ketrampilan baru; dan konatif (perbedaan cirri kepribadian, motivasi, toleransi dan lain lain), (2) Perbedaan Kualitatif dalam cara siswa mencar ilmu dengan baik, sering disebut "gaya kognitif" atau "gaya belajar", memperlihatkan bahwa siswa mendekati kiprah dengan cara yang berbeda secara kualitatif, bila mereka diberi pilihan.
Adanya pengelompokan tingkat-kemampuan di beberapa sekolah, misalnya, merupakan upaya untuk menangani perbedaan kuantitatif dalam jumlah dan kecepatan akuisisi pengetahuan. Penelitian telah memperlihatkan bahwa kelompok kemampuan rendah, pada kenyataannya alasannya ialah kurangnya kesempatan untuk mencar ilmu alasannya ialah waktu yang relatif lebih banyak dihabiskan untuk masalah disiplin, manajemen dan materi pengajaran yang berkualitas rendah (Snow, 1986). Sebagian besar sekolah, khususnya di tingkat dasar, rata-rata memfasilitasi kegiatan mencar ilmu kepada siswa secara klasikal sebagai suatu kelompok. Tentu saja, siswa yang menyimpang secara radikal dari norma kelas, alasannya ialah mereka ialah siswa yang lambat pada kelas tersebut atau, sebaliknya siswa berbakat, sanggup mendapatkan perhatian khusus dari guru dan pada risikonya akan ditempatkan di kelas khusus. Jelas, semakin besar ukuran kelas, para guru cenderung kurang mempunyai waktu untuk menyampaikan perhatian secara personal kepada setiap siswa. Jika setiap siswa beroperasi di "zona perkembangan proksimal" nya [yaitu sebuah konsep yang diusulkan oleh psikolog dan pendidik Rusia Lev Vygotsky (Vygotsky, 1978; Wozniak, 1980)], maka pendidikan berkualitas akan tercapai. Dalam semangat ini, kemajuan setiap siswa dengan kecepatan sendiri dan guru menyampaikan pinjaman kepada mereka yang membutuhkan dan memvalidasi bahwa seorang siswa telah mencapai tingkat tertentu belajar.
Salju (1986) membayangkan suatu sistem pendidikan individual di mana (a) arahan diadaptasi semoga sesuai dengan kapasitas dikala ini siswa dan kekuatan, yang memungkinkan pembelajaran materi pelajaran untuk melanjutkan, dan (b) siswa menerima, di samping itu, training difokuskan untuk meningkatkan secara eksklusif lemah kemampuan atau mengatasi masalah-masalah tertentu, mirip kecemasan tes. Dalam kasus apapun, pendidikan individual dalam praktik pendidikan dikala ini, sebuah, alternatif pendekatan non-standar yang cenderung dikaitkan dengan ukuran kelas yang relatif kecil, memotivasi guru yang mengakui keberadaan dan pentingnya perbedaan individu pada siswa, dan siswa yang mencar ilmu bertanggung jawab atas pendidikan mereka sendiri (mengembangkan otonomi), mencoba memajukan sebaik mungkin pada setiap titik dalam proses pembelajaran.
Mengambil pendekatan yang agak berbeda untuk perbedaan individu dan pendidikan berkualitas, Robert Sternberg, Elena Grigorenko, Linda Jarvin dan kolaborator mereka melaksanakan serangkaian penelitian di sekolah dasar dan menengah didasarkan pada teori kecerdasan triarchic. Menurut teori ini, terdapat aspek analitis, kreatif dan simpel yang terlibat dalam kecerdasan, mencar ilmu dan kinerja yang sukses. Intelijen analitis mengacu pada kemampuan berpikir kritis, kecerdasan kreatif mengacu pada pemikiran orisinil dan menghadapi situasi baru, kecerdasan simpel menyangkut penerapan bijaksana pengetahuan dan kemampuan dalam dunia kasatmata pengaturan. Individu mungkin mempunyai kekuatan intelektual yang berbeda (analitik, kreatif, praktis), dengan orientasi terhadap satu atau lebih dari kemampuan triarchic ini. Program pendidikan sanggup dikembangkan berdasarkan analisis, latihan kreatif atau praktis. Selain itu adonan acara triarchic sanggup diusulkan. Pertanyaannya ialah apakah perbedaan talenta dan preferensi siswa dikombinasikan dengan acara pembelajaran dibedakan berdasarkan teori triarchic akan mempengaruhi hasil akademik dan sikap siswa terhadap pengalaman pendidikan.
Tidak ada penelitian di negara-negara berkembang belum dilakukan dengan memakai pendekatan triarchic. Namun, tidak sulit untuk membayangkan bahwa acara triarchic sanggup diterapkan di negara-negara berkembang. Memang acara mirip ini melibatkan kegiatan analisis, kreatif dan simpel pada setiap topik yang diajarkan kepada seluruh kelas. Jadi, idenya ialah bahwa siswa akan menemukan setidaknya serpihan dari kegiatanyang menarik dan sesuai kemampuan mereka. Oleh alasannya ialah itu acara triarchic ini cocok diterapkan untuk kelas yang besar. Pendekatan triarchic secara implisit berpusat pada siswa alasannya ialah ada sesuatu untuk setiap anak dalam acara yang sanggup diterima oleh semua siswa. Perbedaan individu diperhitungkan ketika acara ini dibangun alasannya ialah acara merespon keragaman siswa. Pendekatan triarchic tidak mendukung standar akademik individual atau cara individual mencapai tujuan bersama.
Pelajaran utama yang bisa diperoleh dari kenyataan adanya aneka macam perbedaan dan kreativitas individu untuk kebijakan dan reformasi pendidikan ialah :
1. Perbedaan individu perlu dipahami oleh guru. Pelatihan guru perlu menyajikan aneka macam perbedaan individu bahwa siswa sanggup memperlihatkan dan memotivasi guru untuk memodulasi pelajaran mereka sesuai dengan perbedaan-perbedaan yang ada. Oleh alasannya ialah itu, guru perlu mencar ilmu bagaimana mempertimbangkan perbedaan-perbedaan di kalangan siswa yang sanggup meningkatkan kualitas pendidikan.
