Pembelajaran Kontekstual. Pembelajaran kontekstual yakni suatu pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk sanggup menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan konkret sehingga mendorong siswa untuk sanggup menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Dari konsep tersebut, minimal tiga hal yang terkandung di dalamnya. Pertama, Pembelajaran kontekstual menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses berguru diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses berguru dalam konteks Pembelajaran kontekstual tidak mengharapkan biar siswa hanya mendapatkan pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
Dari konsep tersebut, minimal tiga hal yang terkandung di dalamnya. Pertama, Pembelajaran kontekstual menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses berguru diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses berguru dalam konteks Pembelajaran kontekstual tidak mengharapkan biar siswa hanya mendapatkan pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
Kedua, Pembelajaran kontekstual mendorong biar siswa sanggup menemukan korelasi antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk sanggup menangkap korelasi antara pengalaman berguru di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting alasannya yakni dengan sanggup mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan bermakna secara fungsional akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan gampang dilupakan.
Ketiga, Pembelajaran kontekstual mendorong siswa untuk sanggup menerapkannya dalam kehidupan, artinya Pembelajaran kontekstual bukan hanya mengharapkan siswa sanggup memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu sanggup mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran kontekstual sebagai suatu pendekatan pembelajaran mempunyai 7 (tujuh) asas. (Syaefudin, 2009:172) Asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan memakai model pembelajaran kontekstual. Komponen tersebut antara lain konstruktivisme, inkuiri, bertanya (questioning), masyarakat berguru (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), evaluasi konkret (authentic assessment).
1) Konstruktivisme
Konstruktivisme yakni proses membangun atau menyusun pengetahuan gres dalam struktur kognitif siswa menurut pengalaman. Menurut konstruktivisme, pengetahuan itu memang berasal dari luar akan tetapi dikonstruksi oleh dan dari dalam diri seseorang. Oleh alasannya yakni itu pengetahuan terbentuk oleh dua faktor penting, yaitu objek yang menjadi materi pengamatan dan kemampuan subjek untuk menginterpretasi objek tersebut. Kedua faktor itu sama pentingnya. Dengan demikian pengetahuan itu tidak bersifat statis akan tetapi bersifat dinamis, tergantung individu yang melihat dan mengonstruksinya.
2) Inkuiri
Asas kedua dalam pembelajaran kontekstual yakni inkuiri. Artinya, proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan inovasi melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Dengan demikian dalam proses perencanaan, guru bukanlah mempersiapkan materi yang harus dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa sanggup menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Belajar intinya merupakan proses mental seseorang yang tidak terjadi secara mekanis. Melalui proses mental itulah diharapkan siswa berkembang secara utuh baik intektual, mental emosional maupun pribadinya.
3) Bertanya (questioning)
Bertanya (questioning). Belajar pada hakikatnya yakni bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya sanggup dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu; sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berfikir. Dalam proses pembelajaran melalui pembelajaran kontekstual, guru tidak memberikan informasi begitu saja, akan tetapi memancing biar siswa sanggup menemukan sendiri. Oleh alasannya yakni itu tugas bertanya sangat penting, alasannya yakni melalui pertanyaan guru sanggup membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajarinya. Dalam suatu pembelajaran yang produktif aktivitas bertanya akan sangat berkhasiat untuk: (1) menggali informasi ihwal kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran; (2) membangkitkan motivasi siswa untuk belajar; (3) merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu; (4) memfokuskan siswa pada sesuatu yang diinginkan; dan (5) membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu.
4) Masyarakat berguru (learning community)
Masyarakat berguru (learning community). Dalam pembelajaran kontekstual, penerapan asas masyarakat berguru sanggup dialukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok yang anggotanya bersifat heterogen, baik dilihat dari kemampuan dan kecepatan belajarnya, maupun dilihat dari talenta dan minatnya. Biarkan dalam kelompoknya mereka saling membelajarkan; yang cepat berguru didorong untuk membantu yang lambat belajar, yang mempunyai kemampuan tertentu didorong untuk menularkannya pada yang lain.
5) Pemodelan (modeling)
Pemodelan (modeling). Maksudnya adalah, proses pembelajaran dengan memakai sesuatu pola yang sanggup ditiru oleh setiap siswa. Misalnya guru menunjukkan pola bagaimana cara mengoperasionalkan sebuah alat, atau bagaimana cara melafalkan sebuah kalimat asing, guru olahraga menunjukkan pola bagaimana cara melempar bola, guru kesenian memberi pola bagaimana cara memainkan alat musik, guru biologi menunjukkan pola bagaimana cara mengggunakan thermometer dan lain sebagainya.
Proses modelling, tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi sanggup juga guru memanfaatkan siswa yang dianggap mempunyai kemampuan. Misalnya siswa yang pernah menjadi juara dalam membaca puisi sanggup disuruh untuk menampilkan kebolehannya di depan teman-temannya, dengan demikian siswa sanggup dianggap sebagai model. Modeling merupakan asas yang cukup penting dalam pembelajaran kontekstual, alasannya yakni melalui modelling siswa sanggup terhindar dari pembelajaran yang teoretis-abstrak yang memungkinkan terjadinya verbalisme.
