Tuesday, November 21, 2017

√ Kreativitas Berguru Siswa

A. Pengertian kreativitas dan belajar
Kreativitas berdasarkan Semiawan, Conny (1990:7) ialah kemampuan untuk memperlihatkan gagasan-gagasan gres dan menetapkannya dalam pemecahan masalah. Kreativitas mencakup baik ciri-ciri kogniif (aptitude) menyerupai kelancaran, keluwesan, (fleksibelitas) dan keaslian (orisinalitas) dalam pemikiran maupun ciri-ciri afekif (non-aptitude) menyerupai rasa ingin tahu, bahagia mengajukan pertanyaan dan selalu ingin mencari pengalaman baru.




Menurut Clark Moustakas sebagaimana dikutip oleh Utami Munandar (2002:24)  dalam bukunya membangun talenta dan kreativitas anak sekolah menyatakan bahwa “Kreativitas ialah pengalaman mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas  individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, dengan alam dan orang lain.”

Kreativitas ialah kemampuan membuat kombinasi gres berdasarkan data, informasi, atau unsur-unsur yang ada. Biasanya orang mengartikan kreativitas sebagai daya cipta, sebagai kemampuan unuk membuat hal-hal yang gres sama sekali tetapi merupakan campuran (kombinasi) dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya.

Yang dimaksudkan dengan data, informasi, atau unsur-unsur yang ada, dalam arti sudah ada sebelumnya, atau sudah dikenal sebelumnya. Adalah sebuah pengalaman yang telah diperoleh seseorang selama hidupnya. Disini termasuk segala pengetahuan yang telah diperolahnya baik selama dibangku sekolah maupun diperolehnya dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Dengan demikian jelaslah bahwa semakin banyak pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki seseorang semakin banyak kemungkinan beliau memanfaatkan dan memakai segala pengalaman dan pengetahuan tersebut untuk bersibuk diri secara kreatif.

Kreativitas tidak sama dengan intelegensi, dalam arti intelegensi question (IQ), sebagaimana dituangkan dalam penelitian (research) dari tahun 1970-an dan tahun 1980-an. Kita kini juga mengetahui bahwa jenis tertentu dari keahlian pikiran divergent sanggup ditingkatkan dengan praktek dan latihan. Namun harapan “gagasan yang menghebohkan” yang sangat berkhasiat dalam memahami kreativitas yang minat pada dua puluh terakhir ialah ilham kreativitas sebagai multi intelegen (intelegen yang berlipat ganda).

Dalam mendefinisikan wacana mencar ilmu banyak orang beranggapan bahwa yang dimaksud dengan mencar ilmu ialah mancari ilmu atau menuntut ilmu, hampir semua mahir pendidikan mencoba merumusakan dan menafsirkan wacana belajar, dalam definisi sering kali rumusan itu berbeda satu sama lain.

Belajar ialah suatu proses yang selalu memperlihatkan kepada suatu proses perubahan prilaku atau eksklusif seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu.  Pendapat yang sama dikemukakan oleh Alisuf  Sobri (1995:55)  bahwa mencar ilmu ialah proses perubahan tingkah laris sebagai akhir pengalaman atau latihan.

Belajar tidak hanya mencakup mata pelajaran, tetapi juga penguasaan, kebiasaan, persepsi, kesenangan, minat, adaptasi sosial, majemuk keterampilan dan cita-cita. Namun tidak sama perubahan prilaku berarti belajar, orang yang tangannya patah lantaran kecelakaan mengubahtingkah lakunya, tetapi kehilangan tangan itu sendiri bukanlah belajar. Mungkin orang itu melaksanakan perbuatan mencar ilmu untuk mengimbangi tangannya yang hilang itu dengan mempelajari keterampilan baru. Perubahan tidak selalu harus menghasilkan perbaikan ditinjau dari nilai-nilai sosial. Seorang penjahat mungkin sekali menjadi seorang ahli, tetapi dari segi pendangan sosial hal itu bukanlah berarti perbaikan.

Menurut Hilgard dan Brower sebagaimana yang dikutip oleh Oemar Hamalik (1995:45) dalam bukunya psikologi pendidikan mereka mendefinisikan mencar ilmu sebagai perubahan dalam perbuatan melalui aktivitas, praktek dan pengalaman.

Dengan demikian sanggup dikatakan bahwa mencar ilmu ialah suatu proses perubahan tingkah laris melalui pendidikan atau lebih khusus melalui mekanisme latihan, perubahan itu sendiri berangsur-angsur dimulai dari sesuatu yang tidak diketahui atau dikenalnya untuk kemudian dikuasai atau dimilikinya dan dipergunakan hingga pada suatu ketika untuk dievaluasi oleh yang menjalani proses mencar ilmu itu.

Berdasarkan uraian wacana kreativitas dan mencar ilmu di atas, maka penulis sanggup menyimpulkan bahwa kreativitas mencar ilmu yang dimaksud ialah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh anak didik (siswa) dalam proses pembelajaran atau membuatkan segala potensi yang ada dalam dirinya baik dalam ranah kognitif, afektif, psikomotorik.