2. Perbedaan individu perlu dikaji semoga sanggup diperhitungkan. Untuk merespon perbedaan individu, guru harus mempunyai cara untuk mengkarakterisasi siswa dengan cara yang ilmiah yang valid. Tindakan menguji kemampuan kognitif, kuesioner yang mengukur kepribadian dan minat serta alat-alatukur lain yang tersedia. Guru perlu mengetahui alat-alat ukur dan menggunakannya dengan tepat.
3. Dalam beberapa konteks, sistem sanggup dibentuk di mana pendidikan yang berkualitas tinggi diberikan kepada setiap siswa (dari siswa lambat untuk yang berbakat) melalui pengajaran yang berbeda dan menyesuaikan setiap zona siswa untuk pengembangan di masa mendatang. Sebagai modus ini pendidikan tidak umum dilakukan, ialah penting untuk memulai dengan sekolah percontohan di masing-masing kawasan yang sanggup menyebar metode pengajaran.
4. Mengajar topik memakai aneka macam gaya mencar ilmu dan kegiatan memungkinkan siswa untuk menemukan setidaknya serpihan yang sesuai kemampuan dan kepentingan mereka. Dengan demikian, alternatif untuk arahan dibedakan pada tingkat individu siswa, ialah mungkin untuk memahami program-program pendidikan yang memperlihatkan keragaman pendekatan kepada semua siswa. Semua siswa yang terkena beberapa cara untuk belajar, yang akan memungkinkan setiap siswa untuk menemukan / nya cara favorit dan mendapatkan penguatan dari metode tambahan yang ditawarkan pada setiap topik (lihat Sternberg & Grigorenko, 2000).
Selanjutnya bagaimana kiprah pencapaian kreativitas dibandingkan dengan akademik untuk kualitas pendidikan dan untuk pembangunan sosial dan ekonomi. Topik kreativitas dalam bidang psikologi dan pendidikan banyak menjadi perhatian Guilford dan Torrance pada tahun 1950-an. Ada kesepakatan luas bahwa kreativitas merupakan aspek penting sikap manusia, yang berpotensi relevan dengan hampir setiap domain acara (misalnya, seni, ilmu pengetahuan, ekonomi, domain kehidupan sehari-hari).
Terdapat sesuatu yang membedakan ide-ide kreatif dari ide-ide asing yang juga baru, alasannya ialah ide-ide kreatif memperhitungkan memperhitungkan parameter dari sebuah hambatan situasi. Tergantung bidang usaha, mirip seni, ilmu pengetahuan, sastra rekayasa dan atau desain, pengutamaan diberikan kepada dua komponen yaitu kebaruan dan kepuasan kendala, bervariasi. Pendidikan tradisional berfokus pada pengembangan mirip ahli, sikap melalui akuisisi pengetahuan dan keterampilan berpikir analitik kritis. Keahlian akademik yang berharga dan bekerjasama dengan kinerja karir hingga batas tertentu. Namun, pertumbuhan dan perkembangan teknologi dan evolusi sosial dalam masyarakat modern memperlihatkan bahwa pendidikan berkualitas tinggi tidak hanya terbatas untuk menghasilkan seorang "ahli" berbasis pengetahuan.
Memang, ekonom mirip Paul Romer (1993, 1994) telah mengusulkan bahwa pertumbuhan ekonomi di kurun 21 akan tergantung pada kreativitas, membuat produk baru, layanan baru, peluang gres lebih dari memproduksi lebih banyak barang, atau memproduksi barang lebih murah. Model "endogen" pertumbuhan ekonomi ini memperlihatkan bahwa keterampilan berpikir kreatif setidaknya akan sama berharganya mirip keterampilan akademis tradisional. Investasi sumber daya pendidikan dalam training kreativitas sanggup dianggap sebagai pengembangan "human capital", yang sanggup menyampaikan bantuan terhadap pertumbuhan ekonomi di masa depan (Walberg & Stariha, 1992). Pendidikan berkualitas memungkinkan individu dan masyarakat untuk tumbuh dan efektif menyesuaikan diri dengan tantangan gres yang akan timbul. Dalam hal ini, pengetahuan perlu diperoleh dengan filosofi bahwa pengetahuan ini tidak statis, tetapi akan berkembang, akan ulang di beberapa titik, dan mungkin digantikan oleh ide-ide baru. Dengan demikian pendidikan berkualitas dikala ini dan masa depan harus mendorong fleksibilitas, dan kreativitas dalam akuisisi selain pengetahuan.
Bagaimana kreativitas berkembang pada anak-anak? Menurut pendekatan multivariat, kreativitas tergantung pada kognitif, konatif, dan faktor lingkungan (Amabile, 1983, 1996, Lubart, 1999a, Sternberg & Lubart, 1995, Lubart et al, 2003). Setiap faktor yang mendasari berkembangnya kreatifitas selama masa kanak-kanak.
1. Kognisi dan pengembangannya
Beberapa kemampuan intelektual dianggap penting untuk kreativitas diantaranya perbandingan selektif yaitu kemampuan untuk melihat rangsangan yang relevan dalam lingkungan. Kemampuan perbandingan selektif memungkinkan untuk daypikir analogi dan metafora yaitu kemampuan untuk memfasilitasi generasi ide-ide yang kompleks dari elemen berbeda, dan berpikir divergen untuk menghasilkan banyak alternatif ketika menghadapi jalan buntu. Kemampuan ini sanggup dikembangkan jarang menjadi pengutamaan di sekolah.
Hal ini juga penting untuk dicatat bahwa perkembangan kemampuan kognitif terutama yang mempunyai kegunaan untuk berpikir kreatif, mirip berpikir divergen, tidak terisolasi dari perkembangan kemampuan kognitif lainnya, mirip daypikir logis.
2. Konasi dan Pengembangannya
Kreativitas ialah lebih dari sebuah fenomena kognitif murni. Secara khusus ciri pengambilan risiko, keterbukaan, individualitas, ketekunan dan toleransi ambiguitas sepertinya memainkan kiprah dalam kreativitas (Sternberg & Lubart, 1995).