6) Refleksi (reflection)
Refleksi (reflection) yakni proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali insiden atau insiden pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi, pengalaman berguru itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada risikonya akan menjadi bab dari pengetahuan yang dimilikinya. Bisa terjadi melalui proses refleksi siswa akan memperbarui pengetahuan yang telah dibentuknya, atau menambah khazanah pengetahuannya dunia pendidikan.
7) Penilaian konkret (authentic assessment)
Penilaian konkret (authentic assessment) yakni proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi ihwal perkembangan berguru yang dilakukan siswa. Penilaian ini diharapkan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar berguru atau tidak; apakah pengalaman berguru siswa mempunyai imbas yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa.
Sumber http://www.tipsbelajarmatematika.com
Pembelajaran kontekstual sebagai suatu pendekatan pembelajaran mempunyai 7 (tujuh) asas. (Syaefudin, 2009:172) Asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan memakai model pembelajaran kontekstual. Komponen tersebut antara lain konstruktivisme, inkuiri, bertanya (questioning), masyarakat berguru (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), evaluasi konkret (authentic assessment).
1) Konstruktivisme
Konstruktivisme yakni proses membangun atau menyusun pengetahuan gres dalam struktur kognitif siswa menurut pengalaman. Menurut konstruktivisme, pengetahuan itu memang berasal dari luar akan tetapi dikonstruksi oleh dan dari dalam diri seseorang. Oleh alasannya yakni itu pengetahuan terbentuk oleh dua faktor penting, yaitu objek yang menjadi materi pengamatan dan kemampuan subjek untuk menginterpretasi objek tersebut. Kedua faktor itu sama pentingnya. Dengan demikian pengetahuan itu tidak bersifat statis akan tetapi bersifat dinamis, tergantung individu yang melihat dan mengonstruksinya.
2) Inkuiri
Asas kedua dalam pembelajaran kontekstual yakni inkuiri. Artinya, proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan inovasi melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Dengan demikian dalam proses perencanaan, guru bukanlah mempersiapkan materi yang harus dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa sanggup menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Belajar intinya merupakan proses mental seseorang yang tidak terjadi secara mekanis. Melalui proses mental itulah diharapkan siswa berkembang secara utuh baik intektual, mental emosional maupun pribadinya.
3) Bertanya (questioning)
Bertanya (questioning). Belajar pada hakikatnya yakni bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya sanggup dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu; sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berfikir. Dalam proses pembelajaran melalui pembelajaran kontekstual, guru tidak memberikan informasi begitu saja, akan tetapi memancing biar siswa sanggup menemukan sendiri. Oleh alasannya yakni itu tugas bertanya sangat penting, alasannya yakni melalui pertanyaan guru sanggup membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajarinya. Dalam suatu pembelajaran yang produktif aktivitas bertanya akan sangat berkhasiat untuk: (1) menggali informasi ihwal kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran; (2) membangkitkan motivasi siswa untuk belajar; (3) merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu; (4) memfokuskan siswa pada sesuatu yang diinginkan; dan (5) membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu.
4) Masyarakat berguru (learning community)
Masyarakat berguru (learning community). Dalam pembelajaran kontekstual, penerapan asas masyarakat berguru sanggup dialukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok yang anggotanya bersifat heterogen, baik dilihat dari kemampuan dan kecepatan belajarnya, maupun dilihat dari talenta dan minatnya. Biarkan dalam kelompoknya mereka saling membelajarkan; yang cepat berguru didorong untuk membantu yang lambat belajar, yang mempunyai kemampuan tertentu didorong untuk menularkannya pada yang lain.
5) Pemodelan (modeling)
Pemodelan (modeling). Maksudnya adalah, proses pembelajaran dengan memakai sesuatu pola yang sanggup ditiru oleh setiap siswa. Misalnya guru menunjukkan pola bagaimana cara mengoperasionalkan sebuah alat, atau bagaimana cara melafalkan sebuah kalimat asing, guru olahraga menunjukkan pola bagaimana cara melempar bola, guru kesenian memberi pola bagaimana cara memainkan alat musik, guru biologi menunjukkan pola bagaimana cara mengggunakan thermometer dan lain sebagainya.
Proses modelling, tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi sanggup juga guru memanfaatkan siswa yang dianggap mempunyai kemampuan. Misalnya siswa yang pernah menjadi juara dalam membaca puisi sanggup disuruh untuk menampilkan kebolehannya di depan teman-temannya, dengan demikian siswa sanggup dianggap sebagai model. Modeling merupakan asas yang cukup penting dalam pembelajaran kontekstual, alasannya yakni melalui modelling siswa sanggup terhindar dari pembelajaran yang teoretis-abstrak yang memungkinkan terjadinya verbalisme.
6) Refleksi (reflection)
Refleksi (reflection) yakni proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali insiden atau insiden pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi, pengalaman berguru itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada risikonya akan menjadi bab dari pengetahuan yang dimilikinya. Bisa terjadi melalui proses refleksi siswa akan memperbarui pengetahuan yang telah dibentuknya, atau menambah khazanah pengetahuannya dunia pendidikan.
7) Penilaian konkret (authentic assessment)
Penilaian konkret (authentic assessment) yakni proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi ihwal perkembangan berguru yang dilakukan siswa. Penilaian ini diharapkan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar berguru atau tidak; apakah pengalaman berguru siswa mempunyai imbas yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa.

No comments:
Post a Comment