Monday, November 20, 2017

√ Pendidikan Dasar Berkualitas: Potensi Untuk Mengubah Masyarakat Dalam Satu Generasi

Pendidikan Dasar Berkualitas: Potensi Untuk Mengubah Masyarakat dalam Satu Generasi . Review Journal: Quality Primary Education: The Potential to Transform Society in a Single Generation

Judul : Quality Primary Education: The Potential to Transform Society in a Single Generation (Pendidikan Dasar Berkualitas: Potensi Untuk Mengubah Masyarakat dalam Satu Generasi )

Deskripsi Singkat Isi Artikel :

Jurnal ini berisi perihal kualitas pendidikan dasar. Makalah mendeskripsikan tentang: (1) Pengantar perihal pendidikan dasar (2) kualitas penerima didik (3) kualitas lingkungan mencar ilmu (4) kualitas konten (isi) (5) kualitas proses, (6) kualitas hasil, (7) Program untuk pendidikan dasar.

Pada bab pengantar, mendeskripsikan perihal pendidikan dasar. Menurut sebuah studi Bank Dunia, setiap tahun embel-embel pendidikan dasar meningkatkan produktivitas seseorang. Sistem pendidikan tidak sanggup meningkat dan berkembang tanpa dukungan, sumber daya dan perhatian masyarakat. Pendidikan berkualitas mengacu pada sistem pendidikan yang melalui proses pemrograman, struktur dan konten yang memungkinkan:

1. Pelajar yang sehat, bergizi baik, dan siap untuk berpartisipasi dan belajar, dan dalam mencar ilmu didukung oleh keluarga dan masyarakat;

2. Lingkungan yang sehat, aman, melindungi dan peka gender, dan menyediakan sumber daya dan akomodasi yang memadai;
3. Konten, yang tercermin dalam kurikulum dan materi yang relevan untuk akuisisi keterampilan dasar, khususnya di bidang membaca, berhitung dan keterampilan untuk hidup, dan pengetahuan di bidang-bidang ibarat jenis kelamin, kesehatan, gizi, HIV/AIDS, dan perdamaian;
4. Proses, dimana guru terlatih memakai anak-berpusat pendekatan mengajar di kelas yang dikelola dengan baik dan sekolah dan penilaian terampil untuk memfasilitasi pembelajaran dan mengurangi kesenjangan;
5. Hasil, yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap, dan terkait dengan tujuan nasional untuk pendidikan dan partisipasi positif di masyarakat.

Pada bab kedua mendeskripsikan perihal kualitas penerima didik meliputi kesehatan, tunjangan orang renta dan keluarga,elemen fisik (infrastuktur sekolah), ukuran kelas, psikologi lingkungan sekolah dan layanan kesehatan.

1. Kesehatan. Cukup sederhana, bawah umur harus bisa mencar ilmu dan bersekolah. Oleh alasannya yakni itu mereka harus cukup gizi, dirangsang secara fisik dan psikis dan terhindar dari penyakit yang sanggup dicegah dan infeksi. Perkembangan penting yang membentuk dasar bagi pembelajaran bawah umur terjadi pada anak usia dini terutama dalam tiga tahun pertama mereka.

2. Dukungan orang renta dan keluarga. Orang renta dan keluarga yakni guru pertama seorang anak. Namun, mereka mungkin tidak mempunyai pengetahuan yang memadai perihal bagaimana perawatan anak pada tahun pertama untuk mendukung kebutuhan sekolah bawah umur di tahun kemudian. Anak-anak yang orang tuanya mempunyai pendidikan sekolah dasar lebih mungkin untuk mempunyai skor tes yang rendah dan pengulangan kelas daripada bawah umur yang orangtuanya yang mempunyai pendidikan sekolah menengah. Salah satu keterlibatan orang renta dan lingkungan masyarakat dalam pendidikan yakni partisipasi orangtua dalam administrasi sekolah.

Pada bab ketiga mendeskripsikan perihal kualitas lingkungan mencar ilmu meliputi:

1. Infrastruktur sekolah (elemen fisik), Ukuran dan organisasi kelas juga sanggup menghipnotis metode pembelajaran guru, misalnya, mengatur tempat duduk dalam sebuah bulat untuk memungkinkan interaksi maksimum bukan anak kuliah duduk di baris. Belajar anak dipengaruhi oleh ketersediaan buku pelajaran, materi pembelajaran, dan ruang yang tersedia untuk belajar. Dalam proyek sekolah pedesaan di Tunisia, pengembangan infrastruktur sekolah yang kondusif telah menjadi prioritas bersama.