Selain ciri-ciri kepribadian, variabel motivasi juga telah terbukti penting untuk kreativitas. Motivasi mengacu pada kekuatan yang mendorong seorang individu untuk terlibat dalam tugas. Ada dua motivator intrinsik, mirip rasa ingin tahu dan kenikmatan yang diperoleh dari mengekspresikan diri sendiri melalui visual atau verbal mode, serta motivator ekstrinsik, mirip legalisasi sosial dari sobat sebaya atau guru. Penelitian di mana motivasi dimanipulasi oleh kiprah pemodelan, pelatihan, atau imbalan memperlihatkan bahwa bawah umur motivasi untuk bekerja, intrinsik atau ekstrinsik, berkembang dari waktu ke waktu berdasarkan pengalaman yang diberikan oleh lingkungan mereka. Motivasi intrinsik dianggap lebih aman untuk kreativitas meskipun motivasi ekstrinsik juga sanggup berkontribusi dalam beberapa keadaan (Amabile, 1996).
3. Lingkungan dan pengembangannya
Beberapa penulis telah mengusulkan bahwa salah satu dampak kunci pada kreatif pembangunan ialah lingkungan fisik dan sosial anak, terdiri dari keluarga, sekolah, dan masyarakat. Lingkungan keluarga sanggup menyampaikan dukungan kognitif (misalnya, stimulasi intelektual) dan afektif (misalnya, keamanan emosional) untuk kreativitas serta menyediakan pengaturan fisik di mana seorang anak tumbuh (Harrington, Block & Block, 1987). Selain lingkungan keluarga, lingkungan sekolah memainkan penting kiprah dalam pengembangan kreativitas dengan alasan yaitu :
a. Anak-anak memperoleh kemampuan kognitif dan pengetahuan di sekolah.
Seringkali sekolah menekankan berpikir konvergen, menemukan tanggapan "benar" masalah yang diajukan oleh guru. Kadang-kadang, bagaimanapun, berpikir divergen ialah mendorong dan memperbolehkan bawah umur untuk berjuang dengan tidak terang masalah. Di hal pengetahuan, informasi sering ditransmisikan dengan pengutamaan pada hafalan dan ingatan. Cropley (1997) telah mengidentifikasi beberapa karakteristik umum dari guru yang mendorong kreativitas dalam kelas, mereka mendorong mencar ilmu mandiri, mempunyai gaya mengajar kooperatif, memotivasi siswa untuk mempelajari fakta-fakta untuk mempunyai dasar yang kokoh dalam berpikir divergen, mendorong pemikiran yang fleksibel, mempertimbangkan dengan matang dalam menilai inspirasi siswa, mempromosikan gagasan penilaian diri, menjawab pertanyaan siswa dan saran dengan serius, memperlihatkan kesempatan untuk bekerja dengan aneka macam materi dalam kondisi yang bervariasi, dan membantu siswa untuk mengatasi frustrasi dan kegagalan dalam rangka membangun keberanian untuk menyebarkan gagasan baru.
b. Kedua, guru berfungsi sebagai panutan bagi anak-anak.
Guru sanggup nilai atau menilai kembali ekspresi dari ide-ide kreatif di dalam kelas. Guru yang bekerja pada konsepsi siswa yang ideal memperlihatkan bahwa guru sering menghargai karakteristik yang secara sosial penting tapi tidak relevan untuk kreativitas. Sikap guru dan nilai-nilai mempengaruhi bawah umur alasannya ialah guru cenderung untuk menghargai sikap yang sesuai dengan nilai-nilai mereka. Perilaku ini, mirip tidak mengganggu kelas dengan mengajukan banyak pertanyaan sanggup mengakibatkan berkurangnya berpikir kreatif, atau kurang mencar ilmu pada umumnya, alasannya ialah siswa yang mengajukan pertanyaan cenderung mengikuti pelajaran. Dengan sikap guru terhadap sikap kreatif di kelas demikian penting dan memposisikan mereka secara istimewa untuk merangsang atau melumpuhkan kreativitas. Sikap guru dan nilai-nilai yang dipelajari dibangun dari waktu ke waktu.
c. Ketiga struktur sekolah, bawah umur hidup dan berfungsi sebagai konteks yang penting untuk sosialisasi.
Mereka menghadapi dunia terstruktur dengan hukum gres untuk menguasai dan menyelesaika kegiatan mencar ilmu terstruktur. Hal ini tidak mengherankan, alasannya ialah itu, sangat dipengaruhi oleh kreativitas. Selain pengaturan sekolah lokal, kondisi lingkungan sosial makroskopik menyebarkan kreatifitas dengan aneka macam cara. Misalnya, budaya kegiatan mirip konser, festival seni, museum, dan acara televisi pada topik yang bermacam-macam semua bisa berkontribusi untuk pengembangan kreatif anak-anak. Akhirnya, analisis lintas-budaya memperlihatkan bahwa jumlah kegiatan kreatif, wilayah dimana kreativitas dipromosikan, dan bahkan definisi kreativitas sanggup bervariasi antar budaya (Lubart, 1999b).
Akhirnya, berkaitan dengan definisi kreativitas, mungkin sanggup dibedakan antara visi kreativitas "Barat" menekankan produk pemikiran kreatif daripada pandangan alternative; dan visi Timur atau Oriental lebih terfokus pada proses penemuan daripada output produk yang inovatif. Kreativitas sering dibahas sehubungan dengan keadaan pemenuhan sebuah ekspresi pribadi, dari esensi batin atau realitas ultimate, reinterpretasi atau pembaharuan ide-ide tradisional - menemukan sudut pandang gres - lebih dramatis dengan tradisi (Lubart, 1999b).
Akhirnya saran untuk sekolah perihal bagaimana sekolah dikondisikan untuk meningkatkan kreatifitas ialah sebagai berikut :
1. Sekolah menyediakan lingkungan yang secara khusus mendukung pemikiran kreatif, mengakui dan mempromosikan siswa melalui sikap guru di kelas. Kaprikornus kreativitas perlu dinilai dan diakui melalui pekerjaan proyek sebagai serpihan dari kinerja sekolah.