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas mencar ilmu
Pengembangan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran merupakan hal penting, lantaran jikalau kreativitas siswa tidak muncul maka proses pembelajaran tersebut akan statis, artinya tidak ada interaksi yang baik antara pendidik dan anak didik, oleh lantaran itu kita harus mengetahui dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas mencar ilmu siswa.

Kreativitas mencar ilmu dan konteks ini, berarti para siswa diperlukan bisa membuat koneksi (keterkaitan) atas diri mereka sendiri, untuk hadir dan menghasilkan kombinasi-kombinasi baru, untuk mengaplikasikan imajinasi dalam bahasa yang mereka gunakan.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas mencar ilmu berdasarkan Alisuf Sabri (1995:60) antara lain :
a) Faktor internal siswa, faktor Internal siswa adalah  yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang mencakup dua aspek, yaitu aspek fisiologis (jasmaniah) dan aspek psikologis (rohaniah), aspek fisiologis (jasmaniah)meliputi kesempurnaan fungsi seluruh panca indera terutama otak, lantaran otak ialah sumber dan menara pengontrol kegiatan tubuh manusia. Otak merupakan kesatuan system memori, sehingga insan sanggup mencar ilmu dengan cara menyerap, mengolah, menyimpan, dan memperoduksi pengetahuan dan keterampilan untuk mempertahankan dan membuatkan kehidupannya di muka bumi. Aspek psikologis (rohaniah) dalam belajar, akan memperlihatkan andil yang penting. Faktor psikologis akan senantiasa memperlihatkan landasan dan akomodasi dalam upaya mencapai tujuan mencar ilmu secara optimal. Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang sanggup mempengaruhi kuantitas dan kualitas pembelajaran siswa. Namun, diantara faktor-faktor rohaniah siswa yng dipandang lebih esensial ialah tingkat kecerdasan/ intelejensi siswa, sikap, minat, bakat, motivasi, dan kreativitassiswa. Seorang siswa akan berhasil dalam mencar ilmu kalau pada dirinya sendiri ada keinginan untuk belajar. Inilah prinsip dan hokum pertama dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran, kesatuan antara aspek fisiologis dan aspek psikologis akan membantu pelajaran.

b) Faktor eksternal siswa, faktor eksternal siswa terdiri dari dua macam, yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan non sosial, lingkungan sosial sekolah menyerupai guru, para staf administrasi, teman-teman sekelas sanggup mempengaruhi kreativitas mencar ilmu seorang siswa. Para guru yang selalu membuktikan perilaku yang simpatik dan memperlihatkan suri tauladan yang baik dan rajin khususnya dalam hal mencar ilmu contohnya rajin membaca sanggup menjadi daya dorong yang positif bagi kegiatan mencar ilmu siswa. Lingkungan sosial yang lebih mempengaruhi kegiatan mencar ilmu ialah orang bau tanah dan keluarga siswa itu sendiri. Lingkungan non sosial menyerupai gedung sekolah dan letaknya. Tempat tinggal keluarga siswa, alat belajar, waktu mencar ilmu dan cuaca, faktor-faktor ini dipandang sanggup memilih tingkat kreativitas dan keberhasilan siswa.
c) Faktor instrumental, yang terdiri dari gedung atau sarana fisik kelas, alat pengajaran, media pengajaran, guru dan kurikulum atau materi pelajaran serta seni manajemen mencar ilmu mengajar yang dipakai akan mempengaruhi proses mencar ilmu dan kreativitas mencar ilmu siswa.


Bahan Bacaan

Abi Syamsudin Makmun. 2001. Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya

Ahmad Fauzi. 1999. Psikologi Umum, Bandung: Pustaka Setia

Abu Ahmadi, 1991, Psikologi Perkembangan. Jakarta: Rineka Cipta.

Alisuf Sabri. 1995.  Psikologi Pendidikan. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya

Anna Craft. 2003. Membangun Kreativitas Anak, Depok: Inisiasi Press.

Irwanto, 2002. Psikologi Umum. Jakarta: Prenhallindo,

Kartini Kartono. 1995. Psikologi Anak “Psikologi Perkembangan” Bandung: Mandar Maju

Semiawan, Conny, Dkk., 1990. Memupuk Bakat Dan Kreativitas Siswa Di Sekolah Menengah. Jakarta: Graha Media

Surnadi Suryabrata. 1984. Psikologi Pendidikan, Jakarta: Grafindo Persada

Samsunuwiyati Mar’at. 2005. Psikologi Mengajar, Bandung: Remaja Rosdakarya

Syamsu Yusuf. 2006. Psikologi Anak Dan Remaja, Bandung: Remaja Rosdakarya

Utami Munadar. 2002. Mengembangkan Bakat Dan Kreativitas Anak Sekolah, Jakarta: Geramedia Widia Sarana.

Oemar Hamalik. 1995. Psikologi Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosdakarya


Zulkifli, 1995. Psikologi Perkembangan, Bandung: Remaja Rosdakarya





= Baca Juga =




Sumber http://www.tipsbelajarmatematika.com

No comments:

Post a Comment

Laptop Graphic Terbaik Untuk Desain Grafis 2014

Mereview Laptop Desain Grafis tahun 2014 OPOSIP - Ketika saya bekerja dari rumah saya mempunyai sebuah PC yang didedikasikan yang sang...