2. Ukuran kelas, guru lebih efisien dan bisa memperlihatkan perhatian individu dikala ukuran kelas yang kecil. Satu studi memperlihatkan bahwa bawah umur yang berada di kelas dengan jumlah 25 siswa atau lebih yakni 1,5 kali lebih mungkin untuk memperlihatkan nilai tes yang lebih rendah dan peningkatan pada ulangan kelas. Memang, kualitas pendidikan dan pembelajaran tidak hanya dipengaruhi oleh ukuran kelas yang besar.

3. Psikososial lingkungan sekolah, Sebuah lingkungan kelas inklusif dan tidak diskriminatif memungkinkan dan mendorong partisipasi yang sama dari semua anak merupakan pusat pendidikan berkualitas. Ini termasuk menyebarkan lingkungan yang tenang dan kondusif untuk anak perempuan, kaum minoritas, dan bawah umur dengan kebutuhan khusus. Mengembangkan lingkungan inklusif meliputi banyak unsur.

4. Layanan kesehatan, Integrasi antara layanan dan sekolah memperlihatkan bantuan yang signifikan terhadap penerima didik yang sehat, serta menyebarkan sistem mutu pendidikan. Hubungan antara kesehatan dan pendidikan yang paling umum dan memperlihatkan hasil positif. Sekolah berbasis pelayanan kesehatan telah dipakai untuk mengatasi problem kekurangan energi protein, gangguan defisiensi mikronutrien, jerawat cacing dan lapar sementara. Memang, integrasi pelayanan kesehatan dalam pendidikan sanggup membentuk dasar untuk meningkatkan fungsi kognitif anak-anak. Hal ini juga tetapkan kekerabatan yang positif antara keluarga dan sekolah sehingga mendukung mempromosi sekolah dalam masyarakat.

Pada bab keempat mendeskripsikan perihal Kualitas konten mengacu pada kurikulum yang direncanakan dan diajarkan dari sekolah. Secara umum, kurikulum harus disusun dengan tujuan biar bawah umur sanggup memperoleh keterampilan memecahkan problem dan analisis serta pengetahuan: pemfokusan mendalam dari pengetahuan, otentik, problem kontekstual penelitian, dan pembelajaran. Kurikulum juga harus selektif mengintegrasikan materi pelajaran dan fokus pada hasil, standar dan sasaran untuk struktur siswa. Idealnya kurikulum harus mencerminkan dan menanggapi realitas nasional dan lokal. Kualitas konten ini meliputi literacy, numeracy, dan kecakapan hidup dan pendidikan perihal perdamaian.

1. Literacy (kemampuan untuk membaca dan menulis) merupakan salah satu tujuan utama dari pendidikan formal. Kebijakan dan praktik dalam pendidikan keaksaraan bervariasi secara signifikan antara negara-negara. Keterampilan keaksaraan sering diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri. Sebuah studi UNICEF menemukan bahwa dalam kasus ini ada fokus yang lebih besar pada bahasa sebagai alat untuk pembangunan sosial, situasi dari kehidupan sehari-hari dimasukkan ke dalam kegiatan yang mendorong akuisisi membaca dan menulis

2. Numeracy (kemampuan berhitung) meliputi aneka macam keterampilan dari aritmatika dasar dan budi budi logis, untuk matematika canggih dan kemampuan komunikasi interpretatif. Karena penguasaan bidang kurikulum banyak, dari studi geografi dan sosial untuk ilmu pengetahuan dan training kejuruan, memerlukan berhitung, banyak pendidik matematika menganjurkan mengajarkan keterampilan berhitung secara terpadu bukan sebagai subjek yang terisolasi dalam kursus matematika. Keterampilan berhitung tidak hanya memberi orang lebih banyak kontrol dalam kehidupan sehari-hari mereka melalui, misalnya, administrasi lebih sempurna dari rumah tangga atau perjuangan kecil, tetapi juga memungkinkan untuk lebih berpartisipasi aktif dalam masyarakat dan bangsa, alasannya yakni memahami masalah-masalah kolektif yang membutuhkan kemampuan untuk memahami keuangan dan informasi kuantitatif lainnya.