2. Guru perlu dididik untuk memahami perkembangan kreatif dan cara-cara di mana kreativitas sanggup dibina atau dihambat dalam praktek di sekolah. Guru harus peka terhadap isu-isu kreativitas yang jarang menjadi serpihan prioritas dari training guru.
3. Memberikan latihan latihan untuk mendorong secara eksklusif perkembangan faktor kognitif dan konatif yang terlibat dalam kreativitas
4. Kegiatan berpikir kreatif sanggup disisipkan pada setiap mata didik yang dipelajari.
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan ringkasan isi jurnal di atas maka sanggup diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah praktek pendidikan di Indonesia yang mengakomodir aneka macam perbedaan individu termasuk anak berkebutuhan kusus dan anak berbakat ?
2. Bagaimana praktek pendidikan yang memfasilitasi pengembangan kreatifitas peserta didik dan bagaimana teori-teori kreativitas yang dikembangkan para akhli diimplementasikan di sekolah atau dunia pendidikan ?
C. PEMBAHASAN
INKLUSI SEBAGAI PROSES LAYANAN PENDIDIKAN BAGI SEMUA ANAK
Paham humanisme memberi dampak terahadap perubahan pandangan masyarakat dunia terhadap anak dan pendidikannya (termasuk anak penyandang ketunaan). Secara internasional gerakan ke arah perubahan pendidikan yang lebih humanistik dan menjangkau semua yang terpinggirkan, dimulai dengan diselenggarakannya (1) Konvensi dunia perihal hak-hak anak pada tahun 1989 (2) Konverensi dunia perihal pendidikan untuk semua (education for all) di Jomtien, Thailand yang menghasilkan kesepakantan: membawa semua anak masuk sekolah dan menyampaikan pendidikan yang sesuai kepada semua anak. (3) Peraturan standar perihal kesamaan kesempatan bagi penyandang cacat (4) Pernyataan Salamnca perihal pendidikan inklusif. Konsep-konsep gres diperkenalkan melalui pernyataan Salamanca dan beberapa konsep telah diperkenalkan sebelumnya. Konsep-konsep itu penting alasannya ialah menggambarkan proses dan perubahan dikala ini. Di dalam pernyataan Salamanca diantaranya ditekakankan :
· Hak semua anak, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus temporer dan permanen untuk memperoleh penyesuaian pendidikan semoga sanggup mengikuti sekolah.
· Hak semua anak untuk ikut serta dalam pendidikan yang berpusat pada anak yang memenuhi kebutuhan individual.
· Pengayaan dan manfaat bagi semua yang terlibat akan diperoleh melalui pelaksanaan pendidikan inklusif.
· Hak semua anak untuk ikut serta dalam pendidikan berkualitas yang bermakna bagi setiap individu.
· Keyakinan bahwa pendidikan inklusif akan mengarah kepada sebuah masyarakat inklusif dan risikonya kepada keefektipan biaya.
· Semua anak sanggup dididik walaupun mengalami hambatan mencar ilmu dan hambatan perkembangan yang sangat berat.
· Pendidikan inkluisif harus menyampaikan pendidikan yang akan mencegah bawah umur menyebarkan harga diri yang jelek dan konsekuensi yang ditimbulkannya.
· Pendidikan inklusif bertujuan untuk membuat kolaborasi bukan persaingan.
Pernyataan Salamanca menjadi tonggak dimulainya proses perubahan paradigama pendidikan yang merangkul semua perbedaan agama, ras, budaya, ekonomi, minoritas etnis, bahasa, gender, dan abnormalitas (disabilities). Semuanya mempunyai susukan dan sesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas dalam setting yang sama (inklusi). Berdasarkan pola yang terkandung dalam pernyataan Salamanca, pendidikan inklusif sanggup dipandang sebagai satu pendekatan yang sanggup memenuhi kebutuhan mencar ilmu semua anak, remaja dan orang remaja yang secara spesifik difokuskan kepada mereka yang rawan terpinggirkan dan terabaikan. Secara lebih kongkret, pendidikan inklusif diartikan bahwa : sekolah harus mengakomodasi semua anak, tanpa memandang keadaan fisik, intelektual, sosial, emosional, bahasa, atau kondisi-kondisi lain, mirip penyandang cacat dan anakanak berbakat (gifted children), anak jalanan, bawah umur yang bekerja, bawah umur dari kelompok nomadic, bawah umur kelompok budaya minoritas dan bawah umur dari kelompok yang tidak beruntung dan terpinggirkan.
Pendidikan inkusif harus dipandang sebagai sebuah proses dalam melayani dan merespon kebutuhan semua peserta didik yang bermacam-macam melaui peningkatan partisipasi di dalam pembelajaran, dan mengurangi/mengidari pengabaian di dalam pendidikan. Untuk sanggup melaksanakan konsep ini harus terjadi perubahan dan modifikasi di sekolah regular dalam hal isi kurikulum, pendekatan Pembelajaran, struktur dan strategi, dan sekolah perlu megembangkan visi bersama bahwa pendidikan untuk semua merupakan tanggung jawab sekolah regular. Dari klarifikasi di atas timbul pertanyaan, sekolah mirip apa yang sanggup dipandang sebagsi sekolah yang bersifat inklusif ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sanggup di simak uraian selanjutnya.
Sekolah yang bersifat inklusif ialah sekolah yang ramah dan terbuka, yang ditandai hal-hal sebagai berikut :
a. Tidak diskriminatif.