3. Kecakapan hidup, diasumsikan meliputi topik-topik ibarat kesehatan, kebersihan, norma-norma sikap dan keterampilan kejuruan. Kurikulum berbasis Keterampilan hidup berfokus pada sikap, nilai-nilai, dan perubahan perilaku, bukannya berusaha untuk menyediakan penerima didik yang sanggup menuntaskan konflik dan membuat keputusan. Demikian pula, pendidikan perdamaian berusaha untuk mengajarkan siswa perihal bagaimana mencegah dan menuntaskan konflik secara tenang dalam pengaturan intrapersonal, interpersonal, antar kelompok, nasional atau internasional.

Bagian kelima mendeskripsikan perihal kualitas proses yang meliputi bagaimana kualitas guru, penilaian dan penilaian dalam peningkatan kualitas pendidikan.

1. Guru, salah satu faktor paling penting dalam membantu bawah umur belajar. Sayangnya, guru sering kurang siap untuk kiprah mereka. Seleksi guru dan training cenderung mendukung pengetahuan umum atas kemampuan pedagogis dalam membantu siswa belajar. Pengamatan guru di Meksiko, India, Guinea, dan China memperlihatkan bahwa mereka tidak menguasai materi pelajaran yang mereka ajarkan maupun keterampilan pedagogis yang diharapkan untuk mengajar yang baik. Pengalaman dari proyek UNICEF didukung memperlihatkan bahwa teknologi video, peer pembelajaran dan pengamatan pengawas yakni semua media yang efektif dan sesuai untuk pengembangan kapasitas guru.
2. Standar Guru meliputi:
- Pengetahuan siswa: Guru menyebarkan pengetahuan mereka perihal perkembangan anak dan kekerabatan antar siswa untuk memahami kemampuan, kepentingan, aspirasi dan nilai-nilai siswa.
- Pengetahuan perihal konten dan kurikulum: Guru menyebarkan pengetahuan mereka perihal materi pelajaran dan kurikulum untuk membuat keputusan perihal apa yang penting bagi siswa untuk belajar.
- Lingkungan belajar: Guru membangun komunitas, peduli inklusif, membuat sekolah kondusif di mana siswa sanggup berkembang secara intelektual, praktek demokrasi, dan bekerja sama dan mandiri.
- Menghormati keanekaragaman: Guru membantu siswa untuk mencar ilmu menghargai perbedaan dan kelompok individu.
- Sumber Instructional: Guru membuat, menilai, menentukan dan mengadaptasi bermacam-macam materi dan memanfaatkan sumber daya lain ibarat staf, anggota masyarakat dan mahasiswa untuk mendukung pembelajaran.
- Aplikasi pengetahuan: Guru melibatkan para siswa dalam mencar ilmu di dalam dan seluruh disiplin ilmu dan membantu siswa memahami bagaimana mata pelajaran yang mereka pelajari sanggup dipakai untuk mengeksplorasi isu-isu penting dalam kehidupan mereka dan dunia di sekitar mereka.
- Beberapa jalur pengetahuan: Guru memperlihatkan pilihan pada siswa beberapa jalur yang dibutuhkan untuk mempelajari konsep-konsep sentral dalam setiap mata pelajaran sekolah, mengeksplorasi tema dan topik penting yang melintasi bidang studi, dan membangun pengetahuan.
3. Penilaian dan evaluasi, Proses mutu harus meliputi metode penilaian dan penilaian yang memungkinkan para guru untuk mengukur kinerja dan kemajuan masing-masing siswa. Sayangnya banyak guru dan sistem pendidikan terus mengandalkan hampir secara langsung pada tes tertulis tradisional pengetahuan faktual yang cenderung mengedepankan menghafal daripada kemampuan berpikir tingkat tinggi. Selain itu, penilaian skor akademik dan prestasi umumnya dipakai untuk tujuan sumatif daripada formatif. Sebuah proyek di Ghana memperlihatkan bahwa penilaian berkelanjutan dari kinerja siswa sanggup menyediakan informasi bagi guru perihal mereka butuhkan untuk meningkatkan pembelajaran siswa.