Semua sekolah terutama Taman Kanak-kanak dan SD mempunyai potensi yang cukup untuk dikembangkan menjadi sekolah yang sanggup mendapatkan kehadiran semua anak tanpa kecuali. Hal ini sanggup dibuktikan bahwa hampir di semua sekolah diketahui atau tidak, sudah mendapatkan anak berkebuhan khusus terutama yang bersifat temporer. Ini berarti bahwa sekolah sudah mempunyai perhatian dan legalisasi terhadap adanya keragaman dan perbedaan. Sekolah yang ramah dan terbuka ialah sekolah yang tidak membeda-bedakan siswanya, yang para gurunya sanggup menyampaikan selamat tiba kepada semua anak, di sinilah tempat kalian mencar ilmu dan di sini tempat yang nyaman dan menyenangkan. Betapa bahagianya bawah umur dan orang tuanya apa bila semua diperlakukan mirip itu. Apabila keadaan ini sanggup dicapai, ada keinginan bahwa semua anak akan mendapatkan untuk memperoleh pendidikan
b. Mengakui dan Menghargai Keragaman Anak.
Wujud kasatmata dari adanya legalisasi dan penghargaan terhadap keragaman anak, adanya proses pembelajaran yang fleksibel. Fleksibilitas sanggup diwujudkan dalam bentuk penyesuaian antara isi kurikulum dengan hambatan dan kebutuhan mencar ilmu anak melalui pendekatan pembelajaran kooperatif. Hal ini memang tidak mudah untuk dilakukan, alasannya ialah dibutuhkan keterampilan yang memadai dari seorang guru.
Akan tetapi bila sanggup diwujudkan akan sangat menguntungkan bagi perkembangan anak. Anak yang mencar ilmu lebih cepat sanggup dilayani sesuai dengan kecepatannya, bawah umur yang rata-rata juga sanggup dilayani dan bawah umur yang mempunyai kebutuhan khusus sanggup pula dilayani kebutuhannya. Bentuk lain dari adanya penghaargaan dan legalisasi terhadap perbedaan, dengan membuat atmosfir kelas yang merefleksikan adanya toleransi, penghargaan dan penerimaan antara guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa, yang di dalamnya tidak ada celaan dan paksaan. Manakala atmosfir ini sanggup dicapai, maka akan berkembang pada diri anak sikap percaya diri, motivasi dan penghargaan terhadap orang lain yang berbeda. Belajar bagi anak akan merupakan sesuatu yang menyengakan.
c. Lingkungan dan Fasilitas yang Aksesibel
Aksesibilitas ialah kemudahan dan keleluasaan bagi semua anak untuk bergerak dan beraktiifitas di lingkungan sekolah. Misalnya bila ada seorang anak yang tidak bisa berjalan dibutuhkan lingkungan yang memungkinkan anak itu bisa keluar masuk kelas dengan mudah.
Di sekolah-sekolah kita pada umumnya tidak mempunyai aksesibilitas yang baik, alasannya ialah selalu berkaitan dengan biaya. Aksesibiltas yang ideal tentu sangat sulit untuk di kembangkan, tetapi bisa memulainya dengan hal-hal yang kecil yang bisa dilakukan oleh sekolah. Prinsip yang perlu diperhatikan guru/kepala sekolah dan orang renta dalam menyebarkan aksesibilitas lingkungan ialah aman, nyaman dan memberi kemudahan kepada semua orang untuk memakai fasilitas yang tersedia. Langkah-langkah semoga sekolah menjadi aksesibel:
1. Menciptakan lingkungan sekolah yang aman bagi keselamatan semua anak.
2. Membuat lingkungan sekolah menjadi nyaman.
3. Menciptakan lingkungan yang sanggup menyampaikan kemudahan-kemudahan kepada setiap anak untuk beraktifitas.
4. Tidak sanggup mewujudkan langkah pertama dan kedua saja, sudah merupakan prestasi yang cukup baik dalam membuat lingkungan yang aksesibel bagi semua anak.
d. Guru Bekerja dalam Tim.
Dalam melayani siswa yang mempunyai banyak keragmana dalam hambatan belajr dan kebutuhannya, akan sangat efektaif apabila guru bekerja dalam tim. Akan sangat sulit bagi guru untuk menyebarkan keahlian (profesionalisme), bila bekerja sendiri. Bekerja dalam tim merupakan cirri khas dari professional.
e. Keterlibatan Orang Tua.
Kerjasama yang erat antara sekolah dengan orang renta akan menghasilkan solusi terbaik dalam melayani kebutuhan mencar ilmu anak di sekolah. Keterlibatan orang renta sangat penting dalam kaitannya dengan perundingan dalam mencari solusi berkenaan dengan pendidikan anak baik di sekolah maupun di rumah. Keterlibatan orang renta dalam pendidikan biasanya hanya terbatas pada urusan biaya. Oleh alasannya ialah itu keterlibatan orang renta hendaknya dikembangkan kepada persolan pendidikian yang lebih luas. Apabila susukan orang renta ke sekolah cukup terbuka, maka setiap dilema yang dihadapi anak akan segera ditangulangi bersama.
3. Sistem Pendukung Pendidikan Inklusif
Dalam mengimplementasikan pendidikan inklusif dibutuhkan system pendukung, yang akan menyampaikan dukungan kepada guru, kepala sekolah dan orang renta dalam melayani bawah umur berkebutuhan khusus di sekolah regular. Dalam konsep pendidikan inklusif system pendukung itu disebut Pusat Sumber (Resource Center). Pusat sumber berfungsi sebagi forum yang menyampaikan pinjaman kepada sekolah regular dalam bentuk:
a. Menyediakan guru pendidikan kebutuhan khusus yang profesional yang disebut guru kunjung.
b. Menyelenggarakan pelatihan-pelatihan bagi guru sekolah regular, orang renta dan melaksanakan intervensi kepada anak berkebutuhan khusus perihal keterampilan yang sangat diperlukan, yang tidak diperoleh di sekolah regular.
Diperlukan satu atau dua sentra sumber di setiap kabupaten/kota yang akan menyampaikan dukungan kepada sekolah regular dalam mengimplementasikan pendidikan inklusif. Tanpa kehadiran sentra sumber sangat sulit pendidikan inklusif untuk diwujudkan. Sebagai konsekuensi dari hal-hal tersbut di atas, maka harus terjadi perubahan budaya sekolah yang mendasar, yaitu dari budaya sekolah yang ekslusif ke budaya sekolah yang ramah dan inklusif, atau disebut juga lingkungan inklusif ramah pembelajaran.
BEBERAPA TEORI TENTANG KREATIVITAS DAN
KREATIVITAS SISWA DI SEKOLAH
Menurut Poerwodarminto (2002:1063) sikap ialah perilaku; gerak-gerik. Kreatif ialah mempunyai daya cipta, kemampuan untuk menciptakan, bersifat (mengandung) daya cipta (Poerwodarminto, 2002:599). Sikap kreatif yang dimaksud dalam penelitian ini ialah sikap yang mempunyai daya cipta, kemampuan untuk membuat atau mengungkapkan gagasan-gagasan gres dalam memahami suatu konsep matematika atau kemampuan mengungkapkan gagasan-gagasan gres dalam menuntaskan suatu masalah matematika.
Menurut Chaiken dan Stangor (1987) dalam zhadsfia, (2006: 1), sikap itu terdiri dari tiga komponen yakni komponen afektif, komponen kognitif, dan komponen konatif. Komponen afektif ialah perasaan yang dimiliki oleh seseorang terhadap sesuatu objek. Komponen kognitif ialah kepercayaan atau keyakinan yang menjadi pegangan seseorang. Adapun komponen konatif ialah kecenderungan untuk bertingkah laris atau berbuat dengan cara-cara tertentu terhadap sesuatu objek.
Ada beberapa model skala yang dikembangkan oleh para pakar untuk mengukur sikap. Dalam penelitian ini dipilih skala likert (Likert Scales) alasannya ialah mudah dan bermanfaat untuk diimplementasikan oleh guru dalam proses pembelajaran dikelas.
Kreativitas pada pada dasarnya merupakan kemampuan umum untuk membuat sesuatu yang baru, sebagai kemampuan untuk menyampaikan gagasan-gagasan gres yang sanggup diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan gres antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya (Munandar, 2004:25).
Salah satu masalah yang kritis dalam meneliti, mengidentifikasi, dan menyebarkan kreativitas ialah bahwa begitu banyak definisi perihal kreativitas. Tetapi tidak ada satu definisi pun yang sanggup diterima secara universal.
Beberapa definisi perihal kreativitas berdasarkan 4P berdasarkan munandar (2004:20)
Definisi Pribadi. Tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya. Dimensi kepribadian atau motivasi mencakup ciri-ciri mirip fleksibilitas, toleransi terhadap kedwiartian, dorongan untuk berprestasi dan mendapat pengakuan, keuletan dalam menghadapi rintangan, dan pengambilan risiko yang moderat.
Definisi Proses. Definisi proses yang populer ialah definisi Torrance (1988) perihal kreativitas yang pada dasarnya ibarat langkah-langkah dalam metode ilmiah. Adapun langkah-langkah proses kreatif berdasarkan wallas (1926) yang hingga kini masih banyak diterapkan dalam pengembangan kreativitas mencakup tahap persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi.
Definisi Produk. Definisi yang berfokus pada produk kreatif menekankan orisinalitas, mirip definisi barron (1969) yang menyatakan bahwa kreativitas ialah kemampuan untuk menghasilkan/menciptakan sesuatu yang baru. Begitu pula berdasarkan Haefele (1926) ’kreativitas ialah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi gres yang mempunyai makna sosial.’
Definisi ”Press”. Kategori keempat dari definisi dan pendekatan terhadap kreativitas menekankan faktor ”Press” atau dorongan, baik dorongan internal (dari diri sendiri berupa keinginan dan hasratuntuk mencipta atau bersibuk diri secara kreatif) maupun dorongan eksternal dari lingkungan sosial dan psikologis.
Skala sikap dalam Mudjito (2007:15) ialah alat penilaian hasil mencar ilmu yang berupa sejumlah pernyataan sikap perihal sesuatu yang jawabannya dinyatakan secara berskala, contohnya skala tiga, empat atau lima. Pengembangan skala sikap sanggup mengikuti langkah sebagai berikut.
Menentukan obyek sikap yang akan dikembangkan skalanya.
Memilih dan membuat daftar dari konsep dan kata sifat yang relevan dengan obyek penilaian sikap.
Memilih kata sifat yang sempurna dan akan dipakai dalam skala.
Menentukan skala dan penskoran.
Berdasarkan pertimbangan bahwa prilaku kreatif tidak hanya memerlukan kemampuan berpikir kreatif (afektif), Munandar menyusun skala sikap kreatif, diantaranya tujuh butir diadopsikan dari ”Creative Attitude Survey” yang disusun oleh Schaefer.
- Sikap kreatif dioperasi dalam dimensi sebagai berikut.
- Keterbukaan terhadap pengalaman baru;
- Kelenturan dalam berfikir;
- Kebebasan dalam ungkapan diri;
- Menghargai fantasi;
- Minat terhadap kegiatan kreatif;
- Kepercayaan terhadap gagasan sendiri; dan
- Kemandirian dalam memberi pertimbangan. ( Munandar, 2004:70)
Ada enam perkiraan kreatif (Dwijanto, 2006:221) yang diangkat dari teori dan aneka macam studi perihal kreativitas, yaitu sebagai berikut.
- Setiap orang mempunyai kemampuan kreatif dengan tingkat yang berbeda-beda. Tidak ada orang yang sama sekali tidak mempunyai kreativitas, dan yang dibutuhkan ialah bagaimana menyebarkan kreativitas tersebut.
- Kreativitas dinyatakan dengan produk kreatif, baik berupa benda maupun gagasan. Produk kreatif merupakan kriteria puncak untuk menilai tinggi rendahnya kreativitas seseorang.
- Aktualisasi kreativitas merupakan hasil dari proses interaksi antara faktor-faktor psikologis (internal) dengan lingkungan (eksternal). Pada setiap orang, peranan masing-masing faktor tersebut berbeda-beda. Asumsi ini disebut juga sesuai perkiraan interaksional atau sosial psikologis yang memandang kedua faktor tersebut secara komplementer.
- Dalam diri seseorang dan lingkungannya terdapat faktor-faktor yang sanggup menunjang atau justru menghambat perkembangan kreativitas. Faktor-faktor tersebut sanggup diidentifikasi persamaan dan perbedaannya pada kelompok individu yang satu dengan yang lain.