Bagian keenam mendeskripsikan perihal kualitas hasil mencar ilmu sebagai imbas disengaja dan diharapkan yang dihasilkan oleh sistem pendidikan. Kualitas hasil yakni apa yang bawah umur tahu dan apa yang bisa mereka lakukan serta sikap dan keinginan mereka untuk diri sendiri dan masyarakat.

Evaluasi dan penilaian hasil mencar ilmu dari sudut pandang kualitas sangat penting untuk memperkuat dan meningkatkan sistem pendidikan. Di Cina, misalnya, bawah umur terbukti memperoleh pemahaman memadai membaca, menulis dan matematika. Namun prestasi mencar ilmu mereka dalam keterampilan hidup secara signifikan kurang, yang menjadikan rekomendasi bahwa "proses belajar-mengajar di Cina perlu lebih menekankan kemampuan memecahkan problem dan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dalam berurusan dengan problem kehidupan nyata".

Bagian ketujuh mendeskripsikan perihal Sebuah Sistem Pendidikan Berkualitas. UNICEF (2000), mendefinisikan pendidikan yang berkualitas memerlukan pengembangan sistem pendidikan yang berpusat pada anak, lingkungan mencar ilmu dengan pengembangan masyarakat. Pengembangan memungkinkan kebijakan yang mengharuskan pemerintah nasional menyelaraskan tujuan pendidikan nasional mereka dengan hasil penerima didik berkualitas. Menggunakan alat penilaian simpel dalam kelas dan menyebarkan sistem pendidikan untuk mengatasi kelemahan yakni cara yang paling efisien dan efektif untuk mempromosikan pendidikan berkualitas. Meningkatkan kualitas pendidikan dengan meningkatkan prestasi penerima didik yakni bergantung pada pengembangan sistem sekolah yang didukung masyarakat dan kompeten departemen pemerintah daerah.

B. Identifikasi Masalah

Beberapa problem yang sanggup diidentifikasi dalam jurnal ini adalah:
(1)Masih kurangnya perhatian sekolah mengenai kualitas penerima didik.
(2)Masih ada sekolah yang mempunyai sarana dan prasarana fisik sekolah rendah sehingga kualitas lingkungan mencar ilmu juga rendah.
(3)Kualitas guru yang rendah alasannya yakni kurangnya pengetahuan perihal materi yang diajarkan dan keterampilan pedagogis di beberapa negara.
(4)Hasil mencar ilmu siswa memperlihatkan kualitas yang masih rendah
(5)Pembelajaran di kelas belum menekankan kemampuan memecahkan problem dan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata.
(6)Penilaian dan penilaian hasil mencar ilmu siswa masih tradisional.

C.Pembahasan

Pendidikan berkualitas mengacu pada sistem pendidikan yang melalui proses pemrograman, struktur dan konten yang memungkinkan: (a) Pelajar yang sehat, bergizi baik, dan siap untuk berpartisipasi dan belajar, dan dalam mencar ilmu didukung oleh keluarga dan masyarakat; (b) Lingkungan yang sehat, aman, melindungi dan peka gender, dan menyediakan sumber daya dan akomodasi yang memadai; (c) Konten, yang tercermin dalam kurikulum dan materi yang relevan untuk akuisisi keterampilan dasar, khususnya di bidang membaca, berhitung dan keterampilan untuk hidup, dan pengetahuan di bidang-bidang ibarat jenis kelamin, kesehatan, gizi, HIV/AIDS, dan perdamaian; (d) Proses, dimana guru terlatih memakai anak-berpusat pendekatan mengajar di kelas yang dikelola dengan baik dan sekolah dalam penilaian terampil untuk memfasilitasi pembelajaran dan mengurangi kesenjangan; (e) Hasil, yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap, dan terkait dengan tujuan nasional untuk pendidikan dan partisipasi positif di masyarakat.