- Kreativitas seseorang tidak berlangsung dalam kevokuman, melainkan didahului oleh, dan merupakan pengembangan hasil-hasil kreativitas orang-orang yang berkarya sebelumnya.
Kaprikornus kreativitas merupakan kemampuan seseorang dalam membuat kombinasi-kombinasi gres dari hal-hal yang telah ada sehingga melahirkan sesuatu yang baru. Karya kreatif tidak lahir hanya alasannya ialah kebetulan, melainkan melalui serangkaian proses kreatif yang menuntut kecakapan, keterampilan, dan motivasi yang kuat.
Dalam bahasa yang sederhana, kreativitas sanggup diartikan sebagai suatu proses mental yang sanggup melahirkan gagasan-gagasan atau konsep-konsep baru. Menurut National Advisory Committees UK (1999), bahwa kreativitas mempunyai empat karakteristik, yaitu: (1) berfikir dan bertindak secara imajinatif, (2) seluruh acara imajinatif itu mempunyai tujuan yang jelas; (3) melalui suatu proses yang sanggup melahirkan sesuatu yang orisinal; dan (4) hasilnya harus sanggup menyampaikan nilai tambah. Keempat karakteristik tersebut harus merupakan suatu kesatuan yang utuh. Bukanlah suatu kreativitas bila hanya salah satu atau sebagian saja dari keempat karateristik tersebut.
Robert Fritz (1994) menyampaikan bahwa “The most important developments in civilization have come through the creative process, but ironically, most people have not been taught to be creative.” Hal senada disampaikan pula Ashfaq Ishaq: “We humans have not yet achieved our full creative potential primarily because every child’s creativity is not properly nurtured. The critical role of imagination, discovery and creativity in a child’s education is only beginning to come to light and, even within the educational community, many still do not appreciate or realize its vital importance. Memang harus diakui bahwa hingga dikala ini sistem sekolah belum sepenuhnya sanggup menyebarkan dan menghasilkan para lulusannya untuk menjadi individu-individu yang kreatif. Para siswa lebih cenderung disiapkan untuk menjadi seorang tenaga juru yang mengerjakan hal-hal teknis dari pada menjadi seorang yang visioner (baca: pemimpin). Apa yang dibelajarkan di sekolah seringkali kurang menyampaikan manfaat bagi kehidupan siswa dan kurang selaras dengan perkembangan lingkungan yang terus berubah dengan pesat dan sulit diramalkan. Begitu pula, proses pembelajaran yang dilakukan sepertinya masih lebih menekankan pada pembelajaran “what is” yang menuntut siswa untuk menghafalkan fakta-fakta, dari pada pembelajaran “what can be”, yang sanggup mengantarkan siswa untuk menjadi dirinya sendiri secara utuh dan orisinal.
Oleh alasannya ialah itu, betapa pentingnya pengembangan kreativiitas di sekolah semoga proses pendidikan di sekolah benar-benar sanggup mempunyai relevansi yang tinggi dan menghasilkan para lulusannya yang mempunyai kreativitas tinggi. Sekolah seyogyanya sanggup menyediakan kurikulum yang memungkinkan para siswa sanggup berfikir kritis dan kreatif, serta mempunyai keterampilan pemecahan masalah, sehingga pada gilirannya mereka sanggup merespons secara positif setiap kesempatan dan tantangan yang ada serta bisa mengelola resiko untuk kepentingan kehidupan pada masa kini maupun mendatang.
Menurut Robert J Sternberg, seorang siswa dikatakan mempunyai kreativitas di kelas manakala mereka senatiasa menunjukkan: (1) merasa ingin tau dan mempunyai rasa ingin tahu, mempertanyakan dan menantang serta tidak terpaku pada kaidah-kaidah yang ada; (2) mempunyai kemampuan berfikir lateral dan bisa membuat hubungan-hubungan diluar kekerabatan yang lazim; (3) memimpikan perihal sesuatu, sanggup membayangkan, melihat aneka macam kemungkinan, bertanya “ apa bila seandanya” (what if?), dan melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda; (4) mengeksplorasi aneka macam pemikiran dan pilihan, memainkan ideanya, mencobakan alternatif-alternatif dengan melalui pendekatan yang segar, memelihara pemikiran yang terbuka dan memodifikasi pemikirannya untuk memperoleh hasil yang kreatif; dan (5) merefleksi secara kritis atas setiap gagasan, tindakan dan hasil-hasil, meninjau ulang kemajuan yang telah dicapai, mengundang dan memanfaatkan umpan balik, mengkritik secara konstruktif dan sanggup melaksanakan pengamatan secara cerdik.
Carolyn Edwards dan Kay Springate dalam artikelnya yang berjudul “The lion comes out of the stone: Helping young children achieve their creative potential” menyampaikan saran perihal upaya pengembangan kreativiitas siswa, sebagai berikut:
Berikan kesempatan dan waktu yang leluasa kepada setiap siswa untuk mengeksplorasi dan melaksanakan pekerjaan terbaiknya dan jangan mengintervensi pada dikala mereka justru sedang termotivasi dalam menuntaskan tugas-tugasnya secara produktif.
Ciptakan lingkungan kelas yang menarik dan mengasyikkan. Lakukan “unfinished work” sehingga siswa merasa ingin tau dan terpengaruhi pemikirannya untuk berusaha melengkapinya pada saat-saat berikutnya. Berikan pula kesempatan kepada setiap siswa untuk melaksanakan kontemplasi.
Sediakan dan sajikan secara melimpah aneka macam materi dan sumber mencar ilmu yang menarik dan bermanfaat bagi siswa.