Berhubungan dengan konten dan proses, dibutuhkan guru yang memenuhi standar-standar profesional yang sanggup memakai bukti-bukti penelitian berkualitas yang sanggup meningkatkan performa siswa dalam praktik pengajaran mereka. Dengan kata lain, bahwa dibutuhkan guru berkualitas mumpuni yang didefinisikan :

a highly qualified teacher as having completed a teacher education aktivitas and earned a bachelor’s degree, thereby obtaining full State certification; being placed in a position which matches his/her area of certification; and not having had certification or licensure requirements waived on an emergency, temporary, or provisional basis ( Marszalek, et all, 2010)

Seorang guru berkualifikasi tinggi yakni guru yang telah menuntaskan aktivitas pendidikan guru dan memperoleh gelar sarjana, sehingga memperoleh sertifikasi penuh Negara, yang ditempatkan di posisi yang sesuai area sertifikasi, dan tidak mempunyai memiliki sertifikasi .

Kualitas penerima didik meliputi: (a) Kesehatan, yaitu bawah umur harus bisa mencar ilmu dan bersekolah. Oleh alasannya yakni itu mereka harus cukup gizi, dirangsang secara fisik dan psikis dan terhindar dari penyakit yang sanggup dicegah dan infeksi. Perkembangan penting yang membentuk dasar bagi pembelajaran bawah umur terjadi pada anak usia dini terutama dalam tiga tahun pertama mereka; (b) Dukungan orang renta dan keluarga, Orang renta dan keluarga yakni guru pertama seorang anak. Namun, mereka mungkin tidak mempunyai pengetahuan yang memadai perihal bagaimana perawatan anak pada tahun pertama untuk mendukung kebutuhan sekolah bawah umur di tahun kemudian. Anak-anak yang orang tuanya mempunyai pendidikan sekolah dasar lebih mungkin untuk mempunyai skor tes yang rendah dan pengulangan kelas daripada bawah umur yang orangtuanya yang mempunyai pendidikan sekolah menengah. Salah satu keterlibatan orang renta dan lingkungan masyarakat dalam pendidikan yakni partisipasi orangtua dalam administrasi sekolah.

Kurikulum juga harus selektif mengintegrasikan materi pelajaran dan fokus pada hasil, standar dan sasaran untuk struktur siswa. Idealnya kurikulum harus mencerminkan dan menanggapi realitas nasional dan lokal. Kualitas konten ini meliputi literacy, numeracy, dan kecakapan hidup dan pendidikan perihal perdamaian.

1. Literacy (kemampuan untuk membaca dan menulis) merupakan salah satu tujuan utama dari pendidikan formal. Kebijakan dan praktik dalam pendidikan keaksaraan bervariasi secara signifikan antara negara-negara. Keterampilan keaksaraan sering diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri. Sebuah studi UNICEF menemukan bahwa dalam kasus ini ada fokus yang lebih besar pada bahasa sebagai alat untuk pembangunan sosial, situasi dari kehidupan sehari-hari dimasukkan ke dalam kegiatan yang mendorong akuisisi membaca dan menulis
2. Numeracy (kemampuan berhitung) meliputi aneka macam keterampilan dari aritmatika dasar dan budi budi logis, untuk matematika canggih dan kemampuan komunikasi interpretatif. Karena penguasaan bidang kurikulum banyak, dari studi geografi dan sosial untuk ilmu pengetahuan dan training kejuruan, memerlukan berhitung, banyak pendidik matematika menganjurkan mengajarkan keterampilan berhitung secara terpadu bukan sebagai subjek yang terisolasi dalam kursus matematika. Keterampilan berhitung tidak hanya memberi orang lebih banyak kontrol dalam kehidupan sehari-hari mereka melalui, misalnya, administrasi lebih sempurna dari rumah tangga atau perjuangan kecil, tetapi juga memungkinkan untuk lebih berpartisipasi aktif dalam masyarakat dan bangsa, alasannya yakni memahami masalah-masalah kolektif yang membutuhkan kemampuan untuk memahami keuangan dan informasi kuantitatif lainnya.
3. Kecakapan hidup, diasumsikan meliputi topik-topik ibarat kesehatan, kebersihan, norma-norma sikap dan keterampilan kejuruan. Kurikulum berbasis Keterampilan hidup berfokus pada sikap, nilai-nilai, dan perubahan perilaku, bukannya berusaha untuk menyediakan penerima didik yang sanggup menuntaskan konflik dan membuat keputusan. Demikian pula, pendidikan perdamaian berusaha untuk mengajarkan siswa perihal bagaimana mencegah dan menuntaskan konflik secara tenang dalam pengaturan intrapersonal, interpersonal, antar kelompok, nasional atau internasional.

Evaluasi dan penilaian hasil mencar ilmu dari sudut pandang kualitas sangat penting untuk memperkuat dan meningkatkan sistem pendidikan. Di Cina, misalnya, bawah umur terbukti memperoleh pemahaman memadai membaca, menulis dan matematika. Namun prestasi mencar ilmu mereka dalam keterampilan hidup secara signifikan kurang, yang menjadikan rekomendasi bahwa "proses belajar-mengajar di Cina perlu lebih menekankan kemampuan memecahkan problem dan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dalam berurusan dengan problem kehidupan nyata.

Kualitas pendidikan kita masih rendah tetapi upaya yang telah dilakukan belum juga mencapai kualitas yang diharapkan. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, perlu adanya standar kualitas pendidikan yang dipahami secara bersama oleh stakeholder. Penelitian yang lakukan oleh Murniati dan Susi ini mencoba untuk menggali pandangan stakeholder perihal kualitas pendidikan dasar, upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas, hambatan yang dihadapi dan keinginan untuk pendidikan dasar berkualitas.

Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa semua stakeholder setuju bahwa kualitas pendidikan dasar masih perlu ditingkatkan. Kualitas itu sendiri sanggup dilihat dari outputnya yaitu penerima didik yang bisa menyebarkan pikiran, kreatifitasnya, dan kemandirian sebagai dasar untuk memasuki jejang pendidikan dan kehidupan lebih lanjut. Sehingga SD yang dianggap bermutu yakni kalau proses pendidikan yang dilaksanakan, akomodasi yang tersedia, dan guru yang menjadi pelaksananya bisa menghasilkan lulusan ibarat yang diharapkan.

Kenyataannya semua stakeholder sependapat bahwa kualitas guru masih kurang. Indikator lain perihal SD bermutu yakni SD yang bisa membangun kerjasama dengan orang renta murid. Karena Input dari sekolah salah satunya yakni orang tua, sehingga sekolah perlu membangun kerjasama dengan orangtua murid ibarat yang sanggup dilihat pada denah berikut. 
Sumber : Black (1998)

Namun dalam perjuangan meningkatkan kualitas pendidikan itu masing-masing pihak melaksanakan upaya yang tidak terkoordinasi searah dengan tujuan bersama yang ingin dicapai sehingga kualitas pendidikan dasar dianggap masih belum tercapai. Kendala yang dihadapi para stakeholder terutama alasannya yakni kebijakan yang bersifat parsial yang hanya menyentuh aspek tertentu saja, selain itu kebijakan yang terlalu sering berganti sebelum sempat dilaksanakan secara tuntas oleh para stakeholder di lapangan.

D.Rekomendasi

Hal ini sanggup dilakukan di Indonesia antara lain dengan: (a) mengumumkan aktivitas tempat lebih awal, memperlihatkan dana alokasi khusus pendidikan kepada pemerintah daerah, mengurangi ketimpangan dalam pendanaan; (b) persiapan tenaga pengajar yang lebih baik dalam mengelola sekolah, mendesain dan mengimplementasikan dana hibah untuk sekolah yang berasal dari anggaran pemerintah daerah, mengelola uang sekolah, membuat hibah pro-orang miskin yang didasarkan pada inisiatif sekolah dan masyarakat ; (c) memperkenalkan sistem ratifikasi yang transparan, menempatkan dan mempromosikan guru menurut kualitas, adanya aktivitas pengembangan karir bagi guru dan kepala sekolah; (d) meningkatkan kualitas pengajaran melalui reformasi jenjang guru.

Daftar Pustaka

Marszalek, et all, 2010. Distortion or Clarification: Defining Highly Qualified Teachers and the Relationship between Certification and Achievement. Eppa, Volume 18 Number 27 10h of November 2010

Black, S. E.,Measuring the Value of Better Schools. FRBNY ECONOMIC POLICY REVIEW / MARCH 1998





Sumber http://www.tipsbelajarmatematika.com

No comments:

Post a Comment

Laptop Graphic Terbaik Untuk Desain Grafis 2014

Mereview Laptop Desain Grafis tahun 2014 OPOSIP - Ketika saya bekerja dari rumah saya mempunyai sebuah PC yang didedikasikan yang sang...