Ciptakan iklim kelas yang memungkinkan siswa merasa nyaman bila melaksanakan suatu kesalahan, mendorong keberanian siswa untuk mengambil resiko mendapatkan kegaduhan dan kekacauan yang sempurna di kelas, serta menyampaikan otonomi yang luas kepada siswanya untuk mengelola belajarnya sesuai dengan minat, karakteristik dan tujuannya
Pembelajaran yang kreatif memang bukanlah pilihan yang gampang, di dalamnya memerlukan waktu yang lebih dan perencanaan yang matang untuk melahirkan dan menyebarkan ide-ide baru. Selain itu, dibutuhkan pula keyakinan yang besar lengan berkuasa untuk melaksanakan improvisasi dalam pembelajaran, keberanian untuk mencoba dan kesanggupan untuk menanggung aneka macam resiko yang tidak diharapkan dalam pembelajaran. Kendati harus dilakukan melalui perjuangan yang tidak mudah, pembelajaran untuk kreativitas ini diyakini sanggup menimbulkan pembelajaran jauh lebih menyenangkan dan menyampaikan efektivitas yang tinggi.
Terkait dengan kiprah guru dalam pembentukan kreativitas siswa, Robert J Sternberg menyampaikan “The most powerful way to develop creativity in your students is to be a role model. Children develop creativity not when you tell them to, but when you show them.” Dalam melaksanakan pembelajaran, guru harus sanggup memperlihatkan keteladanannya sebagai sosok yang kreatif.
Seorang guru yang kreatif tidak hanya dituntut mempunyai keahlian dalam bidang akademik, namun lebih dari itu dituntut pula untuk sanggup menguasai aneka macam teknik yang sanggup menstimulasi rasa keingintahuan sekaligus sanggup menumbuhkan rasa percaya diri dan harga diri (self esteem) setiap siswanya. Guru harus sanggup menyampaikan dorongan pada dikala siswa membutuhkannya dan menyampaikan keyakinan kepada siswanya pada dikala ia merasa harga dirinya terancam. Dalam melaksanakan proses pembelajaran, seorang guru harus sanggup menjaga keseimbangan antara struktur pembelajaran dengan kesempatan pengembangan diri siswa, antara pengelolaan kelompok (management of groups) dengan perhatian terhadap perbedaan individual siswanya.
Untuk menjadi guru kreatif memang bukan hal yang mudah, terutama bagi guru-guru yang tergolong laggard. Ketika dihadapkan dengan suatu perubahan (inovasi) di sekolah, mereka mungkin cenderung terlambat atau justru hanya berdiam diri menghadapi perubahan yang ada. Jika terus menerus dibiarkan, guru-guru mirip inilah yang bekerjsama sanggup merusak pendidikan. Tentunya banyak faktor yang mengakibatkan mereka menjadi laggard dan tidak kreatif, baik yang bersumber dari dalam diri guru itu sendiri (internal factors) maupun faktor eksternal. Oleh alasannya ialah itu, semoga guru sanggup menjadi kreatif perlu diperhatikan aneka macam faktor yang mempengaruhi dan melatarbelakanginya.
Kepemimpinan di sekolah merupakan salah satu faktor yang tidak bisa dilepaskan dalam menyebarkan kreativitas guru maupun kreativitas sekolah secara keseluruhan. Fred Luthans (1995) mengemukakan bahwa kreativitas merupakan salah satu keterampilan yang harus dikuasai oleh seorang manajer. Dalam hal ini, kepala sekolah dituntut untuk sanggup membuat budaya dan iklim kreativitas di lingkungan sekolah yang mendorong seluruh warga sekolah untuk menyebarkan aneka macam kreativitas dalam melaksanakan kiprah dan pekerjaannya. Kepala sekolah harus sanggup menyampaikan penghargaan kepada sertiap perjuangan kreatif yang dilakulan oleh anggotanya, terutama perjuangan kreatif yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam melaksanakan pembelajaran. Kepala sekolah juga dituntut untuk sanggup menyediakan sumber-sumber bagi pertumbuhan kreativitas di sekolah.
Selain terdapat guru yang termasuk laggard, tidak sedikit pula guru (dan juga siswa) di sekolah yang sesungguhnya mempunyai sikap dan pemikiran kritis dan kreatif, namun alasannya ialah tidak memperoleh dukungan yang besar lengan berkuasa dari sistem sekolah, termasuk dari manajemen sekolah, yang pada risikonya sikap dan pemikiran kreatifnya tidak sanggup berkembang secara wajar. Bahkan, sebaliknya mereka seringkali mengalami tekanan tertentu dari lingkungannya alasannya ialah dianggap sebagai orang yang “nyeleneh” atau eksentrik.
Berdasarkan uraian di atas, kiranya sanggup disimpulkan bahwa siswa yang kreatif sanggup dihasilkan melalui guru yang kreatif, dan guru yang kreatif sanggup dihasilkan melalui kepala sekolah yang kreatif. Siswa yang kreatif merupakan aset yang sangat berharga bagi kehidupan diri pribadinya maupun orang lain.
SUMBER BACAAN
aciknadzirah.blogspot.com/search?q=18/kreativitas-di-sekolah/
Todd Lubart.(2005) Individual Student Differences And Creativityfor Quality Education.
Background paper prepared for the Education for All Global Monitoring Report
Depdiknas, Pendekatan kontekstual, Depdiknas, Jakarta, 2002.
DePorter Bobbi dan Mike Hernacki, Quantum Learning, Kaifa, Yogyakarta, 2003.
Siberman Melvin L. dkk, Active Learning, Raisu;l Muttaqien, Bandung, 2004
http://hasanudin-bio.blogspot.com/2011/05/pengaruh-kreativitas-pembelajaran-guru
http://www.academia.edu/1208234/UPAYA_MENINGKATKAN_KEMAMPUAN_BERPIKIR_KRITIS_DAN_KREATIF_SISWA_KELAS_X_ADMINISTRASI_PERKANTORAN_AP_S
http://www.scribd.com/doc/90926336/Pengelolaan-Kelas-Yang-Efektif
Akhmad Sudrajat. 2008. Teknik Pengelolaan Kelas. Anita Lie. 2007. Cooperative Learning (Memperaktikan Cooperatif Learning di Ruang-ruang Kelas). Jakarta: PT Grasindo
Udin S. Winataputra. 2003. Srategi Belajar mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional
Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
No comments:
Post a Comment